Publik di Indonesia kaget, kecewa dan tentunya bertanya-tanya. Pasalnya, seorang ibu -bukan dengan latar belakang sastrawan pula- menulis sebuah puisi yang cukup kontroversial. Di dalam puisi itu mempertentangkan antara Konde Vs Cadar serta Kidung Ibu vs Azan.
Bayangkan, ia menyatakan bahwa suara "Kidung" (nyanyian) ibu yang didengarnya jauh lebih merdu ketimbang suara azan, termasuk juga pernyataan bahwa "Konde" (khas hiasan di kepala wanita Indonesia) itu lebih baik dari "Cadar".
Teman-teman akademisi menyebutnya sebagai perbandingan yang tidak apple to apple yaitu membandingkan sesuatu dari genus yang berbeda sehingga tidak bisa menjadi rujukan mencari kebenaran. Kalangan sastrawan dan penyair bahkan menyebutnya sebagai puisi yang sembrono dan salah kaprah. Mereka mengakui bahwa puisi itu jelek secara kualitas, sembrono dan tidak peka karena mengungkit masalah SARA.
Kalangan pengamat Islam menyebut si ibu mengidap Islamphobia (ketakutan tak beralasan terhadap Islam).Ujungnya, beberapa pihak melaporkan si ibu ke polisi karena dianggap sebagai melecehkan agama Islam. Pribahasa, mulutmu adalah harimau mu betul-betul terbukti dalam kejadian ini. Si Ibu mungkin tidak belajar dari banyak peristiwa di negeri ini ya. Tak pernah kapok. Prihatinlah.
Saya menyebut tindakan si Ibu, sebagai tindakan yang justru menodai keberadaan Kidung Indonesia dan Konde itu sendiri. Menjatuhkan harga diri Kidung dan Konde, lho.
Apalah salahmu Duhai Kidung Indonesia?
Padahal, kidung Indonesia itu indah-indah, lho. Tidak hanya di Pulau Jawa, hampir semua daerah memiliki Kidung yang khas. Main-mainlah ke Sulawesi, Kalimantan, atau Jawa. Kidung-kidung inikah yang dimaksud lebih indah dari azan?
Kalau mampir ke Yogya, saya suka mendengarkan tembang diiringi musik Jawa, sayup-sayup di malam hari, entah dari mana asalnya. Sangat indah dan pesannya pun sarat makna. Di pagi harinya kita akan dibangunkan oleh alunan azan dari mesjid Gedhe Kauman yang juga syahdu. Tak ada yang salah dengan Kidung dan Azan, bukan?. Memamg ada sih, beberapa kejadian, ada orang yang kesurupan ketika azan berkumandang. Biasanya setelah dirukyah mereka akan normal kembali.
Apakah salahmu kidung Indonesia, kok dipertentangkan dengan azan?
Padahal kita sering memperdengarkan, Dodoi si Dodoi, Kidung pengatar tidur anak yang terkenal itu. Namun, di pagi harinya anak-anak kita dengan mudah terjaga dari tidurnya ketika suara azan berkumandang. Apakah mereka pernah protes dengan azan?
Oh ya,
Konde juga tidak bersalah lho.
Beberapa ibu pemakai konde yang saya kenal tidak pernah merasa terusik dengan hijab dan cadar. Toh, ketika sholat pemakai konde itu tidak keberatan memakai mukena, tertutup. Emang, ada orang yang sholat memakai konde?. Mungkin bagi pemakai konde yang jarang atau tidak pernah memakai mukena ya.
Padahal, ada aura positif ketika memakai mukena, hjab dan cadar. Eksprimen di luar negeri terhadap non muslim yang memakai hijab membuktikan hal ini. Apakah sudah ada penelitian terkait kondekah?
Maka, perbandingan yang dibuat oleh si ibu sebuah hal yang naif. Meskipun atas nama seni dan sastra. Wong, banyak seniman yang justru tidak objektif dengan hati dan jiwanya bukan?
Saya mencoba mengkaitkan hal ini dengan tulis-menulis saja ya...
Seorang penulis sangat banyak dipengaruhi kondisi batin dan pikirannya. Makanya, ia harus benar-benar memperhatikan kondisi jiwa dan mentalnya ketika menorehkan kata demi kata di atas kertas atau layar komputernya.Konteks yang melingkupinya berpengaruh terhadap hasil tulisan dan berbeda pula makna ketika diucapkan.
Misal, ketika penulis dalam keadaan lapar.
Maka kemungkinan tulisannya akan banyak terpengaruh dengan kondisi lapar ini. Idenya mungkin akan banyak didominasi oleh keadaan lapar tadi. Mungkin saja ia akan menulis tentang kuliner, fenomena kelaparan, harga bahan pokok yang naik atau kebijakan pemerintah tentang harga pangan dan harga sembako. Pokonya, multiplier efek, lho. Silahkan buktikan saja.:)
Atau, ketika penulis dalam keadaan marah. Ini sering kita lihat di media sosial.
Ia akan terpengaruh menulis sesuatu yang juga akan menyulut amarah orang. Mungkin ia akan gampang berpikiran pendek dan tentunya susah diberi masukan. Si penulis akan mem-bully dan emosial terus.
Beberapa penulis yang saya kenal memulai aktifitas menulisnya,sehabis sholat subuh atau setelah sholat tahajjud. Katanya supaya jiwa dan emosinya stabil. Setelah sholat dan mengaji, mereka mulai menulis kata demi kata. Pengakuan mereka, inspirasinya mengalir tak henti. Aroma tulisannya pun harum, jauh dari arogansi, penistaan agama dan enak dibaca. Pokoknya, sesuatu banget lah.
Ada juga penulis yang melakukannya di alam terbuka. Misalnya, di tepi pantai atau pegunungan. Kata mereka, insirasi akan muncul karena medan ion negatif yang tinggi yang ada di alam akan mempengaruhinya. Selain bagus untuk kesehatan, ion ini juga baik untuk tempat mencari inspirasi.
The question is...
Bagaimana ya kondisi si ibu tadi ketika menuliskan kata demi kata dalam puisinya?.
Apakah si ibu berada di pantai, gunung, atau dilakukan setelah sholat ?
Wallahu a'lam.
Bagaimanapun keadaanya, namun, saya yakin, ia menulis puisi itu pasti tidak dalam keadaan memakai cadar dan mendendangkan azan, pasti bukan?
Moga ibu-ibu negeri ini, pemakai konde dan pelantun kidung Indonesia disayangi Tuhan selalu. Amin.
http://www.mridwancenter.com/2018/04/kidung-ibu-yang-ternoda.html


0 Comments