Day#11 Syawal 2016 : The Power of Togetherness: Menjalankan Aplikasi Game 4D Nan Berat
By: M. Ridwan
Syawal sudah memasuki hari ke-11 ketika tulisan ini dibuat. Meski sudah memasuki hari ke-11, namun suasana lebaran tentu saja masih terus dirasakan. Inilah uniknya negeri bernama Indonesia ini dimana selama sebulan penuh ini, tradisi saling berkunjung yang dikemas dalam acara halal bi halal, masih terus dilaukan. Ini tentu berbeda dengan negeri lain di mana biasanya moment Idul Fitri sudah berakhir di minggu awal. Kita tentu tidak bisa menebak, apakah berbagai tradisi negeri ini dalam menyambut lebaran ini akan terus bertahan, ataukah akan tergerus dengan perkembangan jaman dan digantikan dengn tradisi baru?. Wallahu a’lam.
Idul Fitri memang seharusnya memberikan energi baru bagi
warga negeri ini. Saya pernah membuat analogi Ramadhan sebagai bulan untuk
melaukan “reset factory” (mengembalikan diri ke posisi awal penciptaan)
dimana kondisi ruhani, nafsu dan jasmani manhsia kembali berfungsi sesuai
dengan yang diinginkan Tuhan. Artinya, pada hari ke-11 bulan Syawal ini, maka kita
telah memfungsikan ketiga unsur di atas selama 11 hari juga, bukan?.
Nah, bagaimana rasanya? Bagaimana “komponen” kita ini
bekerja untuk “pertama” kalinya?. Apakah ia mampu berjalan dengan lancar
ataukah tetap ngadat, atau lemot karena virus masih bercokol?. Atau
apakah CPU diri kita masih tetap “overheating” , panas dan tak bisa
dikendalikan lagi?.
Apapun jawabannya kita, maka yang harus dipahami bahwa kita
tentu tidak bisa “membeli” komponen baru. Kita tidak bisa minta Tuhan
melahirkan kita kembali ke dunia dengan jasad baru seperti puteri kecil mungil kami yang baru lahir tepat
di hari ke-dua Syawal ini. Tuhan tidak
akan memberikan kita kesempatan kedua untuk hidup dengan jasad yang baru.
Memang sih, ada kepercayaan tentang “reinkarnasi” (terlahir
kembali dengan fisik berbeda), yang
diyakini sebagian umat beragama di dunia. Akan tetapi ajaran Islam tidak
meyakini adanya reinkarnasi ini. Sehingga, apapun keadaan fisik, nafsu dan
ruhani yang diberian Tuhan saat ini
kepada kita, itulah takdir yang harus kita terima. Besikap ridha sajalah,ya bro…:)
Dengan komponen yang kita miliki inilah kita menatap
kehidupan dunia ini. Dengannya, kita melengkapi
“potongan-potongan” sejarah kehidupan manusia. Dengan komponen diri ini pula, kita berinteraksi dengan manusia
lain, yang juga memiliki jasad nafsu dan ruhani yang mungkin berbeda dengan
diri kita. Sehinga, jika dianalogikan, maka keberadaan kita di dunia ini ini tidak
lain adalah untuk melengkapi kumpulan
ruh-ruh di bumi ini. Ketika Tuhan memerintahkan kita untuk memperat hubungan
dengan makhluk lain, artinya kita diperintahkan Tuhan pula untuk “menyatukan” ruh
kita dengan “ruh” yang lain. Wah, berat
ya bro?. Makanya, saya membuat judul di atas. Menjalin kebersamaan yang hakiki
itu berat sekali. Ibarat memainkan game 4D berat di android tablet jadul kita.
Kumpulan manusia yang
memiliki “kesatuan” ruh akan menjadikan mereka kuat. Hemat saya, inilah
yang terjadi ketika Rasul dan para sahabatnya dulu berhasil membangun peradaban
Islam, sebuah peradaban yang didirikan oleh manusia yang merangkai ruh. Tak heranlah
bila akhirnya Tuhan ridha terhadap mereka. Tuhan menyebut-nyebut kiprah mereka
di dalam kitab suci-Nya. Lalu kita?. Hehe..
Sebaliknya, kita juga menyaksikan peradaban-peradaban “rapuh”.
Secara fisik, memiliki wajah cantik dan
glamor, namun tidak demikian pada “dalamannya”. Lihat saja peradaban Yunani,
Byzantium, Romawi dan Persia yang rapuh
dan hancur. Tanya kenapa?. Ya, mereka adalah contoh peradaban yang hanya oleh diikat
hubungan fisikal dan nafsu semata. Akibanya,
mereka mudah hancur dan digoncang nafsu angkara. Oh ya,,,tulisan ini di-posting berbarengan dengan peristiwa Kudeta di Turki yang gagal atas pemerintahan Erdogan. Orang yang memutuskan melakukan kudeta pasti tidak sedang terjalin hatinya bukan?
Sayangnya, masa-masa kejayaan Islam dulu juga pernah dinodai
dengan hilangnya “ruh” dalam peradabannya. Lihat apa yang terjadi dengan beberapa
Dinasti Umayyah dan Abbasiyah, atau pemerintahan Mamluk. Beberapa dinasti Islam ternyata bisa juga menjadi
rapuh dan tidak sekuat masa awal?. Sebabnya?, saya kira, pada masalah “ruh”
ini, bro…
The Power of Togetherness adalah kekauatan kebersamaan.
Istilah ini akrab saat ini yaitu kebersamaan yang memunculkan kekuatan. Persaudaraan
itu akan memunculkan energi. Bersatu kita
teguh, bercerai kita runtuh. Persatuan seperti ini akan melahirkan sebuah kumpulan
manusia yang tak “tertandingi”. Namun, sekali lagi pertanyaannya, kebersamaan
seperti apa yang memunculkan kekuatan tak tertandingi tadi?
Hemat saya, jawabannya tentu kebersamaan antar ruh-. Dimana
hati kita menyatu dengan sesama. Cinta
dan kasih sayang kita mendominasi di
hati. Mungkin saja jiwa dan fisik kita tak bersua, namun jika ruh kita tetap interconnected
dan “communicated”, maka tetap saja akan melahirkan kekuatan dahsyat. Kita
pasti mendambakan hal ini terjadi ya bro?. Kita ingin jalinan ini kuat di negeri
dan persada bumi.
Caranya?. Ya, tentu saja dengan memastikan ruh atau hati yang
kita miliki bersih terlebih dahulu. Tanpa itu, namanya hanya “ukhuwah gaya-gaya saja”. Tanpa
kebersihan hati, maka kebersamaan kita dengan sesama hanyalah didasarkan tampilan
fisik semata. Mungkin perumpamaannya seperti
tanaman enceng gondok di sawah dekat rumah saya. Tampilannya indah di
permukaan, tapi sayangnya akar tak berpijak di bumi. Ini puisi tentang sawah ya,
bro? :)
Bukan apa- apa sih bro. Para ustaz bilang bahwa hidup ini
terlalu singkat untuk dikotori. Tidak ada jaminan bahwa kefitrahan ini akan
kita ditemukan lagi di tahun depan. Demikian juga, tidak ada jaminan bahwa
Pemilik Bumi ini masih memperbolehkan kita menempati “rumah kontrakan” yang
selama ini kita tempati, bukan?.
Jangan-jangan, Ia sudah mendapatkan “penyewa” baru, penghuni bumi yang
mungkin lebih baik dan lebih sholeh dari diri kita yang suka lalai ini. :).
Yang mengatakan kita lalai adalah Tuhan sendiri, bro. Tuhan mengatakan bahwa kita ini suka sekali bermain-main dan berspekulasi dengan kehidupan. Suka mengambil tantangan dengan berjalan di tepi jurung neraka. Atau, suka sekali menukar "barang bagus" bernama akhirat dengan "barang murahan" bernama ambisi dunia. Iya juga ya...Kalau pakai bahasa permainan, hari ini jadi manusia mahal, namun besok menjadi manusia "murahan". Hari ini bersaudara, namn besok bertengkar dan berkelahi. Kayak anak kecil sih, namun yang ditiru adalah kebiasaan bertengkarnya, bukan kefitrahan-nya. Wah, jadi ngelantur nih bro...:)
Kita berdoa, meskipun Syawal akan segera berakhir, namun
kefitrahan ini tidak sirna di hati kita. Dengannya, kebersamaan dan
persaudaraan kita akan tetap terjaga, khususnya untuk penduduk negeri ini. Amin.
Wallahu a’lam.
Comments
Post a Comment