Posts

Modernisasi dan Tergerusnya Kebaikan-Kebaikan "Kecil"

oleh: M. Ridwan Salah satu dampak perkembangan teknologi informasi adalah hilangnya beragam tradisi yang menggunakan media fisik. Sebut saja tradisi silaturahmi atau saling mengunjungi antar sesama. Memang, tradisi ini mungkin  sudah tergantikan dengan berbagai aplikasi chat, media sosial atau komunitas berbasis TI, namun, beragam fitur yang ada tentu tidak bisa menggantikan aktifitas bertemu dan tatap muka. Kesannya beda, lebih dalam, dan berkesan. Tapi, jangan-jangan itu pandangan subjektif saya ya atau sebatas di kota metropolitan bernama Medan ini saja. Entah-entah, di tempat para pembaca, aktifitas silaturahim dengan tatap muka masih digemari dan ditradisikan khususnya di hari Minggu seperti ini. Mungkin saja, di hari ini, Anda sedang berencana akan mengunjungi tetangga atau teman yang sudah lama tak bersua, mengundang mereka makan siang dan bercengkrama di rumah kita atau membahas silsilah keluarga dan saling mendiskusikan jalan keluar atas masalah yang mereka hadapi. Kal...

Komersialisasi Mesum: Untuk Neraka-Pun Mereka Rela Membayar

Oleh: M. Ridwan Kita sudah terlanjur hidup di jaman canggih ini. Namun, bukan hanya kecanggihan teknologi yang kita hadapi. Kecanggihan prilaku juga menjadi hal yang tak dapat dipungkiri eksistensinya. Sayangnya, kecanggihan prilaku terkadang -bahkan sering- menyimpang dari aturan dan standar moral yang mungkin saja telah diyakini oleh penduduk bumi. To the point saja.  Tulisan ini menyoroti tentang kemesuman. Baik itu prostitusi, atau LGBT. Menurut Wikipedia, prostitusi atau pelacuran adalah  menjual jasa seksual demi uang. Sedangkan LGBT adalah singkatan dari Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender. Masih menurut Wikipedia, Lesbian adalah ketertarikan seorang wanita secara seksual terhadap wanita lain. Jika seorang pria tertarik secara seksual terhadap pria lain, maka ia disebut Gay atau Homoseksual. Nah, jika seorang pria memiliki ketertarikan seksual baik terhadap wanita atau pria, ia disebut punya kecendrungan biseksual. Adapun transgender adalah upaya yang di...

New Year New You: Dunia Seperti Apa Yang Ingin Kita Wujudkan?

Oleh: M. Ridwan Kita sudah berada di tahun 2016. Hampir sebulan. Rasanya, masih tergiang gegap gempita manusia di planet bumi ini ketika memperingati pergantian tahun ini. Katanya, jutaan resolusi telah digaungkan saat itu. Resolusi untuk lebih baik di tahun 2016. Mudah-mudahan terwujud. Kendati, kondisi dunia secara kasat mata, mungkin terlihat semakin semrawut. Terutama jika dilihat dari perspektif politik, ekonomi dan keamanan. Perang yang terus berkecamuk dan jutaan pengungsi yang menyelamatkan diri tanpa kepastian, bisa menjadi salah satu indikator kesimpulan ini. Bahkan, di awal tahun 2016, benih-benih peperangan baru juga mulai muncul. Katakanlah, ketegangan Arab Saudi dan Iran yang menunjukkan eskalasi yang mengkhawatirkan. Demikian juga Korut dan Korsel. Belum lagi cerita tentang isu terorisme yang seakan mati satu tumbuh seribu. Katanya sih, ada yang salah dengan penangangan terorisme dunia. Bara dendam dan marah yang terpendam di benak manusia modern saat ...

Takut Dengan Islam: What Happenned to You, Mr. Donald Trumph? (Bagian 1)

Oleh: M. Ridwan Bulan ini, dunia heboh dengan ulah Donald Trumph. Calon presiden AS dari partai Republik ini mengemukakan ide untuk melarang muslim masuk ke Amerika jika ia menjadi presiden. Tentu saja, publik sangat marah dengan komentar rasis-nya, bahkan dari warga Amerika sendiri.   Pernyataannya dianggap berbahaya dan justru akan menciptakan masalah baru bagi Amerika dan dunia. Donald Trumph memang cukup terkenal sebagai seorang pebisnis. Dialah pemilik kontes Miss Universe yang terkenal itu. Kontes ini bertujuan untuk menjaring dan memamerkan wanita-wanita cantik dari seluruh dunia. Cantik luar dalam. Secara fisik dan emosi. Untuk menentukan kecantikan itu, mereka harus rela berlenggang-lenggok di hadapan para juri -yang memahami benar arti “kecantikan”- dan menunjukkan kebolehan mereka. Pemenangnya adalah para perempuan yang dianggap paling sempurna karena memiliki paduan antara Brain (otak), Beauty (kecantikan), dan Behavior (kepribadian) – dalam versi juri ...

Pintar Cari Duit (Bagian 3)

Oleh: M. Ridwan Pengungkapan kasus prostitusi artis kembali menjadi topik pembicaraan warga negeri ini. Katanya, ini kasus jilid 2. Saya tidak tahu berapa jilid yang akan dibuat. Tentu saja, seperti biasa, ribuan perspektif pasti muncul menyikapi kasus ini. Berbagai kalangan bersuara dan membahasnya. Entah itu dari kalangan agamawan, pakar hukum, sosilog, psikolog, bahkan politisi. Menarik sih, tapi memprihatinkan tentunya. Agaknya, negeri ini terlihat semakin “siap” untuk “lepas landas” dari negeri bermoral menuju negeri immoral. Tidakkah saya berlebihan?. Bagi saya, kasus ini –sebagian orang menyebutnya “hiburan”, dagelan atau mungkin pengalihan isu- mengantarkan kita kembali kepada pertanyaan dasar tentang hakikat uang dan cara mencarinya . Kendati bagian sebagian orang, memahami hakikat uang sudah tidak penting lagi dikaji. Waste of time . Buang-buang waktu saja. Lebih baik memikirkan cara mencarinya. Memangnya, memahami hakikat uang bisa menciptakan uang?. Hehe,...