Day#8 Seri Syawal 2016: Happiness Economics: Orang Baik, Kebahagiaan dan Produktifitas
By: M. Ridwan
Selama menikmati indahnya Idul Fitri dan kegembiraan Syawal, saya sampai pada sebuah kesimpulan, yang saya yakini kebenarannya, bahwa di negeri ini, jumlah orang-orang baik masih lebih dominan -untuk mengatakan seluruhnya- dibandingkan dengan orang-orang yang error-nya.
"Baik" yang dimaksud dalam arti mereka memang memiliki hati yang luhur dan prilaku terpuji atau memiliki niat dan harapan yang baik, misalnya untuk kebaikan negeri dan institusinya. Sedangkan orang error adalah orang yang karena kekhilafan dan keterdesakan melakukan kesalahan dan prilaku tak terpuji atau tidak memiliki niat yang baik.
Orang error, awalnya sih adalah orang baik dan suci, namun seiring waktu ia menjadi error. Mirip kayak cerita komputer juga nih. Ia terkena virus luar seperti lingkungan, media atau pikirannya sendiri. Syukurnya, selama 8 hari ini, saya tidak pernah bertemu dengan orang error seperti ini.
Kesimpulan ini setidaknya saya peroleh dari survey kecil-kecilan selama 8 hari ini. Kita pasti merasakan hal yang sama. Lihat saja wajah-wajah ceria dan senyum manis yang kita peroleh dari interaksi dan kebersamaan kita selama beberapa hari di bulan Syawal ini. Lihat pula, kebahagiaan dan senyum tulus sahabat-sahabat kita ketika selfie dan berpose gembira di media sosial termasuk juga beragam jenis status dan ucapan bernada spiritual. Tidak ada satupun status yang bernada error bukan?. It's a wonderful life, isn't it?
Di Minggu pertama Syawal ini, ada sebuah kebahagiaan kolektif yang tak terukur dengan materi. Kendati, kita juga tidak menafikan tetap juga ada perasaan-perasaan anomali, misal perasaan tidak percaya diri, tetap miskin, kecewa dan putus asa, mungkin melihat kondisi diri kelurga atau bangsanya. Namun, biasanya perasaan ini masih kalah dibandingkan dengan luapan kebahagiaan Idul Fitri dan Syawal, bukan?
Kebahagiaan kolektif ini memiliki potensi besar untuk dikembangkan ke arah produktitas kebaikan lainnya. Banyak riset menunjukkan bahwa produktifitas memang akan meningkat pasca Ramadhan. Soalnya sudah bahagia sih. Sehingga, orang bahagia itu pasti lebih mudah meningkatkan produktifitas. Lihat saja penelitian dari Daniel Sgroi " Does Happiness Affect Productivity? atau Andrew J. Oswald berjudul "Happiness and Productivity". Kesimpulan mereka sama bahwa kebahagiaan itu bisa meningkatkan produktifitas.
Sebaliknya, kendati terlihat produktif, namun orang-orang yang kecewa, sedih dan tertekan dalam jangka panjang justru akan membawa dirinya, keluarganya, perusahaannya atau negaranya ke arah kemunduran. So, kalau mau meningkatkan produktiftas, maka perbanyak saja jumlah orang bahagia di tempat kita bekerja. Atau, kalau produktifitas negara ini mau ditingkatkan, maka tingkatkan kebahagiaan warga negaranya. Mudah bukan?
Saya kira, ini yang melatarbelakangi mengapa kantor Google itu dirancang unik. Di lebih dari 40 negara, Google memiliki 80 kantor. Kantornya dibuat menarik dan karyawan dibiarkan berekspresi dengan nyaman. Mau pakai baju kaos, kemeja atau celana pendek, silahkan saja. Susananya santai tapi serius. Fisik kantor dibuat fleksible dan tidak mengekang ide dan kreatifitas. "Kantor kami harus menyenangkan", kata pimpinan Google Asia. Tentu saja, kultur dan budaya kerja ala Google juga sangat menentukan. Kebersamaan, dan saling mendukung. Nah, ada satu istilah yang mereka gunakan yaitu "Do't be Evil" (jangan jadi jahat). Lho, ternyata, jangan jadi jahat itu adalah kunci.
Maka tidak heran, jika Google selalu menempati posisi teratas perusahaan dunia. Lebh dari 2 juta orang setiap tahun harus bersaing untuk bisa bekerja di perusahaan ini. Mereka bukan hanya mengejar duit lho. Mereka mengejar prestise dan tentu saja kebahagiaan dalam bekeraja.
Wah, wah, saya mencoba membandingkan dengan kantor-kantor negeri ini dimana karyawannya bermuka serius dan tampilan kantor yang kaku dan terkesan "menyeramkan". Orientasi mungkin proyek saja sih.. Hehe.
Nah, yang dilakukan Google itu adalah salah satu dari contoh Happines Economics yaitu Ekonomi yang didasarkan kebahagiaan dan membuat kebahagiaan. Atau, produktiditas yang dipicu kebahagiaan. Ini adalah jargon baru dalam ekonomi. yag dikejar adalah kebahagiaan dulu. Uang sih akan menyusul. Jangan dibalik, kejar uang dulu, masalah bahagia akan menyusul. Saya kira, ini harus dicoba di tempat kita bekerja dan di negeri ini, ya..
Makanya, momen Syawal ini tentu bisa menjadi awal yang baik untuk mempraktikkannya. Di bulan ini, kita menemukan banyak sekali orang baik. Ini sesuai dengan jargon Google tadi. "Don't be Evil". So, tunggu apa lagi, yuk terus jadi orang baik dan bergaulah dengan orang yang bisa membuatmu terus menajdi baik. Wallahu a'lam.
Selama menikmati indahnya Idul Fitri dan kegembiraan Syawal, saya sampai pada sebuah kesimpulan, yang saya yakini kebenarannya, bahwa di negeri ini, jumlah orang-orang baik masih lebih dominan -untuk mengatakan seluruhnya- dibandingkan dengan orang-orang yang error-nya.
"Baik" yang dimaksud dalam arti mereka memang memiliki hati yang luhur dan prilaku terpuji atau memiliki niat dan harapan yang baik, misalnya untuk kebaikan negeri dan institusinya. Sedangkan orang error adalah orang yang karena kekhilafan dan keterdesakan melakukan kesalahan dan prilaku tak terpuji atau tidak memiliki niat yang baik.
Orang error, awalnya sih adalah orang baik dan suci, namun seiring waktu ia menjadi error. Mirip kayak cerita komputer juga nih. Ia terkena virus luar seperti lingkungan, media atau pikirannya sendiri. Syukurnya, selama 8 hari ini, saya tidak pernah bertemu dengan orang error seperti ini.
Kesimpulan ini setidaknya saya peroleh dari survey kecil-kecilan selama 8 hari ini. Kita pasti merasakan hal yang sama. Lihat saja wajah-wajah ceria dan senyum manis yang kita peroleh dari interaksi dan kebersamaan kita selama beberapa hari di bulan Syawal ini. Lihat pula, kebahagiaan dan senyum tulus sahabat-sahabat kita ketika selfie dan berpose gembira di media sosial termasuk juga beragam jenis status dan ucapan bernada spiritual. Tidak ada satupun status yang bernada error bukan?. It's a wonderful life, isn't it?
Di Minggu pertama Syawal ini, ada sebuah kebahagiaan kolektif yang tak terukur dengan materi. Kendati, kita juga tidak menafikan tetap juga ada perasaan-perasaan anomali, misal perasaan tidak percaya diri, tetap miskin, kecewa dan putus asa, mungkin melihat kondisi diri kelurga atau bangsanya. Namun, biasanya perasaan ini masih kalah dibandingkan dengan luapan kebahagiaan Idul Fitri dan Syawal, bukan?
Kebahagiaan kolektif ini memiliki potensi besar untuk dikembangkan ke arah produktitas kebaikan lainnya. Banyak riset menunjukkan bahwa produktifitas memang akan meningkat pasca Ramadhan. Soalnya sudah bahagia sih. Sehingga, orang bahagia itu pasti lebih mudah meningkatkan produktifitas. Lihat saja penelitian dari Daniel Sgroi " Does Happiness Affect Productivity? atau Andrew J. Oswald berjudul "Happiness and Productivity". Kesimpulan mereka sama bahwa kebahagiaan itu bisa meningkatkan produktifitas.
Sebaliknya, kendati terlihat produktif, namun orang-orang yang kecewa, sedih dan tertekan dalam jangka panjang justru akan membawa dirinya, keluarganya, perusahaannya atau negaranya ke arah kemunduran. So, kalau mau meningkatkan produktiftas, maka perbanyak saja jumlah orang bahagia di tempat kita bekerja. Atau, kalau produktifitas negara ini mau ditingkatkan, maka tingkatkan kebahagiaan warga negaranya. Mudah bukan?
Saya kira, ini yang melatarbelakangi mengapa kantor Google itu dirancang unik. Di lebih dari 40 negara, Google memiliki 80 kantor. Kantornya dibuat menarik dan karyawan dibiarkan berekspresi dengan nyaman. Mau pakai baju kaos, kemeja atau celana pendek, silahkan saja. Susananya santai tapi serius. Fisik kantor dibuat fleksible dan tidak mengekang ide dan kreatifitas. "Kantor kami harus menyenangkan", kata pimpinan Google Asia. Tentu saja, kultur dan budaya kerja ala Google juga sangat menentukan. Kebersamaan, dan saling mendukung. Nah, ada satu istilah yang mereka gunakan yaitu "Do't be Evil" (jangan jadi jahat). Lho, ternyata, jangan jadi jahat itu adalah kunci.
Maka tidak heran, jika Google selalu menempati posisi teratas perusahaan dunia. Lebh dari 2 juta orang setiap tahun harus bersaing untuk bisa bekerja di perusahaan ini. Mereka bukan hanya mengejar duit lho. Mereka mengejar prestise dan tentu saja kebahagiaan dalam bekeraja.
Wah, wah, saya mencoba membandingkan dengan kantor-kantor negeri ini dimana karyawannya bermuka serius dan tampilan kantor yang kaku dan terkesan "menyeramkan". Orientasi mungkin proyek saja sih.. Hehe.
Nah, yang dilakukan Google itu adalah salah satu dari contoh Happines Economics yaitu Ekonomi yang didasarkan kebahagiaan dan membuat kebahagiaan. Atau, produktiditas yang dipicu kebahagiaan. Ini adalah jargon baru dalam ekonomi. yag dikejar adalah kebahagiaan dulu. Uang sih akan menyusul. Jangan dibalik, kejar uang dulu, masalah bahagia akan menyusul. Saya kira, ini harus dicoba di tempat kita bekerja dan di negeri ini, ya..
Makanya, momen Syawal ini tentu bisa menjadi awal yang baik untuk mempraktikkannya. Di bulan ini, kita menemukan banyak sekali orang baik. Ini sesuai dengan jargon Google tadi. "Don't be Evil". So, tunggu apa lagi, yuk terus jadi orang baik dan bergaulah dengan orang yang bisa membuatmu terus menajdi baik. Wallahu a'lam.
Comments
Post a Comment