Day#29 Seri Ramadhan 2016: Nafahat Ilahiyah: Mengejar Kesalehan Yang Tertinggal

By: M. Ridwan

Apa itu kesalehan yang tertinggal? dan apa pula nafahat ilahiyat?
Begini.
Sejak Nabi Adam, bumi ini selalu dipenuhi oleh orang-orang shaleh. Manusia jenis ini mampu memakmurkan bumi sebagai wujud amanah mereka khalifah. Doa mereka mustajab dan menjadi bagian dari peradaban . Mereka melakukan kesalehan dalam ragam jenisnya. Entah itu kesalehan individu, kesalehan sosial, dan kesalehan lingkungan. Intinya, mereka orang baik. 

Banyakkah jumlah mereka? Bisa jadi banyak, bisa jadi sedikit. Soalnya, tidak ada statistik pasti yang melaporkan jumlah mereka. Nama-nama mereka ada yang disebutkan Alquran namun banyak yang tidak.  Mungkin saja orang baru mengetahuinya setelah mereka wafat. Kehilangan mereka baru ditangisi.

Sayangnya, menurut Alquran jumlah mereka dari ke hari semakin menurun. Generasi orang shaleh di akhir jaman lebih sedikit. Alquran menyebut bahwa generasi sesudah mereka akan dipenuhi oleh orang-orang pemalas. Entah itu malas sholat, malas berderma, malas berzikir, dan berbagai jenis malas kebaikan lainnya.

Makanya, kita harus mengejar ketertinggalan ini  Soalnya, kita tidak mau nanti harus antri dan terseok-seok masuk surga bukan? Kita tidak mau hanya "hebat di bumi" saja tapi "tidak ada apa-apanya" dalam perspektif penghuni langit bukan?. Hehe,kok sampai ke langit nih? 

Lalu, apa yang membuat manusia menjadi shaleh? Banyak hal, namun hemat saya, mungkin saja karena mereka telah berhasil mendapatkan nafahat ilahiyah? Apakah itu?
"Sesungguhnya di dalam hari-harimu terdapat nafahat" demikian rasul menegaskan. 
Nafahah Ilahiyah adalah limpahan ilahi. Menurut para ustaz, bentuknya macam-macam. Bisa saja berupa kesadaran khusus atau bisikan kuat. Indikatornya, biasanya terjadinya perubahan besar dalam hidup seseorang setelah mendapatkannya.  Apakah sama dengan Lailatul Qadar? Menurut info yang saya baca, sama. 

Lailatul qadar itu adalah nafahat bersifat umum dan terikat waktu. Ada pula  nafahah ilahiyah bersifat juz'i dan bisa didapatkan siapa saja.  Apakah nafahat sama dengan hidayah atau hikmah dari Allah?. Bisa jadi sama atau satu bagian yang tak terpisah. Mohon masukan dari para pakar.

Nafahat Ilahiyat itu pernah didapatkan oleh Umar bin Khattab ketika mendengarkan lantunan surat Thaha yang dibacakan oleh adik perempuannya. Awalnya, Umar marah mendapatkan info bahwa sang adik telah memeluk Islam. Kemarahannya memuncak sampai ke ubun-ubun. Makanya, ia mendatangi si adik dan memukulnya hingga berdarah.
Namun, kuasa Allah berkata lain. Nafahat ilahiyah menyentuh hatinya. Melimpah dan tak terbendung. Melalui lantunan surat Thaha, jiwa Umar tergetar. Ia  takluk dan bergegas menjumpai rasul. Pada awalnya sahabat kaget akan kedatangannya. Namun, setelah dipersilahkan masuk, Umar langsung bersimpuh di hadapan Rasul dan mengikrarkan keislamannya. Subhanallah. Para sahabat berpelukan dan menangis haru. Doa Rasul terkabul.

Limpahan Tuhan ke hati Umar terus mengucur. Ibarat sebuah bak air tak bertepi, nafahat terus mengalir kepada dirinya dan menjadikan sosoknya tangguh. Suara dan wajahnya memancarkan cahaya ilahi. Setan dan Iblis saja sampai ketakutan dan lebih memilih menghindar ketika berpapasan dengan dirinya. Umar bahkan mampu  melihat alam malakut.

Nafahat ilahiyah juga diterima oleh para sahabat dan waliullah, para kekasih Allah. Nafahat pernah diterima oleh tukang sihir Fir'aun yang rela dipotong kaki dan tangannya setelah menyaksikan mukjizat Nabi Musa.
Apa penyebab seseorang mendapatkannya?
Sebenarnya saya tidak berkompeten menjawabnya. Silahkan kita tanya kepada pakar. Bisa jadi, nafahat turun karena doa dan permintaan tulus seorang hamba atau keinginan Allah sendiri. Dalam cerita Umar, Rasul memang pernah berdoa supaya Umar masuk Islam. Doanya makbul.

Para sufi mengatakan bahwa hati harus dibersihkan terlebih dahulu untuk memudahkan mendapatkan nafahat ilahiyah. Entah dalam itu dengan memupuk kikhlasan, kesabaran, kesyukuran dan ridha. Hati yang dipenuhi sifat-sifat itu akan mampu mengundang "limpahan" Allah. Tanpa itu? Ya, kemungkinan limpahan Iblis lah yang bersemayam. membuat sesak di dada. Sakitnya tuh di sini.

Selain itu, dikarenakan kita tidak pernah mengetahui dari mana pintu masuknya sebuah nafahat, maka menurut para sufi, jangan pernah menyepelekan sebuah amal baik karena bisa saja sebuah amalan "sepele' ternyata merupakan pintu masuk mendapatkan nafahat dari Allah.  Termasuk juga, jangan pernah "sepele" melihat orang lain.  Dari orang lain, pintu nafahat juga bisa muncul kok.

Makanya, di dalam hadis-hadis nabi kita sering menemukan amalan-amalan terkesan "kecil" namun "besar impact-nya". Misalnya menyebarkan salam, tersenyum kepada orang lain, membahagiakan orang lain, melebihkan makanan, mengunjungi atau mengunjungi orang sakit. Rasul memerintahkan kita supaya jangan sombong dan memnadnag rendah orang lain. Semua ini amalan bisa jadi merupakan pembuka pintu langit. Siip deh....

Sehingga, kita bisa mendapatkan nafahat di kantor, di lingkungan tempat tinggal, di pasar dan pusat bisnis, atau mungkin di dapur. Semua tempat dan keadaan memungkinkan adanya pintu nafahat. Silahkan dieksporasi....

Nafahat ilahiyah itu akan membaikkan si penerimanya. Merubah karakter dan kehidupannya.Membuat orang menjadi shaleh untuk jangka panjang. Hemat saya, seseorang yang memutuskan untuk menjadi pribadi lebih baik pasca Ramadhan ini dan bertekad mengabdi kepada Allah serta tidak melupakan-Nya sedetikpun, kemungkinan besar mereka telah mendapatkan nafahat ilahiyat ini. 

Nafahat ilahiyah itu sesuatu banget, lho. Tak terperi dahsyat dan luasnya. Banyak orang yang menjadi shaleh karenanya.

Apakah kita akan mengejar ketertinggalan ini?. 
Tentu dong. Kita harus mengejar keshalehan yang mungkin tertinggal. Dimulai dari bulan suci ini. Yuk berdoa untuk mendapatkannya.  Apakah kita telah mempersiapkan wadahnya? Amin. Wallahu a'lam.

Comments

  1. subhanallah terus menebar manfaat ustazku, guruku :)

    ReplyDelete
  2. Subhanallah...inspirasi dari Ustaz Khairil tu...

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Tragedi Mesjidil Haram: Momen Untuk Mengevaluasi Shariah Finance di Dunia

We are at The Crossroad? (Catatan AICIS 2015 Bagian 1)

Leader and Welfare: Seberapa Dekat Hubungannya?