Being Human in Digital Civilization: Mungkinkah Kita Hanya Disibukkan Oleh Fitur-Fitur Jaman?
Oleh: M. Ridwan
“With or without us, the
digital civilization is forming a new way of being human”. (www.questia.com)
Kita hidup di tengah dunia yang
demikian majunya. Apa yang tidak ada saat ini?. Hampir semuanya ada, bukan?. Beragam
imajinasi manusia yang sebelumnya hanya berbentuk abstrak telah mampu
diwujudkan dalam bentuk nyata. Entah itu dalam bentuk rekayasa genetik di
bidang kedokteran, pertanian, atau mekanik.
Hasilnya, benar-benar menakjubkan. Membuat decak kagum dan pujian. Imajinasi
manusia telah benar-benar berhasil membawa manusia memasuki peradaban yang
mungkin saja tidak terbayangkan sebelumnya.
Belum lagi dalam bidang digital. Luar biasa. Matt Sutton, Vice President of Social Komli Media
dalam Social Media Week 2015 bertajuk
“The Evolution Social and the Impact of Tech: Brand, Performance,
and Brand” mengatakan, era digital berkontribusi terhadap peningkatan
mobilitas, termasuk juga diversifikasi pekerjaan, dan dalam bidang pemasaran
menyebabkan lahirnya digital marketing yang
menuntut selalu “content is the king”
Kita mungkin tidak pernah
membayangkan, katakanlah, 30 tahun yang silam untuk dapat terkoneksi dengan ribuan
atau jutaan manusia lainnya di planet ini. Namun kini, itu adalah hal yang
biasa. Thanks kepada teknologi informasi yang melahirkan media sosial.
Atau, kita mungkin belum mampu membayangkan
beragam penyakit yang dulunya mungkin masih dianggap kutukan,
sihir dan misterius, katakanlah seperti campak, tumor, bahkan kanker, sekarang ini ternyata mampu disembuhkan. Dunia kedokteran masa kini, telah berhasil
mengatasi penyakit-penyakit tersebut satu- persatu. Teknologi radiasi atau stem cell telah ditemukan. Thanks to inovation
di dunia kedokteran.
Mungkin saja 200 tahun lalu, kita
membayangkan bahwa lalu-lalang mengelilingi Indonesia atau bahkan dunia dengan
mudah dan nyaman adalah mimpi??. Katanya, tindakan itu, hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kemampuan khusus saja seperti ilmu “raga sukma” atau menembus dimensi waktu, namun, sekarang, teknologi
penerbangan dan transportasi telah juga memungkinkan hal itu. Pesawat supersonic
melebihi kecepatan suara berseliweran setiap harinya di langit biru. Kendati,
manusia masih belum bisa memecahkan misteri perjalanan antar dimensi. Saya
kira, beberapa ratus ke depan, teknologi untuk itu akan tersedia. Sabar
menunggu ya, mudah-mudahan panjang umur ya,:)
Allah memang telah memberikan
peluang kepada manusia untuk mampu menggunakan pikirannya untuk berimajinasi
setinggi mungkin dan mewujudkannya dalam inovasi di segala bidang. Meski,
terkadang imajinasi dan kemampuan berpikir yang diberikannya tersebut malah
digunakan untuk menghasilkan produk-produk pikiran yang menentang Diri-Nya
sendiri. Lihat, bagaimana hasil pikiran fisikiawan dunia seperti Stephen Hawkings yang dengan
“kepintarannya” akhirnya berkesimpulan bahwa Tuhan itu tidak ada?. Lucu bukan?.
Atau, produk pikiran manusia untuk mengusung kebebasan, misal bebas telanjang, bebas melakukan penyimpangan
seksual, dan bebas tidak bertuhan.
Manusia yang “katanya” inovatif
juga akhirnya mampu menciptakan kreasi-kreasi baru dalam bidang ekonomi. Dalam bisnis, misalnya, dengan melakukan sophistikasi dalam menciptakan
fitur-fitur baru cara mencari uang dengan sophistikasi riba (membungakan uang). Kalau dulu, riba yang dikenal itu
hanya dalam bentuk penambahan uang ketika jatuh tempo atau dipersyaratkan di
awal, namun dengan teknologi digital, riba bisa dikemas dengan sistem online
dengan atas nama trading mata uang (valas), emas, minyak, index, atau saham tanpa ada barangnya.
Sehingga, zero sum game dalam perjudian bisa dikemas dan ditutupi dengan istilah yang lebih “santun dan intelek” seperti “high risk high return”, atau profit. Intinya, "mau dapat untung banyak ya harus siap tanggung risiko". Muncullah jenis bisnis baru seperti short selling, margin trading, dll. Uang yang dihasilkan bisa lebih banyak, hanya dengan menekan tombol keyboard dan mempelototi layar komputer. Semua itu, adalah hasil dari produk pikiran manusia tadi. Canggih sekali.:)
Sehingga, zero sum game dalam perjudian bisa dikemas dan ditutupi dengan istilah yang lebih “santun dan intelek” seperti “high risk high return”, atau profit. Intinya, "mau dapat untung banyak ya harus siap tanggung risiko". Muncullah jenis bisnis baru seperti short selling, margin trading, dll. Uang yang dihasilkan bisa lebih banyak, hanya dengan menekan tombol keyboard dan mempelototi layar komputer. Semua itu, adalah hasil dari produk pikiran manusia tadi. Canggih sekali.:)
Untunglah, Allah tidak cepat
marah dengan tingkah polah manusia saat ini. Allah tidak serta menurunkan azab seperti
yang dilakukannya kepada umat-umat dahulu. Allah masih memberikan kesempatan
kepada manusia untuk menggunakan pikiran yang diberikan-Nya untuk kembali kepada
jalan yang lurus (hanif). Kesempatan tidak datang dua kali bukan?
Fitur-Fitur Jaman, Apakah Itu?
Salah satu dampak kemajuan
pikiran manusia yang diwujudkan dalam bentuk inovasi tadi adalah semakin
sibuknya manusia dalam mengendalikan dan utilisasi produk-produk tersebut. Mengendalikan
fitur-fitur jaman. Fitur jaman yang dimaksud adalah derivasi dari berbagai produk
atau turunannya. Padahal, fitur-fitur itu adalah sarana pelengkap saja.
Tiba-tiba kita mendapatkan
kesibukan baru kendati ada kesibukan lama yang telah tergantikan oleh teknologi.
Kita yang dulu sibuk antri di depan loket sudah tergantikan dengan fasilitas
online. Antrian hilang dan waktu menjadi efisien. Sebaliknya, kita yang dulu
sibuk bercengkerama dalam tatap muka silaturahim, mungkin telah telah
tergantikan dengan cengkerama di media sosial dan hilangnya renyah tawa. Isi
kepala kita juga terkadang berubah dan bertambah dengan berbagai berita sampah yang
seringkali tidak mampu disaring dan dicek kebenarannya. Kita diserbu arus
informasi seperti air bah. Wah, wah…
Ya, kesibukan manusia saat ini
semakin banyak karena adanya beragama fitur jaman yang diciptakannya sendiri. Sehingga,
kegiatan manusia saat ini, tidak lagi sekedar memilih apa yang betul-betul
efisien tapi sudah berubah bagaimana memilih dan berpindah dari satu fitur
kepada fitur lainnya. Dari satu entertain ke entertain lainnya.
Padahal, fitur adalah sarana
pendukung bukan tujuan utama.
Lalu, bagaimana cara menggunakan
fitur jaman yang ada saat ini?
Saya kira, kita harus kembali
kepada core actifivity seorang muslim yaitu beribadah. Lho, tidak
kerenkah..?
Ya, saya tidak sedang
mengada-ada. Beribadah adalah core business kita di dunia. Core
business ini yang kemudian diterjemahkan dalam aktifitas keseharian
kita. Kita memadukan unsur ibadah mahdah dan ghair mahdah. Kita menguatkan
habblun minallah (hubungan dengan Allah), habblun minannas
(hubungan dengan manusia), dan habblun minal ‘alam (dengan alam) secara
berbarengan.
Wujud profesinya mungkin ada yang
menjadi pegawai negeri, pengajar, politisi, pengusaha atau tidak memiliki
profesi tertentu. Ada yang menjadi pemikir, penulis dan teoritis, dan adapula yang
menjadi implementator dan praktisinya. Namun, saya kira tidak ada pembagian seperti
itu. Kita adalah konseptor dan implementator sekaligus karena kita berpikri, dan
bekerja setiap hari bukan?. Pembedanya mungkin di kuantitas atau domainnya
pikirannya saja.
Apapun yang kita lakukan setiap
harinya, yang terpenting, adalah adanya jaminan dari diri kita ssendiri bahwa kualitas
ibadah kita meningkat dan terus terjaga. Sehingga, peran dari beragamnya fitur jaman ini
adalah sebagai tools (pendukung) untuk ibadah dan bukan tujuan utama.
Kalau tidak mendukung, yah tidak usah digunakan. Selesai.
Sehingga, ketika pagi menyapa atau
malam menjelang, kita akan terus berkomitmen, “Yes, hari ini aku akan menggunakan
produk dan fitur jaman ini untuk meningkatkan nilai ibadah yang dilakukan. Menjadi manusia seutuhnya di tengah era digital dan kemajuan teknologi ini. Amin”. Have
a nice day….
Comments
Post a Comment