Oleh: M. Ridwan
Pengungkapan kasus prostitusi
artis kembali menjadi topik pembicaraan warga negeri ini. Katanya, ini kasus jilid
2. Saya tidak tahu berapa jilid yang akan dibuat.
Tentu saja, seperti biasa, ribuan
perspektif pasti muncul menyikapi kasus ini. Berbagai kalangan bersuara dan
membahasnya. Entah itu dari kalangan agamawan, pakar hukum, sosilog, psikolog,
bahkan politisi. Menarik sih, tapi memprihatinkan tentunya. Agaknya, negeri ini
terlihat semakin “siap” untuk “lepas landas” dari negeri bermoral menuju negeri
immoral. Tidakkah saya berlebihan?.
Bagi saya, kasus ini –sebagian
orang menyebutnya “hiburan”, dagelan atau mungkin pengalihan isu-
mengantarkan kita kembali kepada pertanyaan dasar tentang hakikat uang dan
cara mencarinya. Kendati bagian sebagian orang, memahami hakikat uang sudah
tidak penting lagi dikaji. Waste of time. Buang-buang waktu saja. Lebih
baik memikirkan cara mencarinya. Memangnya, memahami hakikat uang bisa
menciptakan uang?. Hehe, ungkapan bernada pragmatis itu pasti akan muncul. Itu tidak salah tetapi juga tidak benar. Lho..
Para Nabi di semua sejarah jaman
selalu mendapatkan penentangan dari kaumnya. Mereka ditentang bukan karena hanya
mengajak kepada ajaran tauhid dan menafikan tradisi paganisme yang mereka
percayai, namun karena para nabi itu juga
mengajak kaummnya untuk menerapkan ajaran Tuhan dalam kegiatan ekonomi dan adanya
kewajiban untuk memasukkan tauhid tadi dalam aktifitas mencari uang. Seperti
adanya halal dan haram, kewajiban zakat atau sedekah.
Nah, ajakan ini sangat berat
dilakukan karena akan menganggu “kenyamanan” dalam mencari duit. Mereka
terganggu ketika adanya larangan “ini dan itu” dan juga terganggu ketika harus
melakukan kewajiban “ini dan itu” setelah memiliki duit. Membahayakan. Lahan
preman kok diganggu, iya kan?
Nabi Muhammad pernah ditawarkan
gratifikasi, atau bahasa lainnya pernah dicoba untuk disogok oleh pemuka
Quraisy. Gratifikasi yang ditawarkan adalah harta, tahta dan perempuan. Mereka menduga,
“jangan-jangan gencarnya dakwah Nabi itu karena alasan ekonomi atau ingin
mengeruk keuntungan finansial, politis atau syahwat. Mereka menduga Nabi
Muhammad ingin mendapatkan kenyamanan itu. Tentu saja mereka keliru. Nabi tidak
bergeming bahkan kendati mereka meletakkan bulan dan matahari diletakkan di
tangannya. Pemuka Quraisy jadi pusing Ini orang, maunya apa sih? Kok tidak
tertarik duit dan kekuasaan?, Aneh”, mungkin demikian yang berkecamuk di kepala
mereka.
Tapi, begitulah. Jaman terus
berjalan. Banyak manusia yang selalu tidak berhasil menang ketika berhadapan
dengan duit. Idealisme mereka terpinggirkan dan nurani mereka dikalahkan.
Mengapa itu dilakukan? Tentu saja karena mengejar kesenangan ragawi atau fisik
dan juga kesenangan emosional. Manusia takut sekali jika raganya menderita. Entah
itu karena lapar, panas atau dingin serta capek.
Selain itu, manusia juga takut jika
harga dirinya jatuh ketika tidak memiliki harta atau kesenangan. Atau takut
ketika disebut miskin atau kere. Apa kata dunia?, malu dan gengsi dong.
Makanya, banyak manusia yang berpura-pura dan menampilkan sesuatu yang “bukan
dirinya”.
Lalu, apakah tidak perlu “ambisi”
untuk menjadi kaya, terhormat dan bebas dari penderitaan fisik dan emosional?. Saya
kira tulisan saya tidak mengarahkan pada kesimpulan seperti itu.
Proses mencari uang itu
seharusnya adalah kegiatan ibadah. Mendapatkannya itu seharusnya menaikkan
kualitas kehambaan kita. Termasuk juga ketika tidak mendapatkannya setelah
berikhtiar keras.
Demikian, juga proses memanfaatkan
uang seharusnya juga dipenuhi dengan unsur ibadah. Menikmatinya dalam bentuk
konsumsi makanan, pakaian, plesir, membeli gadget, atau kendaraan harusnya
diarahkan untuk meningkatkan kualitas ibadah tadi. Bukan sebaliknya.
Seharusnya, proses mendapatkan
harta itu membahagiakan. Membuat kita nyaman dan tentram. Ini hanya bisa
dilakukan jika mengikuti aturan yang berlaku. Baik aturan yang dibuat manusia
namun tentunya aturan yang dibuat oleh Tuhan.
Memenuhi kebutuhan fisik, dan
emosial seharusnya tidak menjadi menjadikan kita “menderita”. Membuat kita
emosional dan tertekan. Berebut, berkompetisi, dan sikut sana sini. Proses itu tidak
seharusnya membuat kita menjadi “korban” dari benda-benda bernama harta, kesenangan,
atau kekuasaan, yang membuat kita justru gelap mata dan menjadi sangat sensitif
dengan istilah gengsi, tak terhormat atau “dianggap miskin”.
Saya rasa, cobaan manusia modern
saat ini memang besar. Kita tidak hanya dihadapkan pada masalah kelangkaan
sumber daya namun lebih dari itu adalah kelangkaan keyakinan bahwa mencari
harta dengan benar itu mengundang keberkahan. Kita mungkin tidak lagi yakin
bahwa keberkahan itu tidak identik dengan banyak atau sedikitnya harta. Kita
terlalu jaga image, gengsi dan harga diri. Sehingga rambu-rambu tenatang harta
dilanggar.
Nah, artis yang menjual diri itu,
mungkin hanya salah satu contoh kecil dari ribuan atau bahkan jutaan manusia
modern yang rela menukar nurani dengan setumpuk uang. Atau, jangan-jangan kita
mungkin salah satunya? :)
Saya teringat saja dengan sebuh
hadis nabi yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim ketika Hakim bin Hizam radhiyallahu ‘anhu
berkata,
“Saya meminta kepada Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wassalam lalu beliau memberiku, kemudian saya meminta dan
beliau memberi, selanjutnya saya meminta dan beliau memberi (lagi). Beliau pun
bersabda, ‘Wahai Hakim, sesungguhnya harta ini hijau lagi manis. Barangsiapa
yang mengambil (harta) itu dengan jiwa yang sakhawah (kedermawanan), maka (harta)
tersebut akan diberkahi untuknya. Namun, barangsiapa yang mengambil (harta)
tersebut dengan jiwa yang berlebihan, (harta) tersebut takkan diberkahi
untuknya, seperti orang yang makan, tetapi tidak (pernah) kenyang. Tangan yang
di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah’.”
Good morning Indonesia, good
morning keberkahan….

0 Comments