Day#7 Syawal 2016: "Instant Process" Mentality

By: M. Ridwan

Pesan pasca Ramadhan itu jelas, bahwa proses "menuju Tuhan itu berat dan mendaki". Ramadhan juga menunjukkan bahwa menjadi suci dan fitrah ini harus dijalani dengan senang hati, bukan paksaaan atau mengikuti trend. Selain itu, proses 30 hari melakukan latihan (riyadah) di bulan Ramadhan juga membuktikan bahwa motor penggerak manusia seharusnya adalah ruhani, bukan jasmani. Puasa itu adalah momentum memberi makan ruhani, dan menggemukkannya, bukan sekedar menguruskan jasmani dan menggemukkannya kembali pasca Idul Fitri ini. :)

Hasilnya? Pastilah kita menunggu dampaknya pasca Ramadhan. Dan, seperti biasa, momen Idul Fitri dan Syawal adalah starting point-nya dimana semua harap (ekpektasi) "dibebankan" kepada Syawal -bulan tak berdosa ini-. Tidak heran, berbagai atribut sering kita sandingkan. Misal,  "Syawal dan Kepedulian Sosial", "Idul Fitri dan Kesucian Cinta", "Lebaran dan Penguatan Persaudaraan" , "Idul Fitri dan Etos Kerja", dan lain sebagainya. 

Tentu, tidak ada yang salah sama sekali dengan penyandingan di atas. Memiliki harapan itu  bagus, karena ia adalah bagian dari doa. Berdoa juga adalah sebuah ibadah. Sehingga orang yang tidak suka berharap, mungkin saja kuantitas doa dan ibadahnya tidak lengkap ya? Hehe, sudah ngelantur lagi ni..

Yes, kita berharap banyak dengan impact dari puasa yang dilakukan warga muslim negeri ini. Bayangkan, berapa dampak yang diciptakan dari 100 atau 150 juta muslim dewasa yang melakukan puasa di tahun ini?. Puasa yang imanan wah tisaba. !!!
Bayangkan, betapa banyak jumlah orang yang menjadi penyabar, dermawan, saling cinta dan suka mengendalikan diri setelah proses Ramadhan tahun ini berlalu. Hitung saja multiplier effect yang diciptakan. Indonesia bisa menjadi negara adikuasa bukan?  

Dampak puasa tahun ini mungkin saja melebihi dampak dari 100-200 ribu muslim yang menunaikan ibadah haji di tahun ini. Kita harus optimis dong...

Orang mengatakan bahwa di bulan Ramadhan kita sedang menuju langit. Menerbangkan ruh ke langit tinggi. Dan, pasca Ramadhan kita segera harus kembali ke bumi, memakmurkan dan mengendalikannya. Kendati, saya tidak terlalu setuju dengan adanya dikotomi "membumi dan melangit" itu. Nuansa bumi pasti ada pada orang yang sedang di langit, demikian juga, orang yang membumi pastilah ia juga memiliki dimensi langit. Bingung ya?

Maksudnya begini, selama kita masih belum meninggal, maka proses membumi dan melangit kita adalah suatu kesatuan. Dalam detik ini kita bisa berada di bumi, dan di detik berikutnya kita bisa segera meluncur ke langit. Para praktisi taswuf pasti memahami hal ini. Kuncinya ya di ruhani. 

Makanya, orang yang sedang sholat dan puasa pun bisa saja dianggap tidak sedang ke langit, apabila hatinya tidak khusyuk dan selalu terkait dengan materi duniawi. Namun, seseorang yang sedang berbisnis dan membersihkan jalan-pun bisa saja sedang melangit jika hati dan pikirnya ikhlas dan berniat untuk Allah. Ia bisa saja sedang "melangit" dalam pandangan penghuni langit sementara dalam pandangan lahiriyah orang bumi ia hanya berjalan dan tidak ada apa-apanya. Ingat cerita tentang Uwais Al-Qarni yang saya tulis di tulisan Ramadhan lalu, bukan?
 
Tapi, supaya tidak terlalu melebar kita fokus ke judul dulu lah. Soalnya, ada pesan sponsor nih.

Mentalitas proses instan (instan process mentality) adalah mentalitas "mau dapat hasil cepat tapi minim usaha". Misal, mau kaya tapi tidak mau berupaya keras. Mau memiliki anak sholeh tapi ayah dan ibunya malas menjadikan dirinya sholeh. Atau, mau memiliki sahabat yang baik dan sholeh, namun dirinya enggan men-shoehkan diri terlebih dahulu. Atau mau memiliki pemimpin yang adil, namun ia pun belum mampu menjadi pribadi yag adil. Sama juga seperti seseorang yang ingin mendapatkan reward yang bagus dari perusahaan namun loyalitas dan semangat teamwork nya lemah. 

Bahkan lucunya,, ada orang yang ingin masuk surga namun dengan amal yang minim juga. Mungkin, ia berpendapat bahwa kalau surga bisa didapat dengan tanpa bersusah payah, why not?. Buat apa repot-repot beribadah semalam suntuk, khatam Alquran dan banyak bersedekah kalau ada jalan pintas. Begitukah?

Inilah penyakit manusia. Alquran menyebut karakter manusia sebagai makhluk yang tidak sabaran. Suka tergesa-gesa dan instan. Akibatnya? Kalaupun ia berhasil, maka sifatnya hanya sementara. Tentu saja, karena ia tidak merasakan proses dan pahit getirnya berusaha. Mental cengeng, mudah mengeluh dan tidak percaya diri.

Kita khawatir di bulan Syawal ini juga begitu. 1 Syawal lalu adalah hari pertama kita mencoba jasmani dan ruhani kita berfungsi dengan software yang baru. Kita mau mencoba, apakah jasmani, ruhani dan nafsu kita sudah bisa dibawa touring dan mendaki gunung lagi?.

Nyatanya? Tanya diri masing-masinglah. Saya sempat terkekeh membaca status FB seorang teman. Bunyinya, "dibutuhkan 30 hari untuk menurunkan 4 kg berat badan, namun hanya butuh 4 hari untuk mengembalikannya." Hebat, bukan? 

Dalam lingkup negara, mentalitas proses instan ini bisa berbahaya. Lihat, apa yang terjadi dengan ekspor kita. Bukankah hanya didominasi bahan baku dan migas saja? Kenapa tidak banyak barang olahan dan turunannya? Katanya sih, karena kita tidak kreatif, mudah-mudahan bukan karena malas. 

Lihat apa dilakukan para koruptor dan tikus berdasi di negeri ini? Mau cepat kaya bukan? Tapi karena ia tidak sudi mengalami proses susah ala pengusaha, makanya lebih memilih model fee, makelar dan trik makan uang haram lain, toh? Kesannya, lebih mudah ya? Lebih mudah masuk bui dan neraka, kali. :)

Makanya, ada orang bijak mengatakan. The best legacy are the wings and the roots". Sebaik-baik warisan adalah sayap dan akar. Sayap artinya kemandirian dan akar adalah kekuatan hati atau akidah yang kuat. Bukankah mempersiapkan warisan seperti ini membutuhkan proses panjang dan melelahkan? Siapa berani?

Hemat saya, kejayaan sebuah negeri ditentukan oleh mentalitas anak negerinya. Termasuk kejayaan sebuah institusi dan korporasi. Baca saja sejarah bangsa-bangsa besar di bumi ini. Baca juga perjalanan perusahaan besar dunia. Mereka butuh proses panjang menggapai kejayaan. Jadi, kita mau pilih proses panjang yang langgeng atau tetap pakai cara instan tapi rapuh? Itu pilihan, bro...

Tapi, sekali lagi, surga itu tidak akan pernah digapai dengan hasil yang instan, bukan? Makanya, Nabi sampai bengkak-bengkak kakinya menggapai cinta Allah. Dia sudah dijamin masuk surga saja begitu, apalagi kita, bukan? 

Mudah-mudahan, mentalitas instan ini tidak mewabah di keluarga dan negeri kita. Kita bisa mulai menghindarinya dari bulan Syawal ini. Insyallah,,  Amin. Wallahu a'lam.


 
 


Comments

Popular posts from this blog

Tragedi Mesjidil Haram: Momen Untuk Mengevaluasi Shariah Finance di Dunia

We are at The Crossroad? (Catatan AICIS 2015 Bagian 1)

Leader and Welfare: Seberapa Dekat Hubungannya?