Day#12 Seri Syawal 2016: Kudeta Turki: Common Enemy Salah Kaprah

By: M. Ridwan

Pandangan dunia kali ini pasti mengarah ke Turki. Apalagi kalau bukan karena kudeta yang dilakukan sebagian militernya terhadap Erdogan -Pemimpin kharismatik Turki-. Peristiwa di negeri yang dilalui Selat Bosporus ini sontak menjadi headline media dunia tak terkecuali Indonesia. Kok bisa ya?

Namanya, juga manusia. Masalah kekuasaan itu adalah ambisi manusia sejak turun-temurun. Tentu saja memiliki ambisi tidak dilarang sih. Apalagi kalau bertujuan untuk menyebarkan keadilan dan memakmurkan negeri. Alquran menyebutnya dengan berlomba-lomba melakukan kebaikan.
Tapi, apa yang terjadi di Turki saya kira berbeda. Tidak terlihat unsur perlombaan kebaikan di dalamnya. Masak sih gara-gara memperjuangkan kebaikan harus saling membunuh dan bertikai?. Sehingga, apa yang terjadi di Turki bisa saja  mempertegas keyakinan kita, bahwa karakter manusia itu memang ambisius, sombong dan mungkin juga serakah.

Negara Turki ini cukup sangat spesial bagi publik Islam khususnya Indonesia. Negara ini menjadi penghilang dahaga kita akan hadirnya kembali kekhalifan Islam pasca runtuhnya Ottoman. Terlepas dari itu, Turki memang diramalkan akan menjadi negara adikuasa. Dalam bukunya "The Next 100 Years" Friedman mengadang-ngadang bahwa Turki akan menjadi kekuatan besar dunia mengalahkan China, India apalagi US dan Rusia. Saya suka membaca buku ini. Silahkan ditelaah bukunya.

Petunjuk ke arah ini bukan tanpa alasan. Menurut proyeksi Goldman Sachs, ekonomi Turki dapat menembus 10 besar dunia, pada tahun 2050. Kekuatan ekonominya terus tumbuh dengan baik. Selanjutnya, setelah dalam beberapa dekade mendapat bantuani (NATO), militer Turki saat ini merupakan kekuatan regional terbesar di Timur Tengah. Mungkin yang paling strategis, posisi geopolitik Turki yang berada dipersilangan antara Eropa, Timur Tengah dan Asia Tengah. Turki negara mayoritas muslim (99 persen) yang berdiri di atas reruntuhan Byzantium, dan nampaknya dapat menjembatani tradisi Islam dan Yahudi-Kristen, bahkan saat ini Turki duduk bersama dengan kekuatan dunia lainnya menghadapi masalah-masalah global. Demikian yang saya baca di berbagai sumber internet.

Namun, kudeta ini memunculkan pertanyaan kepada kita. Kok bisa ya?
Ternyata, di dalam negeri Turki memang ada friksi. Kita tidak tahu sebabnya. Mungkin saja kebijakan Erdogan yang tidak disetujui atau memang ada upaya sistematis untuk menghempang laju Erdogan yang cukup menarik simpatik masyarakat Turki dan dunia. Saya kira ada hubungan juga dengan kasus bom bunuh diri yang terjadi di bandara Turki beberapa waktu lalu ya. Entahlah..

Nah, saya kira, ada baiknya kita menyingkap musuh bersama-lah. Istilah kerennya common enemy. Saya kira ini sangat penting. Jangan-jangan, karena ketidaksadaran kita terhadap musuh bersama menyebabkan kita justru disibukkan dengan musuh "buatan" yang pada akhirnyamengkaburkan musuh sebenarnya.

Siapa musuh bersama kita?
Salah satunya mungkin ideologi sekuler yaitu ideologi yang mencampakkan agama dan memisahkannya dari kehidupan dunia. Ideologi ini berdampak pada terpuruknya manusia di segala bidang. Baik itu politik, ekonomi, seni budaya dan sosial. Turki bisa menjadi contoh negara yang awalnya religius Islami kemudian berubah menjadi sekuler dan kemudian menjadi relijius kembali di bawah pimpinan Erdogan. Denger-denger, kebijakan Erdogan ini tidak disenangi pihak-pihak yang ingin Turki tetap dalam kondisi sekulernya. 

Jika ideologi sekuler menjadi musuh bersama, maka tampilannya bisa saja dalam berbagai bentuk. Wujudnya tidak mesti manusia karena negara Barat juga menghadapi kondisi yang sama. Ada keprihatian para agamawan di negara-negara Barat bahwa agama mereka akan ditinggalkan juga. Sebabnya karena ideologi sekluer ini. Apa artinya, musuh bersama seluruh manusia di bumi ini seharusnya adalah ideologi sekuler ini. Sayangnya, terkadang Barat sudah kadung menjadikan Islam sebagai musuh bersama bukan? Tidak fair nih...

Tapi oke-lah.  Membahas sikap Barat terhadap Islam tentu tidak akan habis-habisnya. Saya kira, kita melihat Islam saja-lah dulu. Kalau kita lihat ke dalam Islam, maka siapakh musuh bersama kita?

Hemat saya, musuh bersama kita tentunya bukan sesama muslim. Toh, kita sama-sama mengucapkan kalimat syahadat, kok. Masak sih, sesama muslim yang mengaku bertuhan yng sama yaitu Allah dan Nabi yang terakhirnya adalah Muhammad, bisa saling bermusuhan?. 

Maka, tak heran, kalau Bang Abu Syahrin -senior saya di kampus- mengatakan bahwa umat muslim saat ini sudah salah kaprah dalam menentukan siapa musuhnya. Menurutnya, karena ketiadaan musuh bersama, maka kaum muslimin mudah bermusuhan. Mereka mudah bertikai, saling mengkafirkan bahkan berperang. Tragis ya....

Tentu, kalau dipandang dari perspektif per-Iblis-an, skenario ini memang dipakai yaitu menumbuhkan permusuhan dan kebencian di hati anak manusia. Tiada hari tanpa bertikai, tiada hari tanpa mencari lawan tanding. Namun, kalau trik Iblis sudah diketahui, mengapa umat Islam masih suka bermusuhan?.

Kalau begitu, apakah Iblis adalah musuh bersama kita?
Jawabnya, absolutely, yes. Dia dan tim-nya adalah musuh bersama kita.  Tapi pasti tidak mudah menemukan Iblis dalam bentuk fisik bukan? Sehingga, kendati kita tahu bahwa Iblis itu adalah musuh yang nyata, namun kenyataannya kita memang tidak merasakan kehadirannya. Iblis tidak pernah ke-gatel-an melakukan pameran Iblis atau Iblis Fair 2016, gitu.  Tak ayal, manusia pun mencari pengganti Iblis -dalam perspektif dirinya sendiri-. Gawat bukan?. Bisa main asal tunjuk nantinya. Saya kira kondisi sudah terjadi di kehidupan kita. Buktinya, banyak umagt Islam yang karena kesulitan menemukan "Iblis" lantas menjadikan sesama muslim lain menjadi musuhnya. Tiada hari tanpa permusuhan dan kebencian. Wah berabe nih.

Justru di sinilah peran hati kita untuk mampu mendeteksinya. Prinsipnya, kalau sebuah bara permusuhan muncul, maka Iblis-nya pasti sudah kelihatan di situ, meskipun, permusuhan itu mungkin saja diawali oleh hal-hal yang terkesan logis, wajar dan masuk akal. Misal, permusuhan memperebutkan jabatan, kekuasaan dan pengaruh. Wong, dalam perebutan menjadi ketua BKM mesjid pun, Iblis bisa nimbrung, konon pula perebutan kekuasaan dunia atau harta benda. Ngeri, bukan? 

Makanya, bagi orang yang lagi bersaing memperebutkan apapun bentuk kekuasaan atau pengaruh, silahkan saja, tapi pastikan dulu bahwa Iblis-nya sudah kabur duluan. 

Caranya?, Kata nabi, bersihkan niat dulu. 
Apakah niat berkuasa-nya untuk mensejahterakan manusia atau menebarkan keadilan?. Kalau ini niatnya, silahkan lanjut. Orang yang punya niat seperti ini biasanya akan menggunakan cara-cara yang elegan dan tidak memanfaatkan cara-cara Iblis di dalamnya.  Kalau ia berhasil, maka keberadaannya akan bermanfaat dan diberkahi. Kalaupun gagal, maka ia akan berlapang dada dan tidak melakukan kudeta seperti yang dilakukan sebagian militer Turki, iya kan?

Lalu, bagaimana kalau orang memulai permusuhan dengan kita?
Kondisi ini memang berat. Tapi, saya kira, berperang dan adu fisik itu adalah jalan terakhir. Ada cara yang lebih berat dari berperang. Apakah itu? Tentu saja mendoakan orang yang bermusuhan dengan kita. Itulah yang dilakukan Rasul ketika sampai di negeri Thaif bukan?. Meskipun ia dilempar batu dan diejek, rasul tetap menolak bantuan Jendral Malaikat yaitu Jibril- untuk menjatuhkan "bom" berupa gunung kepada penduduk itu. Rasul malah mendoakan penduduk Thaif yang menurutnya pasti belum mengetahui risalah yang dibawanya. Bukannya, marah, ia malah mendokan moga generasi Thaif akan memahaminya.

Apa artinya itu bro?. 
Ternyata ada yang lebih sulit dari berperang lho. Ya, mendoakan musuh supaya mendapatkan kebaikan. Itu adalah jihad hati yang luar biasa berat. Apakah kita mampu melakukannya?.  Insyallah bisa. Inti tulisan ini hanya satu yaitu "Jangan salah kaprah dalam menentukan musuh bersama". Saya masih ingat nasehat guru SD dulu, "Seribu teman itu masih sedikit, dan seorang musuh itu sudah sangat banyak". Mumpung masih Syawal nih, yuk perbanyak teman dan mendoakan mereka. Mudah-mudahan, kudeta Turki tidak terjadi di Indonesia. Amin.  Wallahu a'lam

"Rasulullah SAW bersabda, "wahai Uqbah, bagaimana jika kuberitahukan kepadamu tentang akhlak penghuni dunia dan akhirat yang paling utama? Hendaklah engkau menyambung hubungan persaudaraan dengan orang yang memutuskan hubungan denganmu, hendaklah engkau memberi orang yang tidak mau memberimu dan maafkanlah orang yang telah menzalimimu." (HR.Ahmad, Al-Hakim dan Al-Baghawy).

  

Comments

Popular posts from this blog

Tragedi Mesjidil Haram: Momen Untuk Mengevaluasi Shariah Finance di Dunia

We are at The Crossroad? (Catatan AICIS 2015 Bagian 1)

Leader and Welfare: Seberapa Dekat Hubungannya?