Ticker

6/recent/ticker-posts

Pintar Cari Duit (Bagian 3)



Oleh: M. Ridwan

Pengungkapan kasus prostitusi artis kembali menjadi topik pembicaraan warga negeri ini. Katanya, ini kasus jilid 2. Saya tidak tahu berapa jilid yang akan dibuat.

Tentu saja, seperti biasa, ribuan perspektif pasti muncul menyikapi kasus ini. Berbagai kalangan bersuara dan membahasnya. Entah itu dari kalangan agamawan, pakar hukum, sosilog, psikolog, bahkan politisi. Menarik sih, tapi memprihatinkan tentunya. Agaknya, negeri ini terlihat semakin “siap” untuk “lepas landas” dari negeri bermoral menuju negeri immoral. Tidakkah saya berlebihan?.

Bagi saya, kasus ini –sebagian orang menyebutnya “hiburan”, dagelan atau mungkin pengalihan isu- mengantarkan kita kembali kepada pertanyaan dasar tentang hakikat uang dan cara mencarinya. Kendati bagian sebagian orang, memahami hakikat uang sudah tidak penting lagi dikaji. Waste of time. Buang-buang waktu saja. Lebih baik memikirkan cara mencarinya. Memangnya, memahami hakikat uang bisa menciptakan uang?. Hehe, ungkapan bernada pragmatis itu pasti akan muncul.  Itu tidak salah tetapi juga tidak benar. Lho..

Para Nabi di semua sejarah jaman selalu mendapatkan penentangan dari kaumnya. Mereka ditentang bukan karena hanya mengajak kepada ajaran tauhid dan menafikan tradisi paganisme yang mereka percayai, namun karena  para nabi itu juga mengajak kaummnya untuk menerapkan ajaran Tuhan dalam kegiatan ekonomi dan adanya kewajiban untuk memasukkan tauhid tadi dalam aktifitas mencari uang. Seperti adanya halal dan haram, kewajiban zakat atau sedekah.

Nah, ajakan ini sangat berat dilakukan karena akan menganggu “kenyamanan” dalam mencari duit. Mereka terganggu ketika adanya larangan “ini dan itu” dan juga terganggu ketika harus melakukan kewajiban “ini dan itu” setelah memiliki duit. Membahayakan. Lahan preman kok diganggu, iya kan?

Nabi Muhammad pernah ditawarkan gratifikasi, atau bahasa lainnya pernah dicoba untuk disogok oleh pemuka Quraisy. Gratifikasi yang ditawarkan adalah harta, tahta dan perempuan. Mereka menduga, “jangan-jangan gencarnya dakwah Nabi itu karena alasan ekonomi atau ingin mengeruk keuntungan finansial, politis atau syahwat. Mereka menduga Nabi Muhammad ingin mendapatkan kenyamanan itu. Tentu saja mereka keliru. Nabi tidak bergeming bahkan kendati mereka meletakkan bulan dan matahari diletakkan di tangannya. Pemuka Quraisy jadi pusing Ini orang, maunya apa sih? Kok tidak tertarik duit dan kekuasaan?, Aneh”, mungkin demikian yang berkecamuk di kepala mereka.

Tapi, begitulah. Jaman terus berjalan. Banyak manusia yang selalu tidak berhasil menang ketika berhadapan dengan duit. Idealisme mereka terpinggirkan dan nurani mereka dikalahkan. Mengapa itu dilakukan? Tentu saja karena mengejar kesenangan ragawi atau fisik dan juga kesenangan emosional. Manusia takut sekali jika raganya menderita. Entah itu karena lapar, panas atau dingin serta capek.

Selain itu, manusia juga takut jika harga dirinya jatuh ketika tidak memiliki harta atau kesenangan. Atau takut ketika disebut miskin atau kere. Apa kata dunia?, malu dan gengsi dong. Makanya, banyak manusia yang berpura-pura dan menampilkan sesuatu yang “bukan dirinya”.

Lalu, apakah tidak perlu “ambisi” untuk menjadi kaya, terhormat dan bebas dari penderitaan fisik dan emosional?. Saya kira tulisan saya tidak mengarahkan pada kesimpulan seperti itu.
Proses mencari uang itu seharusnya adalah kegiatan ibadah. Mendapatkannya itu seharusnya menaikkan kualitas kehambaan kita. Termasuk juga ketika tidak mendapatkannya setelah berikhtiar keras.

Demikian, juga proses memanfaatkan uang seharusnya juga dipenuhi dengan unsur ibadah. Menikmatinya dalam bentuk konsumsi makanan, pakaian, plesir, membeli gadget, atau kendaraan harusnya diarahkan untuk meningkatkan kualitas ibadah tadi. Bukan sebaliknya.

Seharusnya, proses mendapatkan harta itu membahagiakan. Membuat kita nyaman dan tentram. Ini hanya bisa dilakukan jika mengikuti aturan yang berlaku. Baik aturan yang dibuat manusia namun tentunya aturan yang dibuat oleh Tuhan.   

Memenuhi kebutuhan fisik, dan emosial seharusnya tidak menjadi menjadikan kita “menderita”. Membuat kita emosional dan tertekan. Berebut, berkompetisi, dan sikut sana sini. Proses itu tidak seharusnya membuat kita menjadi “korban” dari benda-benda bernama harta, kesenangan, atau kekuasaan, yang membuat kita justru gelap mata dan menjadi sangat sensitif dengan istilah gengsi, tak terhormat atau “dianggap miskin”.

Saya rasa, cobaan manusia modern saat ini memang besar. Kita tidak hanya dihadapkan pada masalah kelangkaan sumber daya namun lebih dari itu adalah kelangkaan keyakinan bahwa mencari harta dengan benar itu mengundang keberkahan. Kita mungkin tidak lagi yakin bahwa keberkahan itu tidak identik dengan banyak atau sedikitnya harta. Kita terlalu jaga image, gengsi dan harga diri. Sehingga rambu-rambu tenatang harta dilanggar.

Nah, artis yang menjual diri itu, mungkin hanya salah satu contoh kecil dari ribuan atau bahkan jutaan manusia modern yang rela menukar nurani dengan setumpuk uang. Atau, jangan-jangan kita mungkin salah satunya? :)

Saya teringat saja dengan sebuh hadis nabi yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim  ketika Hakim bin Hizam radhiyallahu ‘anhu berkata,

“Saya meminta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam lalu beliau memberiku, kemudian saya meminta dan beliau memberi, selanjutnya saya meminta dan beliau memberi (lagi). Beliau pun bersabda, ‘Wahai Hakim, sesungguhnya harta ini hijau lagi manis. Barangsiapa yang mengambil (harta) itu dengan jiwa yang sakhawah (kedermawanan), maka (harta) tersebut akan diberkahi untuknya. Namun, barangsiapa yang mengambil (harta) tersebut dengan jiwa yang berlebihan, (harta) tersebut takkan diberkahi untuknya, seperti orang yang makan, tetapi tidak (pernah) kenyang. Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah’.”

Good morning Indonesia, good morning keberkahan….












Post a Comment

0 Comments