Jika Sistem Moneter Islam Bagus, Mengapa Dunia Tidak Menerapkannya? Bahkan Negara Muslim Sekalipun :)

By: M. Ridwan
Ini pertanyaan yang sering ditanyakan banyak orang.ungkin Anda juga ya..:)


“Kalau sistem moneter Islam memang bagus, kenapa dunia tidak menerapkannya? Bahkan negara Muslim pun banyak yang tidak memakai?”

Pertanyaan ini sering muncul. Kadang sebagai rasa penasaran, kadang juga sebagai kritik tajam. Sekilas, pertanyaan ini terdengar sangat logis. Sebab dalam pikiran banyak orang, sesuatu yang baik pasti digunakan oleh semua pihak. Kalau tidak digunakan, berarti mungkin memang tidak efektif.

Namun, benarkah logikanya sesederhana itu?
Mari kita bedah dengan kepala dingin, data riset, dan sedikit analogi unik agar tidak terlalu tegang seperti membaca laporan bank sentral.
Dunia Tidak Selalu Memilih Sistem Terbaik, Tapi Sistem yang Sudah Nyaman

Mari jujur sebentar.
Dalam sejarah, manusia tidak selalu memilih sesuatu karena itu terbaik. Sering kali manusia memilih sesuatu karena sudah terbiasa.
Dulu, energi terbarukan dianggap mahal dan merepotkan, padahal manfaatnya besar. Internet pada awal kemunculannya juga dianggap tidak terlalu penting oleh banyak perusahaan besar. Bahkan di Indonesia, pernah ada masa ketika orang berkata:

“Ngapain beli HP mahal-mahal? Kan ada wartel.”

Hari ini?
Orang rela panik kalau Wi-Fi mati lima menit.
Hal serupa terjadi pada sistem ekonomi dan moneter global.

Sistem moneter dunia saat ini telah berjalan sangat lama dengan fondasi:

suku bunga (interest rate),
utang berbasis fiat,
dominasi mata uang dolar,
obligasi pemerintah,
pasar finansial global berbasis bunga.
Sistem ini sudah seperti “operating system” ekonomi dunia.

Bayangkan jika seseorang tiba-tiba berkata:
“Mari kita ganti total sistem ini menjadi sistem moneter Islam.”
Tidak semudah itu bro..
Itu bukan seperti mengganti tema WhatsApp.
Itu seperti mengganti mesin pesawat ketika pesawat sedang terbang di ketinggian 30 ribu kaki.

Bagus? Bisa jadi.
Mudah? Tentu tidak.

Lalu, apa Sebenarnya yang Ditawarkan Sistem Moneter Islam?

Banyak orang mengira sistem moneter Islam hanya soal “tidak ada bunga”.

Padahal jauh lebih besar dari itu.

Dalam konsep ekonomi Islam, uang tidak boleh berkembang sendiri tanpa aktivitas ekonomi nyata. Uang idealnya harus terkait dengan sektor produktif.

Karena itu, sistem moneter Islam menekankan beberapa prinsip utama:

1. Larangan Riba
Keuntungan tidak boleh diperoleh hanya dari meminjamkan uang lalu meminta tambahan yang pasti tanpa risiko.

2. Risk Sharing (Berbagi Risiko)
Dalam Islam, keuntungan idealnya disertai pembagian risiko.

Jika untung, dibagi.

Jika rugi, ditanggung bersama sesuai kesepakatan.

Bukan model:
“Untung milik saya, rugi urusan Anda.”

3. Berbasis Aset Riil
Keuangan tidak boleh terlalu jauh dari aktivitas ekonomi nyata.

Dalam bahasa sederhana:
uang jangan lebih sibuk beranak-pinak daripada manusianya bekerja.

Kalau Bagus, Mengapa Negara Muslim Tidak Menerapkannya?

Nah, ini pertanyaan paling menarik.
Faktanya, sebagian besar negara Muslim memang belum menerapkan sistem moneter Islam secara penuh.

Sebagian besar menggunakan sistem campuran (hybrid system):

Bank syariah ada.
Tapi bank konvensional berbasis bunga juga tetap dominan.

Mengapa?
1. Ketergantungan pada Sistem Global
Ekonomi global saat ini sangat saling terhubung.

Jika sebuah negara tiba-tiba meninggalkan sistem bunga secara total, risikonya besar:
investor asing bisa pergi,
nilai tukar berpotensi terguncang,
akses pembiayaan internasional bisa terganggu,
perdagangan lintas negara menjadi lebih rumit.

Ibaratnya begini:

Ekonomi dunia itu seperti grup WhatsApp besar.

Kalau satu orang tiba-tiba keluar tanpa persiapan, koordinasi langsung kacau.
Negara Muslim tidak hidup sendirian di planet berbeda.

Mereka tetap harus berinteraksi dengan sistem keuangan internasional.

2. Infrastruktur Syariah Belum Matang

Kadang kita terlalu cepat menyalahkan sistem, padahal infrastrukturnya belum siap.
Riset menunjukkan tantangan utama ekonomi syariah di banyak negara Muslim meliputi:
literasi keuangan syariah rendah,
regulasi belum optimal,
instrumen moneter syariah terbatas,
SDM ahli ekonomi syariah masih kurang.

Bahasa sederhananya:

ingin ikut balapan Formula 1, tapi pit stop, mekanik, dan lintasannya masih dibangun.
3. Ada Zona Nyaman yang Sulit Diganggu
Ini bagian yang sering tidak dibahas.

Sistem berbasis bunga menciptakan ekosistem ekonomi besar.

Ada:

bank besar,
pasar obligasi,
investor global,
lembaga pembiayaan internasional.
Ketika sebuah sistem sudah menghasilkan keuntungan besar bagi pihak tertentu, perubahan menjadi lebih sulit.

Dalam ekonomi ada istilah path dependency
Artinya:
Karena kita sudah terlalu lama berjalan di satu jalur, pindah jalur menjadi mahal dan penuh risiko.

Data Menarik: Sistem Keuangan Islam Justru Terus Bertumbuh

Meski belum dominan, jangan salah.
Sistem keuangan Islam bukan sistem kecil.
Aset keuangan syariah global terus meningkat dari sekitar US$2,5 triliun pada 2018 menjadi hampir US$6 triliun pada 2024, dan diperkirakan mendekati US$10 triliun sebelum 2030.

Ini menunjukkn bahwa minat terhadap keuangan Islam sebenarnya terus meningkat.

Mengapa?
Karena banyak pihak mulai mempertanyakan stabilitas sistem finansial global yang terlalu bertumpu pada utang dan spekulasi.
Krisis demi krisis membuat orang mulai bertanya:

“Apakah ada model ekonomi yang lebih stabil dan lebih adil?”

Namun Ada Kritik yang Harus Jujur Diakui
Agar objektif, kita juga harus jujur.
Sebagian masyarakat menilai praktik keuangan syariah hari ini terkadang:

“Hanya sistem lama yang berganti nama.”
Misalnya:

bunga berubah istilah menjadi margin.
Kontrak berubah bahasa Arab.
Tetapi substansi ekonomi dianggap belum terlalu berbeda.

Kritik seperti ini penting dijadikan bahan evaluasi, bukan dimusuhi.
Karena jika ekonomi syariah ingin dipercaya, maka ia harus menghadirkan substansi, bukan sekadar simbol.

Pertanyaan yang Lebih Tepat
Mungkin pertanyaan sebenarnya bukan:
“Kalau sistem moneter Islam bagus, mengapa belum diterapkan?”

Tetapi:
“Apa yang membuat sistem yang baik sulit diwujudkan?”

Karena sejarah manusia menunjukkan:

Banyak ide baik membutuhkan waktu panjang sebelum benar-benar diterapkan.

Sistem moneter Islam mungkin bukan obat ajaib yang langsung menghilangkan seluruh masalah ekonomi dunia.

Namun ia menawarkan nilai penting:
bahwa uang harus dekat dengan sektor riil, keuntungan harus disertai risiko, dan ekonomi tidak boleh hanya menguntungkan pemilik modal besar.

Mungkin dunia belum sepenuhnya siap.
Atau mungkin…

kita masih berada pada fase ketika manusia mulai sadar bahwa ekonomi tidak cukup hanya tumbuh,tetapi juga harus adil.
Bagaimana menurut Anda pbaca? Apakah sistem moneter Islam memang solusi, atau masih sebatas idealisme? Tulis pendapat Anda di kolom komentar ya..

Comments

Popular posts from this blog

Tragedi Mesjidil Haram: Momen Untuk Mengevaluasi Shariah Finance di Dunia

We are at The Crossroad? (Catatan AICIS 2015 Bagian 1)

The 15th AICIS 2015 Manado: Menelusuri Eksotisme Pemikiran Muslim dan Alam Nusantara