Pertumbuhan yang Melelahkan: Ekonomi Tumbuh, Manusia Lelah
By: M. Ridwan
Di tengah perayaan angka-angka ekonomi—pertumbuhan, investasi, ekspor—ada satu hal yang jarang dibicarakan: kelelahan manusia dan rusaknya alam sebagai harga yang harus dibayar.
Indonesia, seperti banyak negara berkembang lainnya, terus mendorong pertumbuhan ekonomi. Angka Produk Domestik Bruto dijadikan indikator utama keberhasilan. Ketika angka ini naik, kita merasa berhasil. Ketika turun, kita panik. Namun, pertanyaannya: apakah angka ini benar-benar mencerminkan kesejahteraan?
Realitas di lapangan tidak selalu seindah statistik.
Di satu sisi, sektor industri terus berkembang. Produksi meningkat, investasi masuk, dan ekspor didorong. Namun di sisi lain, kita melihat:
pekerja dengan jam kerja panjang dan tekanan tinggi
meningkatnya stres dan kelelahan kerja
ketimpangan ekonomi yang masih terasa
serta kerusakan lingkungan yang semakin nyata
Hutan-hutan dibuka untuk kebutuhan industri. Laut dieksploitasi. Sampah plastik menumpuk di berbagai daerah. Semua ini bukan sekadar cerita—ini adalah konsekuensi dari model pertumbuhan yang terlalu berfokus pada angka.
Bahkan, jika dilihat secara global, fenomena Earth Overshoot Day menunjukkan bahwa manusia mengonsumsi sumber daya lebih cepat daripada kemampuan bumi untuk memulihkan. Indonesia pun tidak lepas dari tren ini. Artinya, sebagian dari pertumbuhan hari ini sebenarnya “meminjam” dari masa depan.
Di sisi lain, kesejahteraan tidak selalu mengikuti pertumbuhan. Data dari World Happiness Index menunjukkan bahwa negara dengan ekonomi besar belum tentu memiliki tingkat kebahagiaan yang tinggi. Ini menjadi sinyal bahwa ada yang keliru dalam cara kita mengukur keberhasilan.
Lebih jauh lagi, jika kita melihat pola konsumsi, terlihat bahwa produksi tidak lagi sepenuhnya berbasis kebutuhan. Barang-barang pelengkap—bahkan yang sifatnya sementara seperti plastik sekali pakai, mainan murah, dan pernak-pernik—diproduksi secara masif. Digunakan sebentar, lalu dibuang. Indonesia sendiri termasuk salah satu penyumbang sampah plastik yang signifikan di dunia.
Ini menunjukkan satu hal penting:
ekonomi kita tidak kekurangan aktivitas, tapi kehilangan arah.
Dalam perspektif ekonomi Islam, kebutuhan manusia dibagi menjadi tiga: daruriyah (primer), hajiyah (sekunder), dan tahsiniyah (pelengkap). Idealnya, produksi diarahkan untuk memenuhi kebutuhan primer dan sekunder terlebih dahulu.
Namun yang terjadi hari ini justru sebaliknya: sektor pelengkap sering kali menjadi motor utama ekonomi.
Akibatnya, terjadi ketidakseimbangan:
kebutuhan dasar belum merata terpenuhi
sementara barang konsumtif terus membanjiri pasar
Inilah yang melahirkan paradoks modern:
barang melimpah, tapi ketenangan hidup langka.
Lalu bagaimana solusinya?
Pertama, negara perlu mulai menggeser fokus dari sekadar pertumbuhan menuju kualitas pertumbuhan. Indikator keberhasilan tidak cukup hanya berbasis angka ekonomi, tetapi juga harus mencakup kesejahteraan manusia dan kelestarian lingkungan.
Kedua, kebijakan fiskal harus lebih selektif. Produk yang merusak lingkungan atau tidak memiliki nilai kebutuhan yang kuat perlu dikendalikan, sementara sektor yang memenuhi kebutuhan dasar harus diperkuat.
Ketiga, perusahaan harus kembali pada tanggung jawab moral. Keuntungan penting, tetapi tidak boleh mengorbankan manusia dan alam.
Keempat, masyarakat juga harus berani mengubah pola konsumsi. Selama gaya hidup konsumtif terus dipelihara, maka sistem akan terus memproduksi hal-hal yang tidak perlu.
Pada akhirnya, kita perlu mengubah cara pandang:
Pertumbuhan bukan tujuan, melainkan alat.
Tujuan sesungguhnya adalah kehidupan yang seimbang, bermakna, dan berkelanjutan.
Jika tidak, maka kita akan terus terjebak dalam siklus yang sama:
ekonomi tumbuh, produksi meningkat, tetapi manusia semakin lelah dan alam semakin rusak.
Dan ketika itu terjadi, pertumbuhan bukan lagi tanda kemajuan—
melainkan tanda bahwa kita sedang kehilangan arah.
Comments
Post a Comment