Day#30 Seri Ramadhan 2016: Mengusir Kebencian di Negeri Cinta
By: M. Ridwan
Bom bunuh diri kembali terjadi. Tidak tanggung-tanggung. Kali ini kota suci umat Islam yaitu Madinah mendapat serangan, Dan, pagi inipun, Indonesia mendapat teror yang sama, tepatnya di Markas Polres Solo.
Entah apa yang ada di pikiran pelaku bom bunuh diri itu. Yang jelas, pelakunya pasti bukan orang yang gemar berkasih sayang. Pelaku pasti tidak sedang menjalankan ajaran apapun, terlebih lagi Islam. Kalau pelakunya adalah orang yang pernah bersyahadat, pastilah ia bukan seorang muslim yang mengamalkan ajaran Nabi yang cinta kasih dimana Madinah adalah kota suci tempat wafatnya Rasul yang mulia ini.
Pelaku bom bunuh diri di Solo juga bukan warga negeri yang baik. Boleh dikatakan ia adalah warga negeri yang sedang tersesat. Hatinya gelap.
Kita tahu, bahwa negeri ini adalah negeri yang cinta kepada kasih sayang. Mayoritas penduduknya adalah muslim dimana Islam adalah agamanya. Islam artinya keselamatan. Tentu tidak mungkin seorang muslim yang taat akan rela menukar imannya dengan kebencian? Kalau itu terjadi ia pasti tidak sedang beriman. Rasul mengatakan "Tidak mungkin seorang yang beriman akan melakukan kejahatan".
Ramadhan adalah bulan memadu cinta. Cinta hamba kepada Tuhannya dan cinta manusia kepada sesama makhluk. Sedangkan, Madinah Al-Munawwarah juga adalah kota cinta, Tempat Nabi mengajarkan ajaran cinta. Dan, Indonesia-pun adalah negeri cinta. Apakah yang menggerakan jutaan pemudik pulang kampung di negeri ini? Bukankah itu karena cinta?
Dari peristiwa bom bunuh diri ini, kita layak kembali bertanya. Lalu, apakah cinta telah bersemi di hati kita? Apakah cinta ini akan terus bersemi seusai Ramadhan?
Sahabat, lupakan tentang kisah cinta ala roman picisan. Lupakan, cinta ala Romeo dan Juliet yang sering membius para generasi dari masa ke masa. Bahkan lupakan cinta ala Majnun kepda Laila yang rela mencium dinding batu karena si Laila tinggal di baliknya. Kita harus kembali kepada cinta yang hakiki. Mendalami cinta Tuhan dan mewujudkannya kepada sesama. Berani?
Hanya orang yang melaksanakan Ramadhan dengan tulus-lah yang bisa merasakan cinta Tuhannya. Konon, Tuhan hanya menitipkan 1% saja cinta-Nya untuk makhluk semesta alam. Dengan cinta "seperseratus" itulah seorang ibu rela berkorban untuk anaknya. Dengan cinta "secuil" itu, seekor ibu tikus rela melawan seekor ular demi menyelamatkan jiwa anaknya (Lihat di youtube). Hanya satu persen bro...!!!. Bayangkan bagaimana rasanya mendapatkan cinta Allah ketika di akhirat nanti.
Makanya, Rabi'ah al-Adawiyah (seorang sufi perempuan) merasa tak perlu lagi dengan dunia. Baginya, ia telah merasa sangat kaya dengan cinta dari Tuhannya. Tentunya, bagi kita yang "belum mampu" memiliki cinta sebesar Rabi'ah, bisa menjemput cinta Tuhan dengan menebarkan cita kepada makhluk dan sesama.
Pelaku bom bunuh diri sedang tersesat. Itu pasti.
Ada dua hal yang bisa membuat seeorang rela berkorban. Pertama, kebencian dan kedua, adalah cinta. Berbagai kisah heroik dalam sejarah terjadi karena cinta dan berbagai kisah pertumpahan darah terjadi karena kebencian. Apakah kita akan terus mengulang sejarah kebencian dan melupakan cinta yang tulus?. Mudah-mudahan tidak.
Kita memang harus terus banyak belajar mencintai sesama makhluk. Mengusir kebencian di negeri cinta ini.
Minal 'aidin wal faizin. Taqabbalahu minna wa minkum. Shiamana wa Shiamakum. Kullu 'amin wa antum bi khair. Insyallah. Amin Ya Allah, Wallahu a'lam.
Comments
Post a Comment