Day#28 Seri Ramadhan 2016: Moslem "Home Alone"

By: M. Ridwan

Anda masih ingat film "Home Alone" yang sangat familiar di tahun 90-an?. Film yang dibintangi Macaulay Culkin ini mengisahkan tentang seorang anak yang tertinggal di rumah, sendirian. Tidak disengaja sih, karena orang tuanya tidak menyadari bahwa si anak tertinggal.  Mereka tahu ketika telah berada di tempat tujuan. Bayangkan kalau itu terjadi pada kita.

Kisahnya cukup seru dan lucu karena menggambarkan perjuangan seorang anak menghadapi para penjahat yang mencoba merampok rumahnya. Bahkan ada sekuelnya juga Home Alone 2, masih dengan pemeran yang sama namun setting berbeda. Meskipun demikian, topiknya tetap sama, yaitu Home Alone. Tertinggal rombongan, dan merasakan kesendirian di rumah.  Terlantarkan mengatasi masalahnya sendiri.

Nah, "Moslem Alone" itu bukan tentang film fiksi Hollywood, namun, ini adalah kisah yang benar-benar terjadi. Kisah tentang kaum muslimin fakir miskin, tertindas dan terlupakan. Mereka tertinggal di rumah sendiri, di tengah-tengah jutaan saudara-saudaranya sendiri. Jumlah mereka tak terkira banyaknya di dunia. "Moslem Alone" bisa saja golongan fakir dan miskin yang secara struktural termarjinalkan. Sistem kehidupan canggih ini mungkin saja tidak berpihak kepada mereka. Mereka telah bekerja, namun nyatanya penghasilan dan pendapatan juga tidak "ngangkat".

Atau, "Moslem Alone" bisa saja anak-anak yatim yang lemah atau kaum muslimin yang hidupnya dalam penderitaan. Jiwa mereka mungkin kering, nestapa dan dibiarkan sendiri.
Lalu, dimanapara saudaranya yang lain?
Ya, para saudaranya sesama muslim mungkin tidak menyadarinya. Mereka mungkin asyik "berlibur" dan menikmati kehidupan. Mungkin saja.

Saya tertarik membaca tulisan Dr. Azhari Akmal, berjudul dari Panti Asuhan Ke Istana Yatim. Tulisan yang dimuat di koran Waspada ini sangat bagus mengingat begitulah kondisi anak yatim di negeri ini. Mereka sudah kadung diperseppsikan sebagai anak-anak yang "tidak memiliki harapan" masa depan. Jiwa mereka ditawan dan terlihat sedikit sekali ada mekanisme apik dan sistemik untuk menganggakat derajat mereka.

Anak yatim adalah salah satu contoh "Moslem Alone". Tertinggal di rumah, sendirian.

Tahun 2014 lalu, ada peristiwa menghebohkan di negeri ini. Seorang ibu bernama Dedeh tega membunuh anaknya dengan cara memasukkan mereka ke tempat penyimpanan air. Niat awalnya untuk membunuh semua anaknya, yaitu Sahrul dan Aisyah namun Sahrul berhasil menyelamatkan diri. Si Aisyah sendiri tidak berhasil diselamatkan. Tahukah Anda apa alasan ia membunuh?

"Aku tidak mau anak-anakku menderita dalam hidup ini seperti diriku. Biarlah mereka mati dan masuk ke dalam surga. Kehidupan mereka pasti akan menyedihkan jika terus hidup", demikian ungkap si ibu tanpa merasa berdosa. Argumen dia hampir masuk akal namun sangat salah.

Kita tentu merinding mendengar berita ini. Yang melakukannya muslimah lho. Si anak bernama Asiyah pula, mirip nama anak saya. Kita berdoa mudah-mudahan si ibu dan terutama kita ini diampuni oleh Allah. Dosa kitalah yang menyebabkan sosok Dedeh ini muncul.  

"Lho, kok menjadi dosa kita sih.? Bukankah itu kesalahan si ibu yang gila, senewen, stress  atau tidak waras?" mungkin kita protes jika kesalahan ini ditimpakan kepada kita. Kita tidak melakukannya ya?. 

Bro, kesalahan yang dilakukan si ibu itu adalah imbas dari kesalahan yang kita lakukan kepadanya. Langsung atau tidak. Atau pura-pura tidak menyadari sih.

Ya, ini kesalahan kaum muslimin di negeri ini.
Pertanyaannya, dimanakah tetangga-tetangganya, ketika  si Dedeh  itu sedang menderita?.
"Dimana keluarga-keluarganya ketika ia sedang bergelut dengan masalahnya?
"Kenapa Dedeh merasa "Home Alone", tersisih dan ditinggalkan oleh saudara dan tetangganya?

Kita mungkin akan mengatakan bahwa ia sedang mengalami sakit jiwa ya?,
Tapi jangan-jangan, justru prilaku dan tindakan kita-lah yang justru membuat saudara-saudara kita -sesama muslim- menderita sakit jiwa termasuk di Dedeh. Kita yang menjadikan mereka "Home Alone" bro. Kita tertawa menikmati liburan dan pesiar sedangkan ada anggota keluarga kita yang tertinggal dalam kebahagiaan. Akui saja, kita sering tidak peduli kepada saudara kita sasama muslim. Membiarkan mereka berjuang untuk bertahan hidup dan menghadapi keganasan "perampok-perampok kehidupan."

Dulu, ada seorang sufi namanya Uwais Al-Qarni dari Yaman. Hidupnya miskin. Orang menyangka ia adalah pengemis dan gelandangan karena ia makan hanya beberapa butir kurma  atau sisa-sisa makanan yang dibuang di jalanan. Ia bukan siapa-siapa di dunia, namun sangat masyhur di langit. Makanya, ketika ia meninggal, ribuan jamaah mendatangi dan mengurus pemakamannya. Masyarakat Yaman saja sampai bingung. Siapakah jamaah dan pengunjung yang hadir itu? Walahu a'lam. Katanya sih, para malaikat.

Tahukah Anda apa doa si Uwais Al-Qarni ini dalam kemiskinnya?
"Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku. Jika ada orang kelapran di negeri ini, maka  hapuskanlah dosaku yang mungkin membiarkan mereka kemiskinan.". Lho?. Ia takut jika Allah menolak amal dan doanya karena tidak memperhatikan saudarnya sesama muslim. Aneh ya, si Uwais yang miskin papa saja takut berdosa karena berkontribusi atas penderitaan muslim yang lain. Lalu bagaimana dengan kita? yang telah mengecam kehidupan nyaman dan enak ini. Sudah aman dan beres ya?...

Sebagai muslim, memang kita harus intropeksi diri-lah.
Di negeri ini, ada muslim yang kaya dan berkecukupan, namun kontribusinya dalam kehidupan saudara-saudaranya sangat minim. Persaudaraan kita hanya gaya-gayaan saja. Persaudaraan yang tidak muncul dari hati. Manis di bibir saja.  Lihat tuh, potensi zakat kita 230 trilyun, namun "baru terkumpul 30-40 trilyun saja. Masih kurang.  Apakah karena memikirkan bahwa selalu ada orang lain yang melakukannya?

Ada yang protes. Toh, banyak orang miskin saat ini yang hanya berpura-pura miskin. Mereka menjual kemiskinan atau tampang miskin. Mengapa pula mereka harus dibantu? Ya, ini masalah juga. Kelompk miskin seperti ini tidak iffah. Mereka suka dianggap miskin atau pamer kemiskinan, agar dibantu. Lalu bagaimana kriteria miskin yang harus dibantu?

Saya kira, kelompok miskin yang harus diprioritaskan adalah orang miskin dari kalangan keluarga dulu. Setelah itu mungkin bisa masuk ke kategori miskin yang iffah yaitu  orang miskin yang berupaya keras menyembunyikan kemiskinanannya. Mereka malu dan tidak mau meminta-minta. Orang seperti ini banyak. Silahkan dicari.  Mereka tidak akan mempublikasikan dan menjual kemiskinan untuk mengeruk keuntungan. Ada orang yang seperti itu bukan?

Nah, kalau repot mencari miskin dengan kategori iffah. Serahkan saja Zakat dan Infaq ke lembaga yang sudah teruji kredibilitasnya. Aman bukan?

Bro, ini akhir Ramadhan. Saya dan Anda tentu tidak mau pahala Ramadhan kita tertahan karena rintihan pilu mereka kepada Allah. Kita tidak mau amal kita -yang tidak seberapa di bulan ini- justru di-pending. canceled atau di-ignore oleh Allah, karena kita masih membiarkan muslim lain dalam keadaan "Home Alone". Semoga "Moslem Home Alone" semakin berkurang jumlahnya. Selamat mengambil peran. Amin. Wallahu a'lam. 

 

Comments

Popular posts from this blog

Tragedi Mesjidil Haram: Momen Untuk Mengevaluasi Shariah Finance di Dunia

We are at The Crossroad? (Catatan AICIS 2015 Bagian 1)

Leader and Welfare: Seberapa Dekat Hubungannya?