Perjalanan Ilmu (Bag. 3): Open Access, Cara Lain Masuk Surga

By: M. Ridwan

Open Access adalah sebuah gerakan yang mensosialisakan ke masyarakat agar gemar berbagi akses ke masyarakat secara gratis.

Apa saja yang diberikan?
Banyak sih, terutama hasil-hasil riset yang berguna sehingga hasil riset itu tidak lagi tertutup. Tujuannya? tidak lain supaya jangan terjadi gap dan krisis scholary communication dimana masyarakat karena keterbatasan dana tidak bisa mendapatkan hasil-hasil riset mahal. Selama ini harus diakui hanya bisa diakses oleh lembaga-lembaga pendidikan kaya. Intinya kita ingin remove all barriers in the way of science. Melenyapkan semua penghalang dalam ilmu pengetahuan. 

Setidaknya itulah pesan yang dapat saya tangkap dari materi pelatihan E-Repository yang diadakan oleh perpustakaan UINSU, Jumat kemarin.  Pematerinya adalah Bapak Faizuddin Harliansyah, MM, Kepala Perpustakaan UIN Malang, jebolan Quesland University, Australia.

Saya kira, jika Open Access adalah sebuah media mensosialisasikan hal berguna bagi masyarakat, baik itu info, data atau hasil karya, maka ini adalah sesuatu yang teramat baik, bukan?. Sharing ilmu itu adalah amal jariyah dan pahalanya akan mengalir terus bagi pemiliknya. Investasi seperti ini yang tidak akan rugi dan akan selalu menaikan saham kepemilikan surga nanti. Nilai sahamnya akan Bullish terus ya...:)

Apakah ada kendala pelaksanaan Open Access?
Tentu saja ada.
Maklumlah, tipikal manusia adalah mahluk yang pelit. Alquran menyatakan hal ini. Apalagi untuk kondisi saat ini dimana budaya kapitalistik dan materialisme semakin marak. Budaya ini menyebabkan hasil-hasil karya dan riset lebih banyak telah dikapitalisasi dan dikomersilkan. Copy rightnya mahal, bukan?.

Kendati beberapa peraturan masih terfragmentasi di Indonesia, namun dalam Permendiknas tahun 17 tahun 2010 bisa dijadikan sandaran meski implisit. Peraturan ini mengenai penanggulangan plagiarisme di Perguruan Tinggi termasuk juga adanya SE Dirjen Dikti 152/E/T/2012 yang menyatakan bahwa setiap karya mahasiswa yang akan diluluskan diharuskan mempublish karya ilmiah mereka. Meskipun belum sempurna, namun bolehlah menjadi penawar dahaga untuk mensosialisasikan Open Access ini.

Tapi tidak usah khawatir. Beberapa lembaga pendidikan tinggi di negeri ini sudah mulai melek Open Access. UINSU termasuk terdepan dalam hal ini. Makanya, Anda akan dengan mudah menemukan berbagai karya dosen dan mahasiswa secara gratis di halaman repository.uinsu.ac.id. Silahkan di download secara gratis. Syaratnya hanya satu yaitu: GEMAR MEMBACA...!!! :)

Tulisan kali ini masih ada kaitan dengan Perjalanan Ilmu sebelumnya. Ilmu memang harus dituliskan. Kegiatan menuliskannya adalah upaya untuk mengikat ilmu sebagaimana dikatakan oleh Imam Syafi'i. Dan, menyebarkan ilmu dengan berbagai media khususnya media cetak dan online merupakan satu cara terbaik untuk masuk surga.

Hemat saya, kalau kebijakan Open Access telah membudaya, maka dipastikan ilmu akan menyebar dengan baik di bumi ini. Tidak ada lagi gap ilmu pengetahuan. Kemakmuran bumi dan ribuan ilmu akan menjadi cahaya. 

Apalagi di jaman online seperti saat ini. Gap ilmu akan lebih mudah dihilangkan. Tapi, terkadang banyak orang yang tidak mampu menggunakannya untuk tujuan ilmiah. Beberapa rekan dosen sering geleng kepala melihat kualitas karya mahasiswa dalam membuat makalah dimana kualitasnya kok lebih rendah dibandingkan jaman mesik tik dulu?. Agaknya, banyak insan akademis menjadi lebih "malas" dalam menuangkan ide dan membaca berbagai jurnal atau buku. Enaknya hanya copy paste saja ya? :)

Ini tantangan bangsa ini. 
Seyogyanya, Umat Islam juga harus terdepan dalam mengusung open access ini sehingga ilmu akan tersebar dan berkah. Tapi kondisi ini meniscayakan umat ini untuk tidak lagi hanya pintar cuap-cuap tanpa menuliskannya atau pintar "berkelahi" tapi miskin solusi. Umat ini harus show of force dan menunjukkan berbagai karya ilmiahnya ke mata dunia. Siapa yang berani menggebrak? Wallahu a'lam.








Comments

Popular posts from this blog

Tragedi Mesjidil Haram: Momen Untuk Mengevaluasi Shariah Finance di Dunia

We are at The Crossroad? (Catatan AICIS 2015 Bagian 1)

Leader and Welfare: Seberapa Dekat Hubungannya?