LOW STANDARD COUNTRY? (Bag. 1)
By: M. Ridwan
Dalam aspek ekonomi, standard hidup suatu negara itu menentukan apakah suatu negara masuk dalam kategori miskin, kaya atau terkebelakang. Bagaimana cara menaikkan standard hidup dalam perspektif ekonomi ?. Simpel. Perbanyak saja produksi barang dan jasa. Perbanyak ekspor dan menambah nilai tambah. Jadi, yang diekspor bukan barang mentah semata. Kalau masih gemar mengekspor barang mentah, itu namanya LOW STANDAR, standar rendahan. Itu tipikal negara baru berkembang, banget. Apalagi kalau aktifitas impornya lebih banyak, khususnya bahan baku impor, bakalan terjadi deficit neraca pembayaran. Rentan dengan kurs dollar. Klepak klepak.
Jadi, saya ulangi, kalau suatu negara masih banyak ngutang, defisit neraca, gemar mengekspor barang mentah, gak punya kemampuan menciptakan nilai tambah, berkutat pada impor barang, maka artinya, standar hidup negara itu masih rendah. Jika itu terjadi, maka gak peduli siapa pun pemimpinnya,niscaya negeri itu akan KALAH BERSAING. Mudah diobok-obok asing. Mudah bukan?😊. Belum lagi kalau kita memasukkan pengukuran seperti Human Development Index, Happy Planet Index, wah, pasti lebih ribet.
Syawal sendiri artinya PENINGKATAN. So,
momen Bulan Syawal 2018 bisa menjadi titik balik negeri ini untuk GETTING
BETTER, menjadi lebih baik, tentunya. Kalau ditanya, peningkatan apa yang harus
dilakukan warga negeri ini?. Saya kira, tentunya, peningkatan STANDAR HIDUP (living
standard) dalam semua kehidupan berbangsa. Baik itu mencakup aspek
ekoomi,sosial, buadaya, politik dan tentunya pengamalan agama.
Mari kita bedah secara ringkas..Dalam aspek ekonomi, standard hidup suatu negara itu menentukan apakah suatu negara masuk dalam kategori miskin, kaya atau terkebelakang. Bagaimana cara menaikkan standard hidup dalam perspektif ekonomi ?. Simpel. Perbanyak saja produksi barang dan jasa. Perbanyak ekspor dan menambah nilai tambah. Jadi, yang diekspor bukan barang mentah semata. Kalau masih gemar mengekspor barang mentah, itu namanya LOW STANDAR, standar rendahan. Itu tipikal negara baru berkembang, banget. Apalagi kalau aktifitas impornya lebih banyak, khususnya bahan baku impor, bakalan terjadi deficit neraca pembayaran. Rentan dengan kurs dollar. Klepak klepak.
High standard itu terwujud jika SDM negeri
ini mampu mengelola SDA untuk menjadikannya produk bernilai tinggi di pasaran
internasional. Hasilnya akan menjadi devisa negara. Maka, harus ada kreatifitas
dan inovasi produk. Harus punya saing dan berkualitas internasional pula. Kalau
tidak, bersiaplah, produk kita gak bakalan LAKU di pasaran internasional.
Seharusnya nih, semua calon Kepala Desa,
Camat, Bupati, Gubernur, atau Presiden, mengkampanyekan starategi mereka
meningkatkan daya saing daerah masing-masing. Bukan sekedar tebar pesona ya..? 😊Jadi, saya ulangi, kalau suatu negara masih banyak ngutang, defisit neraca, gemar mengekspor barang mentah, gak punya kemampuan menciptakan nilai tambah, berkutat pada impor barang, maka artinya, standar hidup negara itu masih rendah. Jika itu terjadi, maka gak peduli siapa pun pemimpinnya,niscaya negeri itu akan KALAH BERSAING. Mudah diobok-obok asing. Mudah bukan?😊. Belum lagi kalau kita memasukkan pengukuran seperti Human Development Index, Happy Planet Index, wah, pasti lebih ribet.
Sekarang,
mari kita bedah aspek politik.
Kalau
pakai standar tinggi or HIGH STANDARD, maka politik suatu negara dikatakan HIGH
kalau partisipasi seluruh komponen masyarakat terjadi dan aspirasi masyarakat
mampu diwujudkan dalam bentuk PELAYANAN kepada mereka secara maksimal.
Politiknya MENCERDASKAN.
Nah,
bicara pelayanan nih. Bagaimana layanan yang diperoleh masyarakat atas
pemimpinnya, khususnya di negeri ini?. Jawab saja sendiri. Bagaimana layanan yang
kita peroleh dari level Desa, Kecamatan, Kabupaten, Propinsi sampai ke tingkat
pusat?. Apakah masyarakat diperlakukan seperti RAJA ataukah seperti PEMINTA-MINTA?.
Apakah rakyat menikmati pembangunan OR menjadi korban pembangunan?. Apakah rakyat
sudah diperlakukan seperti konsumen VIP atau masih dianggap konsumen kelas
bawah?
Kalau
mau belajar nih.
Di
negeri maju atau akan maju, maka pelayanan kepada masyarakat itu sangat diutamakan.
Dalam semua hal. Pelayanan kesehatan, pendidikan, transportasi, kepastian hukum,
jaminan hari tua, keamanan dan tentunya beragama. Pelayanan dilakukan dengan
standard tinggi. Bagi pejabat di sana, jangankan nyawa manusia, nyawa hewan atau
tumbuhan saja mendapat perhatian.
Memang
sih, ada yang berkelit, bahwa APBN negara maju lebih banyak dari negara
berkembang. Wajar dong mereka memberikan pelayanan lebih. Namun, saya kira,
pelayanan bukan sekedar masalah angggaran, lho. Itu lebih kepada KESIAPAN
MENTAL dan hati. REVOLUSI MENTAL itu ya KESIAPAN MENTAL MELAYANI, bukan hanya jargon
abstrak dan asal tafsir. Pertanyaannya, mau melayani dengan tulus ikhlas atau
tidak?. Mau memperlakukan masyarakat seperti raja atau tidak?. Mau adil tidak?.
Siap gak menjadi pemimpin yang melayani? Bukan sekedar menjadi penguasa yang
asal main perintah dan tunjuk sana sini.
Nah,
gara-gara terbiasa dengan pelayanan low standard, maka wajar warga negeri
berkembang GAK TERBIASA melihat pemimpin yang TURUN ke masyarakat. Mereka terkaget-kaget,
kalau misalnya, satu atau dua pemimpinnya BLUSUKAN. Mereka akan mengelu-elukan
dan melabelinya dengan pemimpin yang peduli dengan rakyat bukan?.
Blusukan
itu bagus, namun sebenarnya harus dibedakan antara TAMPILAN YANG PRO RAKYAT
dengan KEBIJAKAN PRO RAKYAT. Rakyat sebenarnya butuh KEBIJAKAN yang PRO RAKYAT.
Itu yang lebih utama. Tapi, kalau ada pemimpin yang punya dua-duanya, dia punya
tampilan dan kebijakan pro rakyat, maka patut disyukuri. Tampilan bisa
berubah-ubah lho, rentan dengan emosi, tapi kalau fokus dengan kebijakan, akan
ABADI dan mampu dinikmati anak cucu. Bukankah itu lebih DIBUTUHKAN?.
Tapi,
lagi-lagi, saya katakan, itulah dilema negeri berkembang. Rakyatnya memang
tidak terbiasa menikmati STANDAR TINGGI pelayanan atau dalam bahasa saya,
selama ini rakyatnya mungkin gak biasa DILAYANI, terbiasa mengurus diri sendiri.
Sehingga,
diiming-iming dengan sembako, uang recehan, mimik peduli dan aksi insidentil,
rakyat sudah KLEPAK-KLEPAK. TERTAWAN HATINYA. Mereka tidak peduli, apakah
pendidikan atau kesehatan bisa diakses dengan gratis dan mudah. Mereka gak akan
peduli apakah mampu memiliki tempat tinggal murah, terangkat ekonomi dan income
perkapitanya. Termasuk gak peduli, kalau misalnya nanti mata uangnya anjlok, atau
harga naik. Peduli amat, yang penting calonnya kelihatan PEDULI. Itu sudah
lebih dari cukup?:).
Tapi,
gak apa-apalah, minimal, yang lalu BIARLAH BERLALU. Tapi, jangan terlalu lama di
STANDAR RENDAH. Saatnya menjadi WARGA yang cerdas dan kritis, meski maksudnya bukan
JAGO BULLY, GOSIP apalagi FITNAH,, Na’uzibillah. Siapapun pemimpinnya, bantu
mereka MELAYANI masyarakat. Bantu mereka memberikan LIST apa saja yang kita
butuhkan. Kita DOAKAN mereka dengan tulus. Jangan suka menghujatnya. FAIR
bukan?
Syawal
itu PENINGKATAN dalam semua dimensi. Dan hal itu bisa dimulai dengan
MENINGKATKAN kualitas pribadi kita menjadi insan yang PEDULI, ADIL, PENYAYANG
dan BISA DIPERCAYA. Lakukan sekarang ini juga, apakah kita pemimpin maupun
rakyat. Eid Mubarak. Amin.
Wallahu
a’lam.

Comments
Post a Comment