Post Event Blues: Kenikmatan Fisik Vs Kenikmatan Ruh

By : M. Ridwan

Ada istilah baru nih..
Post Event Blues...

Pernahkah Anda merasa lelah meski baru saja selesai berlibur mewah? Atau mungkin, pernahkah Anda merasakan kekosongan aneh setelah membeli gadget terbaru yang dulu sangat Anda impikan?

Di era modern ini, kita hidup dalam budaya yang memuja kenikmatan fisik. Iklan di mana-mana membisikkan bahwa kebahagiaan itu ada pada rasa makanan yang lezat, kenyamanan tempat tidur yang empuk, atau kemewahan mobil yang dikendarai. Tidak ada yang salah dengan menikmati hal-hal tersebut; tubuh kita memang diciptakan untuk merasakan sensasi dunia.

Namun, sering kali kita lupa bahwa manusia bukan hanya terdiri dari daging dan tulang. Kita juga memiliki ruh (jiwa) yang memiliki lapar dan dahaga tersendiri. Artikel ini akan mengajak kita menyelami perbedaan mendasar antara kenikmatan fisik dan kenikmatan ruh, serta bagaimana menemukan titik temu di antara keduanya.

Kenikmatan Fisik: Manis, Namun Cepat Berlalu

Nah, setidaknya ada empat karakter kenikmatan fisik.

1. Kenikmatan fisik bersifat eksternal dan sementara. Ia bergantung pada indra kita: penglihatan, pendengaran, penciuman, perasa, dan peraba.

2. Sifatnya Adiktif: Semakin sering kita menikmatinya, semakin besar dosis yang kita butuhkan untuk merasakan kepuasan yang sama. Makan enak hari ini, besok ingin yang lebih enak lagi.

3. Bergantung pada Kondisi: Kenikmatan ini mudah hilang jika kondisi berubah. Makanan lezat tidak terasa nikmat saat kita sakit gigi. Kemewahan rumah tidak terasa nyaman jika hati sedang gelisah.

4. Meninggalkan Jejak Kosong: Setelah euforia belanja atau pesta usai, sering kali muncul perasaan post-event blues atau kehampaan. Itu adalah tanda bahwa "tangki" jiwa kita belum terisi.

Jadi ibaratnya nih...
Kenikmatan fisik ibarat minum air laut; semakin diminum, semakin haus. Ia penting untuk kelangsungan hidup, tetapi tidak cukup untuk membuat hidup terasa bermakna.

Lalu,..
Kenikmatan Ruh: Tenang, Mendalam, dan Abadi

Berbeda dengan fisik, kenikmatan ruh bersifat internal dan tahan lama. Ia tidak bergantung pada apa yang kita miliki, melainkan pada siapa kita dan bagaimana kita terhubung dengan Sang Pencipta serta sesama.

Apa saja bentuk kenikmatan ruh?

Ketenangan Hati (Sakinah): Perasaan damai meski badai masalah menerpa. Ini adalah kenikmatan yang tidak bisa dibeli dengan uang seharga apapun.

Rasa Syukur: Kemampuan melihat keindahan dalam hal-hal sederhana. Secangkir kopi panas di pagi hari bisa menjadi kenikmatan luar biasa jika dinikmati dengan rasa syukur yang mendalam.

Memberi dan Berbagi: Ada kepuasan unik saat membantu orang lain tanpa mengharap imbalan. Senyum penerima bantuan sering kali memberikan kehangatan yang bertahan lama di hati pemberi.

Koneksi Spiritual: Saat berdoa, bermeditasi, atau merenung, adanya perasaan dekat dengan sumber kehidupan memberikan energi yang memulihkan jiwa.

Kenikmatan ruh ibarat mata air jernih di tengah gurun; semakin diambil, semakin deras alirannya. Ia justru bertambah ketika dibagikan.


Jebakan "Either-Or" (Salah Satu)

Banyak orang terjebak dalam pemikiran ekstrem: "Jika ingin bahagia secara spiritual, saya harus menyiksa tubuh dan meninggalkan dunia," atau sebaliknya, "Urusan roh itu nanti saja, yang penting saya menikmati hidup sekarang."

Kedua pandangan ini kurang tepat.

Menolak kenikmatan fisik secara berlebihan bisa membuat kita lupa bersyukur atas nikmat yang diberikan Tuhan untuk dinikmati secara wajar.

Sebaliknya, hanya mengejar kenikmatan fisik akan membuat jiwa kita layu dan kehilangan arah.

Tubuh adalah kendaraan bagi ruh. Jika kendaraannya rusak (karena diabaikan atau disakiti), perjalanan ruh akan terhambat. Namun, jika kita hanya merawat kendaraan tapi lupa siapa penumpangnya (ruh), maka perjalanan itu tidak akan sampai pada tujuan sejati.


Menemukan Keseimbangan: Integrasi, Bukan Pertentangan

Kuncinya adalah mengintegrasikan kedua kenikmatan tersebut. Jadikan kenikmatan fisik sebagai jembatan menuju kenikmatan ruh.

Makan: Jangan hanya makan karena lapar atau ingin enak (fisik), tapi makanlah dengan kesadaran penuh, mengucapkan syukur, dan berniat agar tubuh sehat untuk beribadah/bekerja baik (ruh).

Belanja: Nikmati hasil kerja keras untuk membeli barang berkualitas, tapi jangan jadikan itu ukuran harga diri. Gunakan barang tersebut untuk memudahkan urusan dan berbagi manfaat.

Istirahat: Tidur bukan sekadar memejamkan mata (fisik), tapi momen untuk melepaskan beban dunia dan menyerahkan segala urusan kepada Tuhan (ruh).

Ok,, sekarang..
Mana yang Akan Anda Kejar Hari Ini?

Hidup yang utuh adalah ketika fisik kita sehat dan bugar, sementara ruh kita tenang dan terhubung. Kenikmatan fisik adalah bumbu kehidupan, sedangkan kenikmatan ruh adalah makanan pokoknya. Tanpa bumbu, makanan hambar; tapi tanpa makanan pokok, kita akan mati kelaparan.

Hari ini, cobalah lakukan satu hal kecil. Nikmati secangkir teh (fisik), tapi sambil merenungi betapa bersyukurnya Anda masih diberi kesempatan untuk merasakan hangatnya (ruh). Rasakan perbedaannya.

Karena pada akhirnya, tubuh akan kembali menjadi debu, namun kenikmatan yang menyentuh ruh akan terus bergema, bahkan melampaui batas waktu. 
Wallahu a'lam..

Comments

Popular posts from this blog

Tragedi Mesjidil Haram: Momen Untuk Mengevaluasi Shariah Finance di Dunia

The 15th AICIS 2015 Manado: Menelusuri Eksotisme Pemikiran Muslim dan Alam Nusantara

We are at The Crossroad? (Catatan AICIS 2015 Bagian 1)