Qana'ah Digital: Merasa Cukup di Tengah Dunia yang Tidak Pernah Berkata "Cukup"

By M. Ridwan

Salah satu ujian terbesar manusia modern bukan lagi kekurangan, melainkan kelebihan pilihan. Setiap kali membuka media sosial, kita disuguhi rumah yang lebih mewah, mobil yang lebih mahal, liburan yang lebih indah, karier yang lebih cemerlang, dan kehidupan yang tampak lebih sempurna. Akibatnya, seseorang yang sebenarnya sudah berkecukupan tiba-tiba merasa miskin. Bukan karena hartanya berkurang, tetapi karena standar kebahagiaannya terus dinaikkan oleh layar di tangannya.

Inilah yang dapat disebut sebagai qana'ah digital, yaitu kemampuan menjaga hati agar tidak terus-menerus membandingkan diri dengan apa yang dilihat di dunia digital. Qana'ah digital bukan berarti menolak teknologi atau menutup akun media sosial. Ia adalah kemampuan menggunakan teknologi tanpa membiarkan teknologi mengendalikan rasa syukur kita.

Hari ini, algoritma media sosial dirancang untuk membuat kita terus ingin melihat, terus ingin membeli, terus ingin mengikuti tren, dan terus merasa ada yang kurang. Padahal Al-Qur'an mengajarkan bahwa salah satu kunci kebahagiaan adalah bersyukur, bukan terus membandingkan diri dengan orang lain. Semakin sering seseorang membandingkan hidupnya, semakin sulit ia menikmati nikmat yang telah Allah berikan.

Qana'ah digital juga bukan alasan untuk berhenti berkembang. Seorang mahasiswa tetap harus belajar lebih giat. Seorang dosen tetap harus meneliti dan menulis. Seorang pengusaha tetap harus berinovasi. Yang berubah adalah orientasinya. Ia berkembang karena ingin memberikan manfaat dan menunaikan amanah, bukan semata-mata agar hidupnya terlihat lebih hebat di media sosial.

Kayaknya nih, sesekali kita perlu bertanya kepada diri sendiri: Apakah aku membeli ini karena benar-benar membutuhkannya, atau karena terlalu lama melihat orang lain memilikinya? Apakah aku bekerja lebih keras untuk memberi manfaat, atau hanya agar mendapatkan pengakuan? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini adalah latihan qana'ah di era digital.

Tentu saja, qana'ah digital bukan berarti memiliki lebih sedikit, melainkan lebih sedikit merasa iri. Bukan berarti berhenti bermimpi, melainkan berhenti menjadikan kehidupan orang lain sebagai ukuran kebahagiaan sendiri. Sebab hati yang selalu membandingkan tidak akan pernah merasa cukup, sedangkan hati yang selalu bersyukur akan menemukan keberkahan bahkan dalam nikmat yang sederhana.

Comments

Popular posts from this blog

Tragedi Mesjidil Haram: Momen Untuk Mengevaluasi Shariah Finance di Dunia

We are at The Crossroad? (Catatan AICIS 2015 Bagian 1)

Leader and Welfare: Seberapa Dekat Hubungannya?