Dunia di Persimpangan Jalan: Masa Depan Moneter dan Peluang Moneter Islam


By : M. Ridwan

Beberapa hari ini dunia terasa seperti sedang berdiri di persimpangan jalan. Konflik geopolitik meningkat, perang dagang belum benar-benar selesai, teknologi AI berkembang sangat cepat, sementara ekonomi global masih dibayangi ketidakpastian.

Di tengah situasi itu, pertemuan antara Xi Jinping dan Donald Trump kembali menarik perhatian dunia. Xi bahkan mengatakan bahwa China dan Amerika “seharusnya menjadi mitra, bukan rival”. Pernyataan ini sebenarnya bukan sekadar diplomasi biasa. Ada kekhawatiran besar yang sedang menghantui dunia: apakah hubungan Amerika dan China akan masuk ke dalam apa yang disebut sebagai Thucydides Trap atau “Perangkap Thucydides”.

Secara sederhana, teori ini menggambarkan kondisi ketika kekuatan lama merasa terancam oleh munculnya kekuatan baru. Dalam sejarah, situasi seperti ini sering berakhir dengan konflik besar. Dulu Athena dan Sparta. Hari ini banyak analis melihat pola itu mulai terlihat dalam hubungan Amerika dan China.

Masalahnya, kalau dua raksasa ekonomi dunia terus bersaing secara keras, baik lewat perang dagang, teknologi, mata uang, maupun geopolitik, dampaknya bukan hanya dirasakan mereka. Seluruh dunia ikut terkena efeknya. Kita mulai melihat tanda-tandanya. Perang tarif meningkat, perebutan teknologi AI dan chip makin tajam, upaya dedolarisasi mulai meluas, penggunaan mata uang lokal meningkat, sampai munculnya sistem pembayaran alternatif dari negara-negara BRICS.

Artinya, dunia moneter global sedang bergerak menuju fase baru.

Selama puluhan tahun, dunia sangat bergantung pada dolar Amerika. Hampir semua perdagangan internasional, cadangan devisa, dan transaksi global berputar di sekitar dolar. Tetapi sekarang mulai muncul pertanyaan besar: apakah dunia akan tetap bertahan dengan satu pusat moneter?

China mulai memperkuat yuan. Negara-negara BRICS mulai berbicara tentang sistem pembayaran alternatif. Banyak negara mulai mengurangi ketergantungan pada dolar untuk mengurangi risiko geopolitik dan tekanan ekonomi global.

Di sinilah saya melihat menariknya prospek moneter Islam.

Selama ini ekonomi dan moneter Islam sering dianggap hanya bicara halal-haram atau bank syariah semata. Padahal kalau dilihat lebih dalam, ada filosofi besar yang sebenarnya sangat relevan dengan krisis dunia hari ini.

Moneter Islam sejak awal menekankan kestabilan, keterhubungan sektor keuangan dengan ekonomi riil, larangan spekulasi berlebihan, keadilan distribusi, dan uang yang tidak semata menjadi alat permainan pasar.
Saat dunia mulai lelah dengan sistem yang terlalu spekulatif, terlalu berbasis utang, dan terlalu rentan terhadap krisis finansial global, sebenarnya ada peluang bagi ekonomi dan moneter Islam untuk menawarkan alternatif pemikiran.

Apalagi sekarang dunia mulai masuk ke era digital currency, blockchain, dan tokenisasi aset. Ini membuka ruang baru untuk pengembangan moneter Islam yang lebih modern dan adaptif. Bukan tidak mungkin ke depan akan muncul stablecoin syariah, mata uang digital berbasis emas, smart contract syariah, atau sistem perdagangan lintas negara berbasis prinsip keuangan Islam.

Tetapi tentu tantangannya juga besar. Dunia Islam masih menghadapi persoalan fragmentasi politik, ketergantungan teknologi, lemahnya riset, dan belum kuatnya integrasi ekonomi antarnegara Muslim.

Karena itu masa depan moneter Islam tidak cukup hanya dibangun lewat seminar dan diskusi normatif. Ia membutuhkan inovasi teknologi, riset serius, keberanian politik, dan ekosistem ekonomi yang nyata.

Menurut saya, dunia hari ini sedang mencari keseimbangan baru. Dunia mulai sadar bahwa kemajuan teknologi tanpa moral bisa berbahaya. Kekuatan ekonomi tanpa keadilan juga bisa memicu ketimpangan dan konflik global.

Dan mungkin di tengah persaingan besar Amerika dan China, di tengah ancaman Thucydides Trap, dan di tengah perubahan sistem moneter global, ekonomi Islam punya peluang untuk hadir bukan sebagai pesaing semata, tetapi sebagai penawar keseimbangan.

Karena pada akhirnya, masa depan moneter dunia kemungkinan bukan hanya soal siapa yang paling kuat, tetapi siapa yang paling mampu menciptakan stabilitas, keadilan, dan kepercayaan global.

Comments

Popular posts from this blog

Tragedi Mesjidil Haram: Momen Untuk Mengevaluasi Shariah Finance di Dunia

We are at The Crossroad? (Catatan AICIS 2015 Bagian 1)

The 15th AICIS 2015 Manado: Menelusuri Eksotisme Pemikiran Muslim dan Alam Nusantara