Melongok “Potensi” Permusuhan Manusia: Mewanti-Wanti Perang Dunia Ke-III



Oleh: M. Ridwan

“I know not with what weapons World War III will be fought, but World War IV will be fought with sticks and stones” (Albert Einstein)

Lupakan sejenak tentang hiruk pikuk negeri ini. Alihkan sejenak pandangan kita dari tontonan elektronik ala sinetron dan lagu-lagu bertema romantis, cengeng dan picisan tentunya (sorry J). Sejenak mari kita layangkan pandangan ke dua negeri yang sedang bersiap-siap untuk perang. Turki dan Rusia tentunya. Biang masalah adalah “keberanian” Turki menembak jatuh pesawat Rusia yang berani masuk ke wilayahnya. Rusia yang menyangkal berkilah mengatakan bahwa pseawatnya tidak di wilayah negeri Erdogan itu. Apapun ceritanya, pesawat Rusia sudah jatuh dan membuat berang negeri Vladmir Putin ini.  

Pangkal cerita dua negeri ini tentu saja Suriah. Negeri -dengan ibukota Damaskus yang dulu dikenal dengan nama Syam, tempat tujuan perniagaan Rasul- penuh polemik dan bara api ini seakan terus memercikkan baranya. Dan, kali ini, Turki dan Rusia terkena cipratannya. Turki dan Rusia memang berbeda pendapat mengenai Basyar Hafiz al-Asad (presiden Suriah saat ini). Turki menghendaki Asad turun namun sebaliknya Rusia justru ingin mempertahankannya. Berabe kan?

Apakah mereka akan berperang?

Mungkin iya, mungkin juga tidak. Keduanya memiliki kekuatan besar. Rusia dengan status “mantan” negara adidaya ini tentu bukan lawan tanding yang seimbang dengan Turki (kalau Turki sendirian). Masalahnya, Turki adalah salah satu anggota NATO. Negeri ini bergabung setelah masa perang dingin terjadi. Fakta Pertahanan Atlantik Utara ini didirikan pada tahun 1949 dan berkomitmen untuk saling melindungi negara anggotanya. Serangan atas satu negara anggota NATO dapat diartikan sebagai serangan terhadap seluruh negara anggota. Dan, tentu mereka akan berada di belakang Turki apalagi pecah perang nantinya. Perang Dunia Ke-III pasti akan mencoreng kembali sejarah dunia.

Saya menemukan beberapa tulisan atau buku yang meramalkan bahwa perang dunia ke-III akan benar-benar terjadi. Misalnya buku dengan judul “Towards a World War III Scenario” karya Michel Chossudivsky. Bukunya bagus dan menyimpulkan bahwa industri militer dalam hal ini nuklir memang berperan besar dalam menciptakan Perang Dunia Ke-III nantinya. Lihat, betapa hebatnya dunia bisnis, bahkan perang-pun bisa menjadi sarana mencari keuntungan.

Lagi-lagi, perang. Tidakkah itu menakutkan?. Kalau sekedar perang dalam games, tentu seru saja menyaksikan tembak-tembakan pesawat dan saling serang antar kapal selam dan tank. Namun, membayangkan perang dalam bentuk sesungguhnya, saya kira, tak seorangpun manusia normal dan berhati nurani yang menginginkannya.

Saya kira, sebelum perang dunia ke-III terjadipun, kita sudah seperti dalam keadaan perang. Tapi tentu bukan perang fisik dengan melibatkan senjata-senjata mematikan. Kamus Umum Bahasa Indonesia menyebut perang sebagai permusuhan. Entah itu permusuhan ideologi, agama, suku, atau ekonomi.  Makanya, kita akrab dengan istilah perang ideologi, perang mata uang, perang budaya, perang melawan narkoba, perang melawan kemiskinan termasuk perang melawan korupsi. Wah, jadi melebar begitu ya…?

Apapun bentuknya, perang selalu menimbulkan korban. Biasanya korbannya adalah manusia yang lemah. Seperti orang tua, perempuan atau anak-anak. Sejarah telah membuktikan itu.  Belum lagi korban perasaan dan abadinya kebencian dan permusuhan itu sendiri. Lihatlah apa yang terjadi dengan Baghdad. Jutaan buku, ratusan kampus dan jutaan penduduk tewas. Entah karena serangan Hulagu Khan atau ketika perang Teluk Terjadi.  Atau, ketika Hiroshima dan Nagasaki hancur tak bersisa, dimanakah hati nurani ketika itu?

Potensi berperang dan permusuhan yang dimiliki manusia memang sudah di wanti-wanti oleh malaikat ketika Adam akan diciptakan. Sayangnya, Iblis sebagai musuh manusia, sangat memahami dan memanfaatkan potensi ini untuk menjadikan manusia terus bermusuhan dan saling membunuh. Hal ini dibuktikan Iblis dengan menjadikan api permusuhan itu menyala di hati Qabil –putra Adam- yang merasa iri dan dengki dengan Habil –saudara kandungnya sendiri-.  Titik kulminasinya adalah terjadinya pembunuhan atas diri Habis. Iblis sangat serius menggunakan potensi permsuhan ini. Dan, ia agaknya berhasil.

Sejarah mencatat ribuan peperangan yang dilakukan manusia. Beberapa di antaranya seperti: Ekspansi Romawi (202 SM-476 M), Perang Yarmuk (636 M), Perang Qadisiyyah (636 M), Perang Salib (1096-1270), Ekspansi Mongol (1214-1227),  Perang 7 Tahun, Inggris dan sekutunya melawan Perancis dan sekutunya, Perang Napoleon (1799-1813), Perang Dunia I (1914-1918), Perang Dunia II (1939-1945), Perang Vietnam (1957-1975), Perang Korea (1950-1953), Perang 6 Hari (Arab - Israel, 5 Juni 1967 sampai 11 Juni 1967), Perang Teluk, Perang Israel-Palestina dan tentu saja Perang terhadap terorisme (2001-Sekarang).

Memang, ada manusia yang mencoba membedakan dua jenis perang yaitu perang karena semata-mata nafsu angkara  dan ambisisi kekuasaan dan kekayaan dengan perang untuk membela kebenaran dan keadilan. Jenis kedua dianggap dapat ditolerir karena berupaya untuk menciptakan perdamaian.

Sayangnya, manusia terkadang sangat subjektif untuk mengukur keadilan dan kebenaran itu termasuk cara menciptakan perdamaian. Makanya, WAR ON TERORIST, kendati berniat untuk menghancurkan terorisme, justru sedikit banyak justru memunculkan terorisme itu sendiri.

Saya khawatir, bahwa dalam usia kita ini, dalam masa modern ini, perang dunia Ke-III benar-benar akan kita saksikan. Entah itu antar blok negara apa saja.

Orang sekaliber Albert Eintein –yang menemukan bom nuklir- jauh-jauh hari mengatakan “Aku (memang) tidak tahu senjata apa yang digunakan oleh manusia ketika perang dunia ke-III nantinya, (namun yang jelas), dalam Perang Dunia ke-IV nantinya, manusia akan menggunakan tongkat dan batu (sebagai senjata)”. Artinya, ketika perang dunia ke-III pecah, nuklir mungkin akam meluluh-lantakkan bumi dan membinasakan sebagian besar manusianya, namun potensi berperang terus akan muncul di hati manusia dan membawa mereka ke Perang Dunia Ke-IV, dan meskipun senjata yang tersisa adalah kayu dan batu, namun manusia tetap akan berperang. Menyedihkan…

Makanya, terkadang, saya hampir setuju dengan ungkapan Micheal Jackson dalam lagunya “Imagine” yang fenomenal itu:

Imagine there's no countries (bayangkan seandainya tidak ada negara-negara)
It isn't hard to do (Tidak suit melakukan itu)
Nothing to kill or die for (Sehingga tidak ada alasan untuk membunuh dan mati)
And no religion too (Seandainya tidak ada agama)
Imagine all the people living life in peace, you (Bayangkan semua manusia hidup damai)

You may say I'm a dreamer (Kamu mungkin katakana bahwa aku bermimpi)
But I'm not the only one (Namun, bukan haya aku satu-satunya)
I hope some day you'll join us (Kuharap suatu hari, kamu akan bergabung dengannku)
And the world will be as one (Dan dunia akan menjadi satu)

Hehe,, Jacko mungkin sangat galau dengan keadaan dunia. Tertekan dengan konflik di semua belahan dunia.  Tapi, saya kira,  Jacko-pun ternyata tidak bisa memenangkan konflik batinnya, sampai akhir hayatnya.

Makanya, lupakan saja tentang perang dunia ke-III ini. Kita doakan semoga tidak terjadi.  Biarlah kita konsen memerangi nafsu angkara yang mungkin bersemi di hati ini. Menyiramnya dengan kecintaan kepada Tuhan dan manusia. Insyallah, kedamaian akan tumbuh dan menang, kendati nantinya Perang Dunia benar-benar terjadi.  

 




Comments

Popular posts from this blog

Tragedi Mesjidil Haram: Momen Untuk Mengevaluasi Shariah Finance di Dunia

We are at The Crossroad? (Catatan AICIS 2015 Bagian 1)

Leader and Welfare: Seberapa Dekat Hubungannya?