By: M. Ridwan
Perjalanan syari'at Tuhan di muka bumi bak kisah roman cinta. Penuh perjuangan, berurai air mata, pengkhianatan, darah dan kesetiaan.
Para nabi yang membawa syariat selalu mendapat penentangan dengan berbagai alasan. Ada yang khawatir kekuasaan terancam, misalnya Fir'aun yang menentang Musa, Namrudz terhadap Ibrahim atau kaum elite Mekkah terhadap Muhammad. Alasan politis-lah.
Ada yang menentang karena nyaman dengan dosa. Contohnya, kaum Syu'aib yang nyaman tipu-menipu dalam bisnis, umat Luth yang pro LGBT, atau kaum Quraisy yang nyaman menyembah berhala dan makan riba.
Apakah mereka bodoh alias tidak cerdas?
Tentu saja tidak.
Kaum penentang nabi justru pintar-pintar.
Kurang hebat apa kaum Ad? Mereka jago arsitek. Gunung saja mampu mereka pahat menjadi rumah. Tanpa pakai software Adobe 3D lho.
Kurang canggih apa kaum Mesir yang mampu membangun piramid dan Spinx tanpa bantuan alat canggih dan crane. Sampai kini, para ahli masih bingung bagaimana membuatnya.
Atau, siapa bilang kaum kafir Jahiliyyah itu bodoh?. Mereka pintar banget.
Mereka jago dagang, astronomi, pengobatan dan tentunya jago puisi dan bersyair. Puisinya saja yang sering nyeleneh. Lalu dimana kebodohan mereka?
Nah, disitulah problemnya, dan bisa terjadi dengan manusia Jaman Now.
Ternyata,
Kecerdasan tak selalu seiring dengan kemampuan melihat kebenaran. Kemampuan intelektual tak menjamin bahwa seseorang automatically bisa tahu right or wrong. Mengapa?
Karena gengsi dan memperturutkan nafsu.
Benar, gengsi itu jadi penghambat menerima kebenaran.
Dulu, kaum Yahudi yakin akan kedatangan Nabi setelah Musa, Daud atau Isa. Namun, mereka yakin bahwa nabi itu datang dari kaum Israel. Maklum, mereka sudah lama menganggap dirinya sebagai kaum terpilih. Chosen people. Merasa hebat dan besar kepala.
Maka, ketika nabi Muhammad datang, mereka kaget bukan kepalang. Mereka heran, kok, Tuhan tidak memilih nabi dari Israel ya?. Kok, justru dari bangsa Arab yang second class?.
Look, gara-gara itu mereka ngak mau menerima ajaran Muhammad. Takut nama besar Israel jatuh. Makanya, mereka kini sibuk membongkar Mesjidil Aqsa. Harapannya akan ketemu Tabut Sulaiman. Kalau ketemu, mereka akan mendirikan Haikal Sulaiman. Mereka ingin mengulang kisah epik Daud ketika mengalahkan Goliat dan Sulaiman ketika menguasai bumi. Romantika sejarah ya?.
Berarti, penolakan mereka bukan karena kebenaran, bukan?. It's a matter of GENGSI, bro...
Nah, semua pra kondisi dahulu ternyata terjadi kini.
Bedanya, kini syari'at sudah ada. Tinggal melaksanakannya saja. Namun, karena gengsi, takut hegemoni terganggu atau merasa nyaman, maka syari'at pun ditolak.
Padahal, ngak ada yang aneh dengan istilah syari'at. Kalau sungkan, pakai saja istilah ajaran Tuhan. Tujuan Tuhan supaya manusia tidak terjerumus. Maka, dilarang ini itu. Untuk menyelalamatkan manusia, bukan menyelamatkan Tuhan.
Misal,
Tuhan melarang minuman keras supaya akal manusia tidak rusak.
Tapi, manusia tetap bandel. Ditenggak juga miras itu. Pakai oplosan pula. Manusia mencpba memakai logika membenarkannya. Misal, untuk kepentingan pajak-lah, untuk bule dan turis-lah, karena cuaca-lah. Macem-macem. Padahal, ujung-ujungnya tetap mabok. Ketika pabrik ditutup lantas manusia bilang, "Lu, sok suci...!!!".
Maka, kalau ada yang tewas dan berbuat jahat karena mabuk, salah siapakah? Salah manusia bukan?. Bukan salah Tuhan, bukan salah syari'at Tuhan.
Semua syari'at melarang riba dan transaksi spekulasi, judi dan penipuan.
Tapi kini, transaksi keuangan berbasis riba menjadi makanan sehari-hari. Dikemas dengan teknologi dan menjadi ukuran prestise cara mencari uang. Salah syari'atkah yang tidak akomodatif?
Contoh lain..
Manusia dilarang Tuhan membuka aurat. Supaya terjaga kehormatan manusia. Supaya gak sama dengan dengan hewan dan makluk tak berakal.
Maka, kaum Muslimahpun menggunakan jilbab, atau cadar. Bahkan, tidak hanya muslimah. Beberapa penganut agama lain juga menggunakan penutup kepala bagi perempuannya.
Lalu, manusia Jaman Now pun berkreasi, membuka aurat, membuat bikini, dan pakaian aneh lainnya. Anehnya, semua perempuan yang mengaku beragama ramai-ramai membuka auratnya. Alasannya, "Kuno kalau pakai penutup, gak gaul. Katanya, "Ada unsur keindahan ketika buka-bukaan". Padahal, mereka gak sadar korban film dan produsen fashion, bukan?".
Lagi-lagi, akal mengalahkan syari'at. Manusia, ramai-ramai menginjak ajaran Tuhan. Tega ya?
Syariat bertujuan menjaga keturunan.
Maka dilarang perzinaan atau prostitusi. Semua agama melarang. Tapi, manusia Jaman Now mungkin gak peduli. Selalu dicari pembenaran. Bahkan terkaget-kaget ketika ada yang menutup lokalisasi atau hotel yang punya bisnis seperti itu. Katanya, cari sensasi dan pencitraan saja. Lho..?
Manusia Jaman Now seharusnya lebih cerdas menggunakan logika dan hati.
Ketimbang sibuk membuat ajaran baru, atau mengobok-oboknya, mengapa tidak mengkaji syari'at lebih mendalam?.
Syaratnya, pilihlah syariat versi terbaru yang paling sesuai jaman. Jangan gengsi mengakui. Kalau perlu di test saja terus-menerus.
Bagi umat Islam, berbahagialah,
Sejarah membuktikan bahwa syariat Islam adalah versi terakhir dan paling sempurna. Mengakomodir semua syari'at yang pernah ada. Fitur ajarannya sangat detail. All In One Syariat...
Ada Alquran, kitab suci yang sudah teruji keasliannyan. Stress Test atasnya selalu berhasil sempurna.
Ada pula tafsir. Penjelasan Alquran. Ratusan banyaknya.
Ada panduan tata cara mengambil hukum, tidak asal catut dan atau hasil googling semata.
Dan, tentunya ada pula hadis nabi yang secara turun temurun diriwayatkan secara lisan dan tulisan. Sehingga, kita gak kerepotan lagi bagaimana mengamalkan Alquran.
Syariat Islam terjaga begitu ketatnya. Kurang apa lagi?. Laksanakan saja syari'at itu dengan ikhlas. Kalau tidak paham, minta ilmu kepada ulama. Syari'at itu tanda cinta Tuhan kepada manusia. Supaya enak hidup di dunia.
Kalaupun, ada yang menjadi penghambat atau barrier menolak syari'at tentunya pasti karena masalah logika atau gengsi. Atau, karena kepentingan manusia yang merasa terganggu. Bisa juga karena nafsu yang terkekang. Yakinlah, nafsu itu selalu punya kecendrungan negatif, beware of it..
So, be honest lah. Jujur saja.
Listen to tour heart.
Bertanyalah, belajarlah dan berdoalah.
Tuhan akan memberi petunjuk, jalan mana yang benar dan salah.
Wallahu a'lam.


0 Comments