Day#13 Seri Syawal 2016: Risih Dengan Tuhan?: Sekuler Komunal Vs Sekuler Individual

By: M. Ridwan

Turki itu negeri eksotis. Bagi yang pernah ke sana, penggambaran akan Turki memang cukup membuat kita ingin ke sana. Saya juga baru tahu bahwa bunga Tulip sebenarnya bukan berasal dari Belanda. Negeri asal bunga Tulip itu adalah Turki..!!!. Belanda  hanya kecipratan nama beken karena Tulip. Gak percaya bukan?

Makanya, topi para Sufi yang banyak berasal dari Turki itu, berbentuk lancip ke atas. Di Indonesia biasa disebut "Lobe Lancip". Kebetulan daerah asal saya yaitu Langkat, adalah salah satu markas Tarekat Naqsabandiyah. Salah satu kekhasan yang saya lihat adalah  adanya topi putih dimana ujungnya runcing untuk menggambarkan tujuan para salik -istilah untuk pengamal tarekat - menuju Tuhan. Nah, menurut informasi yang saya dapat, inspirasi topi ini berasal dari bunga Tulip ini. Turki memang keren. Ia adalah negeri blesteran, setengah Asia, setengah Eropa.

Namun, tidak hanya soal bunga, Turki juga adalah ikon kejayaan Islam. Turki adalah "Magnificent Century of Islam"., Peradaban Mengagumkan dimana kekuasaan Islam pernah ada di sana selama ratusan tahun. Ya, kekuasaan Ottoman Empire yang mengesankan yang sering diangkat ke layar lebar.

Namun, kita tentu tahu bagaimana akhir kekhalifahan Islam di bumi Turki. "Sad Ending", Akhir yang menyedihkan. Adalah Mustafa Kemal Attarturk biang keroknya. Karenanya, Turki menjadi negeri sekuler. Idenya memisahkan agama dengan urusan politik dan budaya menjadi awan kelabu di bumi Turki yang kemudian ditangisi oleh muslim sedunia.

Apa itu sekuler?
Sekuler adalah memisahkan agama dengan urusan dunia dalam segala bidang. Di Turki, kebijakan ini diwujudkan dengan pelarangan penggunaan simbol agama di smua bidang. Entah itu pakaian, seremonial keagamaan dan pendidikan. Pokoknya, jangan cerita agama di bidang politik, budaya dan ekonomi. Pengawal utamanya adalah militer. Tentu saja yang jadi sasaran adalah Islam. Sanking parahnya, bahkan azan di Turki tidak lagi menggunakan bahasa Arab. Sebagai gantinya adalah bahasa Turki.

Sekuler, sekulerisasi dan sekeluerisme itu terjadi di Turki. Namun, pada masa Erdogan, kebijakan ini dirombak. Angin perubahan berhembus di negeri ini. Tahun 2013, parlemen Turki malah mengganti peran militer tidak lagi sebagai pengawal sekulerisme. Tugasnya hanya menjaga stabilitas Turki. Makanya, Turki di era Erdogan menjadi harapan baru muslim dunia khususnya restorasi kekhalifahan Islam yang telah hilng sejak tahun 1924 lalu. Makanya, ketika kudeta terjadi, pihak militer dicurigai berupaya untuk mngembalikan sekulerisme ini. Tapi, ternyata tidak juga, justru gerakan Fetahullah Gulen yang disorot. Gerakan ini memang punya pengaruh besar di Turki termasuk yang mengantarkn Erdogan le tampuk kekuasaan. Alhasil, kita pasti bingung, bukan? Wallahu a'lam. Saya dan Anda mungkin Anda tidak tahu banyak tentang Turki. Mudahan-mudahan Erdogan dan Gullen segera akur lagi. Sayang kan? Mereka orang baik. Orang baik jangan bermusuhan. Nanti dikutuk Tuhan.

Kita tinggalkan Turki. Kita lihat negeri unik bernama Indonesia ini. Indonesia ini aneh juga ya? Terutama ketika menyikapi konflik Turki. Soalnya,Turki yang sedang konflik namun publik kita yang cukup ribut. Begitu yang saya amati dari sebuah diskusi FB. Hehe..Namanya partisipasi ya bro?

Saya sih liht dari sudut yang lain saja. Berdasarkan sebuah pertanyaan, "Mungkinkah sekulerisasi terjadi di Indonesia? Demikian yang ditanyakan beberapa rekan FB.

Kapasitas saya sangat minim untuk menjawabnya -untuk mengatakan tidak ada-. Yang saya tahu, bahwa salah satu faktor kelahiran Ekonomi Islam adalah untuk menghempang paham sekuler dalam aktifitas ekonomi. Selama ratusan tahun, ekonomi sudah kadung dianggap value free. Bebas nilai apalagi nilai agama. Makanya, tidak heran, kalau dalam sebuah transaksi bisnis orang akan tertawa jika nilai agama di bawa. Orang akan terpingkal-pingkal bila disebutkan bahwa aktifitas ini itu dilarang agama. Hehe, tapi itu dulu ya...Angin perubahan sudah terjadi. Khususnya di Indonesia. Meskipun, saya kira, belum cukup. Maih seputar lembaga keuangan sih. Penetrasi nilai agama dalam aktifitas ekonomi lain masih minim. Silahkan buktikan di berbagai lini kegiatan ekonomi. Apakah nilai agama tercermin di dalamnya?

Di bidang lain, sekulerisasi juga terjadi. Lihat apa yang terjadi dengan dunia pendidikan kita. Saya pernah bertemu dengan seorang professor pendidikan di Jakarta. Dia bertanya, tahukah Anda mengapa Indonesia terpuruk dan seperti kehilangan identitas diri? Dia menjawab sendiri bahwa pemisahan agama dan pendiikan menjadi biang keroknya. Syukurnya, upaya integrasi agama dan pendidikan sedang berlangsung di Indonesia. Kita juga pantas bersyukur bahwa beberapa instansi negeri ini sudah semakin akrab dengan simbol-simbol agama khususnya Islam. 

Artinya secara regulasi, maka Indonesia "berat" dan kecil kemungkinan untuk menjadi negara sekuler terutama yang saya sebut  "sekuler komunal".  UUD dan Pancasila tidak membuka peluang itu. 

Namun, ada satu celah yang saya kira harus kita tutup. Apa itu? Saya menyebutnya, "sekuler individual". Sekuler jenis ini ditandai dengan perasaan "risih dengan Tuhan".

Nah, perasaan risih dengan Tuhan bisa dalam bentuk risih dengan simbol agama, misal jilbab. Atau merasa banyak hambatan ketika Tuhan dimasukkn ke dalam kegiatan. Pernah dengar ungkapan seperti ini? Jangan bawa Tuhan dalam hal ini ya, ini cerita dunia saja. Kita tidak lagi di mesjid."

Aau, pernahkah kita mendengar ungkapan, "jangankan yang halal, yang haram saja susah",? Nah, saya kira,  itu termasuk indikator bahwa bibit sekuler individual sudah kita miliki.

Atau, jangan marah ya,
Ketika kita menyamakan bank konvensional dengan bank syariah dan menyatakan bahwa mereka sama saja, bisa jadi kita sudah risih juga ya dengan simbol-simbol agama? Hehe..Termasuk risih dengan suara azan ya?. Entahlah..

Memang, perasaan risih dengan Tuhan itu adalah fenomena manusia dari jaman ke jaman. Iblis memang membisikkan hal ini. Tinggal seberapa kuat kita melawannya.

So, untuk menjawab pertanyaan rekan saya tadi, apakah Indonesia ini negara sekuler atau tidak, cukup dengan pertanyaan, "Seberapa risih kita dengan Tuhan? Seberapa takut kita dengan aturan Tuhan? Dan seberapa bahagia kita jika nilai-nilai ketuhanan tidak masuk dalam kehidupan kita?

Mudah-mudahan, kita tidak tidak termasuk orang yang risih dengan Tuhan. Dan semoga kejadian Turki tidak menimpa negeri kita ini. Amin, wallahu a'lam.

Comments

Popular posts from this blog

Tragedi Mesjidil Haram: Momen Untuk Mengevaluasi Shariah Finance di Dunia

We are at The Crossroad? (Catatan AICIS 2015 Bagian 1)

Leader and Welfare: Seberapa Dekat Hubungannya?