Day#14 Seri Syawal 2016: Vaksin Palsu dan Pupusnya Mimpi Children of Heavens
By: M. Ridwan
Jumlah orang "sakit" di negeri ini memang sudah dalam tahap memprihatinkan. Baik sakit fisik maupun mental spiritual. Tumben ya, saya kali ini mengarahkan sedikit pesimis. Kalau dari sakit fisik, ditandai dengan membludaknya jumlah penderita permasalahan medis yang diderita masyarakat negeri ini.
Di daerah saya, Medan, sudah merupakan kelaziman bila orang sakit ramai-ramai berobat ke negeri tetangga, Malaysia atau Singapura. Katanya sih, selain murah, pelayanan di sana juga lebih profesional bila dibandingkan dengan di dalam negeri. Katanya pula, profesionalitas ini terjadi karena dokter-dokter di sana tidak terlalu disibukkkan dengan banyak rumah sakit. Mereka hanya fokus kepada 2-3 rumah sakit. Makanya, mereka bisa fokus kepada penyembuhan pasien. Masih dari info yang saya terima, kondisi ini tidak terjadi di Indoensia dimana para dokter terlanjur disibukkan dengan banyak rumah sakit dan tempat praktik. Makanya, penanganan pasien menjadi tidak maksimal. Apa benar seperti ini ya? Wallahu a'lam.
Tapi memang aneh ya?.
Rasanya, julah rumah sakit semakin bertambah bukan?. Fasilitas dan layanannya juga semakin beragam. Namun, jumlah orang sakit semakin bertambah ya, Bahkan jenis sakit juga muncul yang aneh-aneh. Makanya, kenalan saya -seorang ustaz- mengatakan bertambahnya orang sakit fisik meskipun jumlah dokter dan rumah sakit bertambah, menandakan bahwa keberkahan kesehatan sedang dicabut di negeri ini. Menurutnya, penyebabnya bisa saja karena tenaga medis sudah tidak ikhlas dalam mengemban profesi mulia ini. Orientasinya mungkin hanya uang dan karier semata dan bukan misi ibadah dan amal jariyah. Saya sebenarnya tidak terlalu mempercayai hipotesis ini. Perlu pembuktian lebih kanut. Meskipun, kadang kala bukti di lapangan sepeti membenarkannya.
Itu terkait dengan penyakit fisik. Nah, bagaimana pula dengan penyakit mental yang ditandai dengan meningkatnya jumlah penderita sakit jiwa di Indonesia?.
Saya pernah bertanya dengan seorang pegawai rumah sakit jiwa. Menurutnya, jumlah pasien jiwa memang benar-benar meningkat. Ada yang mengalami stress ringan, sedang, bahkan berat dan mengarah kepada kegilaan. Penyebabnya? bervariasi. Entah karena masalah ekonomi, masalah perkawinan ataupun sosial.
Minggu ini, publik Indonesia kembali dikejutkan dengan berita heboh berupa vaksin palsu yang disuntikkan ke beberapa ratus balita di Indonesia. Praktik ini ditengarai sudah berlangsung lama namun baru diketahui saat ini. Pelakunya saya sebut orang sakit. Sakit mental tepatnya. Bayangkan, hanya orang yang tidak waras-lah yang mau melakukan tindakan keji seperti ini. Merusak fisik para bayi yang merupakan harapan bangsa hanya bisa dilakukan oleh orang gila dan sakit. Orang waras dan sehat tidak akan mampu melakukan tindakan ini. Hati nuraninya pasti akan memberontak dan menangis ketika melakukan ini.
Namun kenyataannya?. Tetap saja ada orang yang melakukannya. Makanya, saya setuju apabila pelaku tindakan ini dihukum keras, direhabilitasi dan diisolasi dari masyarakat. Orientasi mereka, saya kira, bukan sekedar mencari untung bisnis semata. Orientasi membunuhnya lebih dominan terlihat, bukan?
Vaksin palsu itu memupus harapan kita akan generasi emas. Generasi yang sering disebut dengan Children of Heavens, Anak-Anak Surga. Sebutan ini saya pinjam dari sebuah film produksi Iran yang disutradarai oleh Majid Majidi pada tahun 1997. Film ini menceritakan seorang anak dari keluarga miskin yang berjuang untuk memberikan hadiah sepatu kepada adiknya. Sebutan "Anak-Anak Surga" itu dperuntukkan bagi anak-anak yang berjiwa bersih, fitrah dan mementingkan kepentingan orang lain.
Hemat saya, kemajuan negeri ini di masa depan tergantung kepada seberapa banyak Children of Heaven yang kita miliki saat ini. Semakin sedikit maka semakin gawatlah masa depan negeri ini.
Nah, mengapa sedikit pesimis?
Tidak lain karena upaya kepada "pemberangusan" Anak-Anak Surga ini semakin nyata. Ternyata tidak hanya mental dan spiritual mereka yang dirusak, fisik mereka pun rentan dan tak luput dari upaya pelemahan. Kalau dari sisi mental spitual, maka upaya ini dapat terlihat dari menyebarnya narkoba, minuman keras dan media yang secara sengaja atau tidak melakukan "brain washing" pencucian otak. Entah itu dengan tayangan TV, internet ataupun media cetak. Tayangannya sampah dan tidak berguna semakin bertambah. Dan, sayangnya diminati.
Lalu, apa yang bisa kita lakukan?
Tentunya menjaga buah hati kita dari semua bahaya dan ancaman nyata tersebut. Selebihnya, tanggung jawab ini kita serahkan kepada pihak yang berwajib. Mereka akan dimintai Allah pertanggung jawaban jika Children of Heaven negeri ini dirusak dan rusak karena keteldoran dan ketidakpedulian.
Lalu, apa lagi yang bisa kita lakukan?
Tentu saja berlindung kepada Allah Sang Pencipta anak-anak kita itu. Di tangan-Nya segala kuasa dan tempat berlindung.
Lalu, apa lagi yang bisa kita lakukan?
Tentu saja, untuk menciptakan Children of Heaven, maka negeri ini juga perlu banyak Parents of Heaven, Orang-Orang Tua Surga. Di tangan mereka anak-anak surga itu diciptakan. Berani?
Saya hanya berdoa, mudah-mudahan anak-anak negeri ini selalu dilindungi Allah dan Dia segera membersihkan negeri ini dari ancaman orang-orang sakit mental dan spiritual yang dengan sengaja menghancurkan generasi emas kita. Amin. Wallahu a'lam.
Jumlah orang "sakit" di negeri ini memang sudah dalam tahap memprihatinkan. Baik sakit fisik maupun mental spiritual. Tumben ya, saya kali ini mengarahkan sedikit pesimis. Kalau dari sakit fisik, ditandai dengan membludaknya jumlah penderita permasalahan medis yang diderita masyarakat negeri ini.
Di daerah saya, Medan, sudah merupakan kelaziman bila orang sakit ramai-ramai berobat ke negeri tetangga, Malaysia atau Singapura. Katanya sih, selain murah, pelayanan di sana juga lebih profesional bila dibandingkan dengan di dalam negeri. Katanya pula, profesionalitas ini terjadi karena dokter-dokter di sana tidak terlalu disibukkkan dengan banyak rumah sakit. Mereka hanya fokus kepada 2-3 rumah sakit. Makanya, mereka bisa fokus kepada penyembuhan pasien. Masih dari info yang saya terima, kondisi ini tidak terjadi di Indoensia dimana para dokter terlanjur disibukkan dengan banyak rumah sakit dan tempat praktik. Makanya, penanganan pasien menjadi tidak maksimal. Apa benar seperti ini ya? Wallahu a'lam.
Tapi memang aneh ya?.
Rasanya, julah rumah sakit semakin bertambah bukan?. Fasilitas dan layanannya juga semakin beragam. Namun, jumlah orang sakit semakin bertambah ya, Bahkan jenis sakit juga muncul yang aneh-aneh. Makanya, kenalan saya -seorang ustaz- mengatakan bertambahnya orang sakit fisik meskipun jumlah dokter dan rumah sakit bertambah, menandakan bahwa keberkahan kesehatan sedang dicabut di negeri ini. Menurutnya, penyebabnya bisa saja karena tenaga medis sudah tidak ikhlas dalam mengemban profesi mulia ini. Orientasinya mungkin hanya uang dan karier semata dan bukan misi ibadah dan amal jariyah. Saya sebenarnya tidak terlalu mempercayai hipotesis ini. Perlu pembuktian lebih kanut. Meskipun, kadang kala bukti di lapangan sepeti membenarkannya.
Itu terkait dengan penyakit fisik. Nah, bagaimana pula dengan penyakit mental yang ditandai dengan meningkatnya jumlah penderita sakit jiwa di Indonesia?.
Saya pernah bertanya dengan seorang pegawai rumah sakit jiwa. Menurutnya, jumlah pasien jiwa memang benar-benar meningkat. Ada yang mengalami stress ringan, sedang, bahkan berat dan mengarah kepada kegilaan. Penyebabnya? bervariasi. Entah karena masalah ekonomi, masalah perkawinan ataupun sosial.
Minggu ini, publik Indonesia kembali dikejutkan dengan berita heboh berupa vaksin palsu yang disuntikkan ke beberapa ratus balita di Indonesia. Praktik ini ditengarai sudah berlangsung lama namun baru diketahui saat ini. Pelakunya saya sebut orang sakit. Sakit mental tepatnya. Bayangkan, hanya orang yang tidak waras-lah yang mau melakukan tindakan keji seperti ini. Merusak fisik para bayi yang merupakan harapan bangsa hanya bisa dilakukan oleh orang gila dan sakit. Orang waras dan sehat tidak akan mampu melakukan tindakan ini. Hati nuraninya pasti akan memberontak dan menangis ketika melakukan ini.
Namun kenyataannya?. Tetap saja ada orang yang melakukannya. Makanya, saya setuju apabila pelaku tindakan ini dihukum keras, direhabilitasi dan diisolasi dari masyarakat. Orientasi mereka, saya kira, bukan sekedar mencari untung bisnis semata. Orientasi membunuhnya lebih dominan terlihat, bukan?
Vaksin palsu itu memupus harapan kita akan generasi emas. Generasi yang sering disebut dengan Children of Heavens, Anak-Anak Surga. Sebutan ini saya pinjam dari sebuah film produksi Iran yang disutradarai oleh Majid Majidi pada tahun 1997. Film ini menceritakan seorang anak dari keluarga miskin yang berjuang untuk memberikan hadiah sepatu kepada adiknya. Sebutan "Anak-Anak Surga" itu dperuntukkan bagi anak-anak yang berjiwa bersih, fitrah dan mementingkan kepentingan orang lain.
Hemat saya, kemajuan negeri ini di masa depan tergantung kepada seberapa banyak Children of Heaven yang kita miliki saat ini. Semakin sedikit maka semakin gawatlah masa depan negeri ini.
Nah, mengapa sedikit pesimis?
Tidak lain karena upaya kepada "pemberangusan" Anak-Anak Surga ini semakin nyata. Ternyata tidak hanya mental dan spiritual mereka yang dirusak, fisik mereka pun rentan dan tak luput dari upaya pelemahan. Kalau dari sisi mental spitual, maka upaya ini dapat terlihat dari menyebarnya narkoba, minuman keras dan media yang secara sengaja atau tidak melakukan "brain washing" pencucian otak. Entah itu dengan tayangan TV, internet ataupun media cetak. Tayangannya sampah dan tidak berguna semakin bertambah. Dan, sayangnya diminati.
Lalu, apa yang bisa kita lakukan?
Tentunya menjaga buah hati kita dari semua bahaya dan ancaman nyata tersebut. Selebihnya, tanggung jawab ini kita serahkan kepada pihak yang berwajib. Mereka akan dimintai Allah pertanggung jawaban jika Children of Heaven negeri ini dirusak dan rusak karena keteldoran dan ketidakpedulian.
Lalu, apa lagi yang bisa kita lakukan?
Tentu saja berlindung kepada Allah Sang Pencipta anak-anak kita itu. Di tangan-Nya segala kuasa dan tempat berlindung.
Lalu, apa lagi yang bisa kita lakukan?
Tentu saja, untuk menciptakan Children of Heaven, maka negeri ini juga perlu banyak Parents of Heaven, Orang-Orang Tua Surga. Di tangan mereka anak-anak surga itu diciptakan. Berani?
Saya hanya berdoa, mudah-mudahan anak-anak negeri ini selalu dilindungi Allah dan Dia segera membersihkan negeri ini dari ancaman orang-orang sakit mental dan spiritual yang dengan sengaja menghancurkan generasi emas kita. Amin. Wallahu a'lam.
Comments
Post a Comment