By: M. Ridwan
Kita tinggalkan sejenak polemik tentang Konde dan Kidung Ibu, ya
termasuk bagaimana proses hukum dan permintaan kemaafan dari si Ibu.
Kita lupakan pula bagaimana serunya Tim Pilkada atau Tim Pilpres yang sedang "berjihad" di Medan Opini dan Imej termasuk -mungkin- persaingan saling jegal dan serang.
Untuk hari Senin yang cerah ini, bagaimana kalau kita fokus membedah pengertian "Syariat Islam" yang turut serta dimasukkan dalam puisi Kidung yang menghebohkan minggu lalu?.
Mau nanya saja sih.
Ketika disebutkan "Syariat Islam" maka, apa yang terbayang?
Apakah terbayang cambuk, atau hukum qishash di Arab?
Apakah terbayang tentang jilbab atau cadar?
Atau, apakah terbayang dengan Arab Saudi dan negara-negara Arab lain yang sedang berperang dan berdarah-darah?
Nah, kalau persepsi itu yang muncul, artinya, pengertian syariat yang kita pahami mungkin masih sebatas TAMPILAN dan tentu bukan secara substantif.
Lalu, apa pula syariat Islam secara substantif itu?
Untuk memahami syariat, maka saya harus cerita dulu nih, yaitu tentang asal muasal manusia di bumi. Caile.....
Awalnya, Allah menciptakan manusia dalam bentuk yang sempurna mengalahkan malaikat dan jin. (Karena sempurna, kita bisa selfie dan pajang photo di IG, bukan?).
Untuk tempat tinggal, Adam (yang merupakan manusia pertama) mendapat kemulian tinggal di surga. Segala fasilitas tersedia. Mau makan dan minum tinggal ambil. Tanpa ada rasa bosan dan galau. Pokoknya, enak teunan.
Syaratnya cuma satu yaitu jangan mendekati apalagi memakan buah bernama Khuldi. Kenapa? hanya Allah yang tahu rahasianya. Pokoknya, jangan didekati.
Sayang, kepercayaan yang diberikan Allah kepada Adam, diingkari. Ia tergoda bujukan Iblis dan memakan buah itu, bersama isterinya, Hawa.
Akibatnya fatal. Meski taubatnya diterima, namun mereka berdua dicampakkan ke bumi. Mereka merasakan panas dingin cuaca, lapar dan haus termasuk suka dan duka serta gejolak emosi batin, baper dan illfeel. Pokoknya, seperti kita saat ini. Lengkap...
:)
Nah, ketika di bumi ini, Allah mewajibkan manusia mengikuti prosedur hidup di bumi.
Masuk akal dong,
Toh Dia yang menciptakan bumi. Tentu Dia Paling Tahu apa saja yang harus dilakukan manusia dan apa yang berbahaya.
Allah Paling Tahu bagaimana cara manusia menggunakan fasilitas yang diberikannya-Nya. Tujuan-Nya supaya manusia tidak tersesat, untuk kali kedua.
Betapa Allah sangat menyayangi manusia, bukan?. Keyakinan ini tentu berbeda dengan keyakinan sebagian kalangan yang mengatakan bahwa manusia itu makhluk yang penuh dosa karena pembangkangan itu. Tidak, manusia itu suci ketika dilahirkan. Bapak dan Ibunya yang membawanya ke jalan sesat.
Nah, tatacara inilah yang disebut dengan syariat. Tepatnya Syariat Allah.
Artinya, ketentuan yang yang diatur Allah untuk mengarahkan manusia mengikuti jalan yang dikehendaki-Nya.
Dengan syariat ini, Allah mengajari manusia cara hidup dan bagaimana kembali kepada-Nya dengan benar, termasuk cara menghindari jebakan Iblis yang telah berhasil menipu Adam dan Hawa ketika di surga. Allah memberikan bimbingan.
Syariat ini berganti sesuai dengan kondisi jaman dan waktu.
Maka, ada syariat Nabi Adam, Nabi Nuh, Musa, Daud, sampai kepada Syariat Nabi Isa.
Untuk mengukuhkan syariat, biasanya Allah menurunkan pula kitab suci. Yah, miriplah seperti Manual Book pada perangkat smartphone. Kendati, tidak semua nabi memiliki kitab ini.
Syariat yang terakhir adalah syariat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Syariat ini sekaligus menutup dan menyempurnakan syariat nabi-nabi sebelumnya. Locked dan unwritable. Sudah dikunci dan tidak bisa dikotak-katik lagi. Sempurna.
Untuk memudahkan pemahaman tentang syariat ini, maka bayangkan saja sebuah smartphone ya.
Katakanlah merek Iphone.
Dari waktu ke waktu, versi Iphone berganti. Buanyakkkkk. Sampai dengan versi terakhir yaitu Iphone X yang diluncurkan di Singapura tahun 2017 lalu. Kebetulan, saya berada di negera ini ketika Iphone versi ini diluncurkan..Hebohlah....
Produsen Iphone menyesuaikan dengan kebutuhan konsumen berdasarkan waktu dan kondisi. Mereka meng-upgrade operating system, menambah fitur dan memperindahnya. Ada juga fitur lama yang dipakai, namun banyak yang ditinggalkan.
Syariat juga begitu.
Misal, syariat Allah untuk Nabi Isa dimana Ia mewajibkan puasa dan sholat juga.
Bedanya, sholat pada masa Nabi Isa dilakukan di dalam mihrab atau tempat tertentu. Bahkan, tanah yang kita injak dianggap tidak suci sehingga tidak bisa dijadikan alat tayammum.
Ketika Nabi Muhamamd datang, syariat sholat ini ini di-upgrade, sehingga sholat boleh dilakukan dimanapun dan tanah dianggap suci asal saja terhindar dari najis. Kelihatan upgrade-nya, bukan?.
Contoh syariat yang lain.
Sholat pada jaman Nabi Sulaiman (Solomon) disyariatkan hanya terbatas pada sholat Asar saja.
Nah, pada masa Nabi Muhammad, kewajiban sholat adalah lima kali sehari semalam. Lebih banyak ya?, karena banyak manfaatnya.
Contoh lain.
Syariat Nabi Musa dan Isa melarang riba. Pelakunya dikutuk. Dosanya berlipat-lipat.
Nah, di syariat Nabi Muhammad, riba semakin dilarang. Manusia masa kini saja yang tidak peduli lagi
:).
Sehingga,...
Tidak ada yang aneh dengan syariat yang dibawa nabi Muhammad. Justru syariat yang dibawanya adalah versi terakhir, paling canggih dan lengkap fiturnya. Keren sekali...harus bangga dong. Sama dengan bahagia dan bangganya kita menenteng gagdet terbaru..gimana gitu.
Untuk memudahkan penamaan, maka syariat yang dibawa Nabi Muhammad sering disebut dengan Syariat Islam, saja. Kendati sebenarnya, penyebutan Islam juga dilabelkan kepada semua syariat yang dibawa nabi dan rasul di atas.
Islam artinya menyerahkan diri dan semua syariat mengajarkan sikap ber-Islam (atau menyerahkan diri kepada Allah). Kaget kan? ternyata semua nabi adalah muslim.
Semua nabi mengajarkan ketundukan kepada Tuhan Yang Esa (Monotheis). Tidak ada syariat yang mengajarkan Tuhan Yang Berbilang (Polytheis) atau Dewa-Dewa. Semua syariat mengajarkan bahwa Tuhan tidak beranak dan tidak pula diperanakkan.
So, mengapa aneh dengan syariat Islam?. Atau, mengapa masih ada orang merasa risih dengan syariat. Toh itu adalah produk nyata dari jaman kok.
Bagi yang mengaku beragama, apapun agamanya, pasti tidak lepas dari syariat lho, alias melaksanakan suruhan Tuhan. Cuma, kita tidak tahu, ia pakai syariat yang mana, dan versi tahun berapa.
Mungkin, ada yang memakai versi Adam (5872-4942 SM), versi Idris (4533-4188 SM), versi Nuh (3933-3043 SM), versi Hud (2450-2320 SM), versi Shalih (2150-2080 SM), versi Ibrahim (1997-1822 SM), versi Musa (1527-1407 SM), versi Daud (1041-971 SM), versi Isa (1 SM-31 M), atau versi terakhir yaitu Muhammad (571-632 M).Who knows?
Kalau saya sih, tentu akan memilih versi terakhir yaitu syariat yang dibawa Nabi Muhamamad (571-632 M). Ya, syariat Islam itu..
Saja akan pilih versi terakhir saja dan penutup syariat. Bagi saya, lebih aman dan menentramkan. Dalam syariat Islam banyak ajaran yang telah disaring dan dimurnikan. Kitab sucinya bebas dari kreasi tangan manusia. Genuine dan tidak bisa dipalsukan. Bukan barang KW. Kurang apalagi?.
Sama seperti Anda, saya pasti pilih smartphone terbaru dan tercanggih, bukan?.
Kalau untuk urusan dunia saja kita pilih perangkat terbaru dan tercanggih, konon pula untuk urusan dunia akhirat. Tentulah kita harus pilih yang benar-benar canggih dan paling genuine alias asli.
Jangan main-mainlah...
Makanya, kalau ada yang mengatakan belum tahu syariat Islam ya belajar...
Mungkin, ia belum tahu bahwa ada banyak kekurangan dari syariat sebelum Islam.
Mungkin ia belum tahu bahwa syariat sebelum Muhammad juga mengajarkan untuk menutup aurat, mengajak orang menyembah Tuhan (azan) dan mengajak menyembah Tuhan yang satu.
Bagi yang belum paham syariat,
Silahkan baca kisah Nabi Muhammad dan pelajari Alquran atau hadis. Itu adalah sumber syariat Islam. Banyak sekali sumber ilmu terkait syariat Islam di atas bumi ini. Lengkap dan jangan malu menuntut ilmu. Toh, fitur Iphone saja banyak yang masih belum kita pahami.
Demikian juga, kalau ada yang risih dengan syariat Islam yang dibawa Nabi Muhammad berarti bisa jadi, dia masih memakai syariat Nabi yang lama atau, jangan-jangan dia tidak mengakui ada syariat di muka bumi? Dia pakai versi apa ya? Jangan-jangan, versi buatan manusia pula. Jangan-jangan, ia adalah korban iklan yang salah. Gimana?
Nah, kalau yang terakhir yang dipilih maka berhati-hatilah....
Karena, harus diingat, bahwa di atas bumi, bukan hanya ada manusia dan malaikat. Iblis juga ada, lho.
Iblis tidak rela manusia mengikuti syariat sebenarnya, yaitu syariat Islam. Ia ingin menjerumuskan manusia dengan "syariat versinya sendiri, yaitu SYARIAT IBLIS".
Makanya, ia menyuruh tidak sholat, malas menutup aurat, risih dengan azan, rizih dengan puasa, suka makan riba, berzina, mencuri, fitnah, dsb.
Berhati-hatilah.... Jangan-jangan, tanpa kita sadari syariat versi ini yang kita pilih.
For Facebookers..
Pilih Syariat versi mana nih?
Selamat mengaji dan mengopi sore,...
Wallahu a'lam
Kita lupakan pula bagaimana serunya Tim Pilkada atau Tim Pilpres yang sedang "berjihad" di Medan Opini dan Imej termasuk -mungkin- persaingan saling jegal dan serang.
Untuk hari Senin yang cerah ini, bagaimana kalau kita fokus membedah pengertian "Syariat Islam" yang turut serta dimasukkan dalam puisi Kidung yang menghebohkan minggu lalu?.
Mau nanya saja sih.
Ketika disebutkan "Syariat Islam" maka, apa yang terbayang?
Apakah terbayang cambuk, atau hukum qishash di Arab?
Apakah terbayang tentang jilbab atau cadar?
Atau, apakah terbayang dengan Arab Saudi dan negara-negara Arab lain yang sedang berperang dan berdarah-darah?
Nah, kalau persepsi itu yang muncul, artinya, pengertian syariat yang kita pahami mungkin masih sebatas TAMPILAN dan tentu bukan secara substantif.
Lalu, apa pula syariat Islam secara substantif itu?
Untuk memahami syariat, maka saya harus cerita dulu nih, yaitu tentang asal muasal manusia di bumi. Caile.....
Awalnya, Allah menciptakan manusia dalam bentuk yang sempurna mengalahkan malaikat dan jin. (Karena sempurna, kita bisa selfie dan pajang photo di IG, bukan?).
Untuk tempat tinggal, Adam (yang merupakan manusia pertama) mendapat kemulian tinggal di surga. Segala fasilitas tersedia. Mau makan dan minum tinggal ambil. Tanpa ada rasa bosan dan galau. Pokoknya, enak teunan.
Syaratnya cuma satu yaitu jangan mendekati apalagi memakan buah bernama Khuldi. Kenapa? hanya Allah yang tahu rahasianya. Pokoknya, jangan didekati.
Sayang, kepercayaan yang diberikan Allah kepada Adam, diingkari. Ia tergoda bujukan Iblis dan memakan buah itu, bersama isterinya, Hawa.
Akibatnya fatal. Meski taubatnya diterima, namun mereka berdua dicampakkan ke bumi. Mereka merasakan panas dingin cuaca, lapar dan haus termasuk suka dan duka serta gejolak emosi batin, baper dan illfeel. Pokoknya, seperti kita saat ini. Lengkap...
Nah, ketika di bumi ini, Allah mewajibkan manusia mengikuti prosedur hidup di bumi.
Masuk akal dong,
Toh Dia yang menciptakan bumi. Tentu Dia Paling Tahu apa saja yang harus dilakukan manusia dan apa yang berbahaya.
Allah Paling Tahu bagaimana cara manusia menggunakan fasilitas yang diberikannya-Nya. Tujuan-Nya supaya manusia tidak tersesat, untuk kali kedua.
Betapa Allah sangat menyayangi manusia, bukan?. Keyakinan ini tentu berbeda dengan keyakinan sebagian kalangan yang mengatakan bahwa manusia itu makhluk yang penuh dosa karena pembangkangan itu. Tidak, manusia itu suci ketika dilahirkan. Bapak dan Ibunya yang membawanya ke jalan sesat.
Nah, tatacara inilah yang disebut dengan syariat. Tepatnya Syariat Allah.
Artinya, ketentuan yang yang diatur Allah untuk mengarahkan manusia mengikuti jalan yang dikehendaki-Nya.
Dengan syariat ini, Allah mengajari manusia cara hidup dan bagaimana kembali kepada-Nya dengan benar, termasuk cara menghindari jebakan Iblis yang telah berhasil menipu Adam dan Hawa ketika di surga. Allah memberikan bimbingan.
Syariat ini berganti sesuai dengan kondisi jaman dan waktu.
Maka, ada syariat Nabi Adam, Nabi Nuh, Musa, Daud, sampai kepada Syariat Nabi Isa.
Untuk mengukuhkan syariat, biasanya Allah menurunkan pula kitab suci. Yah, miriplah seperti Manual Book pada perangkat smartphone. Kendati, tidak semua nabi memiliki kitab ini.
Syariat yang terakhir adalah syariat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Syariat ini sekaligus menutup dan menyempurnakan syariat nabi-nabi sebelumnya. Locked dan unwritable. Sudah dikunci dan tidak bisa dikotak-katik lagi. Sempurna.
Untuk memudahkan pemahaman tentang syariat ini, maka bayangkan saja sebuah smartphone ya.
Katakanlah merek Iphone.
Dari waktu ke waktu, versi Iphone berganti. Buanyakkkkk. Sampai dengan versi terakhir yaitu Iphone X yang diluncurkan di Singapura tahun 2017 lalu. Kebetulan, saya berada di negera ini ketika Iphone versi ini diluncurkan..Hebohlah....
Produsen Iphone menyesuaikan dengan kebutuhan konsumen berdasarkan waktu dan kondisi. Mereka meng-upgrade operating system, menambah fitur dan memperindahnya. Ada juga fitur lama yang dipakai, namun banyak yang ditinggalkan.
Syariat juga begitu.
Misal, syariat Allah untuk Nabi Isa dimana Ia mewajibkan puasa dan sholat juga.
Bedanya, sholat pada masa Nabi Isa dilakukan di dalam mihrab atau tempat tertentu. Bahkan, tanah yang kita injak dianggap tidak suci sehingga tidak bisa dijadikan alat tayammum.
Ketika Nabi Muhamamd datang, syariat sholat ini ini di-upgrade, sehingga sholat boleh dilakukan dimanapun dan tanah dianggap suci asal saja terhindar dari najis. Kelihatan upgrade-nya, bukan?.
Contoh syariat yang lain.
Sholat pada jaman Nabi Sulaiman (Solomon) disyariatkan hanya terbatas pada sholat Asar saja.
Nah, pada masa Nabi Muhammad, kewajiban sholat adalah lima kali sehari semalam. Lebih banyak ya?, karena banyak manfaatnya.
Contoh lain.
Syariat Nabi Musa dan Isa melarang riba. Pelakunya dikutuk. Dosanya berlipat-lipat.
Nah, di syariat Nabi Muhammad, riba semakin dilarang. Manusia masa kini saja yang tidak peduli lagi
Sehingga,...
Tidak ada yang aneh dengan syariat yang dibawa nabi Muhammad. Justru syariat yang dibawanya adalah versi terakhir, paling canggih dan lengkap fiturnya. Keren sekali...harus bangga dong. Sama dengan bahagia dan bangganya kita menenteng gagdet terbaru..gimana gitu.
Untuk memudahkan penamaan, maka syariat yang dibawa Nabi Muhammad sering disebut dengan Syariat Islam, saja. Kendati sebenarnya, penyebutan Islam juga dilabelkan kepada semua syariat yang dibawa nabi dan rasul di atas.
Islam artinya menyerahkan diri dan semua syariat mengajarkan sikap ber-Islam (atau menyerahkan diri kepada Allah). Kaget kan? ternyata semua nabi adalah muslim.
Semua nabi mengajarkan ketundukan kepada Tuhan Yang Esa (Monotheis). Tidak ada syariat yang mengajarkan Tuhan Yang Berbilang (Polytheis) atau Dewa-Dewa. Semua syariat mengajarkan bahwa Tuhan tidak beranak dan tidak pula diperanakkan.
So, mengapa aneh dengan syariat Islam?. Atau, mengapa masih ada orang merasa risih dengan syariat. Toh itu adalah produk nyata dari jaman kok.
Bagi yang mengaku beragama, apapun agamanya, pasti tidak lepas dari syariat lho, alias melaksanakan suruhan Tuhan. Cuma, kita tidak tahu, ia pakai syariat yang mana, dan versi tahun berapa.
Mungkin, ada yang memakai versi Adam (5872-4942 SM), versi Idris (4533-4188 SM), versi Nuh (3933-3043 SM), versi Hud (2450-2320 SM), versi Shalih (2150-2080 SM), versi Ibrahim (1997-1822 SM), versi Musa (1527-1407 SM), versi Daud (1041-971 SM), versi Isa (1 SM-31 M), atau versi terakhir yaitu Muhammad (571-632 M).Who knows?
Kalau saya sih, tentu akan memilih versi terakhir yaitu syariat yang dibawa Nabi Muhamamad (571-632 M). Ya, syariat Islam itu..
Saja akan pilih versi terakhir saja dan penutup syariat. Bagi saya, lebih aman dan menentramkan. Dalam syariat Islam banyak ajaran yang telah disaring dan dimurnikan. Kitab sucinya bebas dari kreasi tangan manusia. Genuine dan tidak bisa dipalsukan. Bukan barang KW. Kurang apalagi?.
Sama seperti Anda, saya pasti pilih smartphone terbaru dan tercanggih, bukan?.
Kalau untuk urusan dunia saja kita pilih perangkat terbaru dan tercanggih, konon pula untuk urusan dunia akhirat. Tentulah kita harus pilih yang benar-benar canggih dan paling genuine alias asli.
Jangan main-mainlah...
Makanya, kalau ada yang mengatakan belum tahu syariat Islam ya belajar...
Mungkin, ia belum tahu bahwa ada banyak kekurangan dari syariat sebelum Islam.
Mungkin ia belum tahu bahwa syariat sebelum Muhammad juga mengajarkan untuk menutup aurat, mengajak orang menyembah Tuhan (azan) dan mengajak menyembah Tuhan yang satu.
Bagi yang belum paham syariat,
Silahkan baca kisah Nabi Muhammad dan pelajari Alquran atau hadis. Itu adalah sumber syariat Islam. Banyak sekali sumber ilmu terkait syariat Islam di atas bumi ini. Lengkap dan jangan malu menuntut ilmu. Toh, fitur Iphone saja banyak yang masih belum kita pahami.
Demikian juga, kalau ada yang risih dengan syariat Islam yang dibawa Nabi Muhammad berarti bisa jadi, dia masih memakai syariat Nabi yang lama atau, jangan-jangan dia tidak mengakui ada syariat di muka bumi? Dia pakai versi apa ya? Jangan-jangan, versi buatan manusia pula. Jangan-jangan, ia adalah korban iklan yang salah. Gimana?
Nah, kalau yang terakhir yang dipilih maka berhati-hatilah....
Karena, harus diingat, bahwa di atas bumi, bukan hanya ada manusia dan malaikat. Iblis juga ada, lho.
Iblis tidak rela manusia mengikuti syariat sebenarnya, yaitu syariat Islam. Ia ingin menjerumuskan manusia dengan "syariat versinya sendiri, yaitu SYARIAT IBLIS".
Makanya, ia menyuruh tidak sholat, malas menutup aurat, risih dengan azan, rizih dengan puasa, suka makan riba, berzina, mencuri, fitnah, dsb.
Berhati-hatilah.... Jangan-jangan, tanpa kita sadari syariat versi ini yang kita pilih.
For Facebookers..
Pilih Syariat versi mana nih?
Selamat mengaji dan mengopi sore,...
Wallahu a'lam


0 Comments