Artificial Intellegence: Masa Depan Akal dan Kemanusiaan Kita
Oleh: M.Ridwan
Masa depan manusia kemungkinan akan terancam. Bukan karena alien atau serangan makhluk luar angkasa namun justru dari produk pikirannya sendiri. Produk itu bernama "Kecerdasan Buatan" atau "Artificial Intellegence" (AI). AI adalah produk atau gabungan dari kecerdasan seluruh manusia di bumi yang dikumpulkan daaam sebuah server dan memiliki kemampuan menganalisis algoritma dan jutaan kemungkinan.
Seperti apa contohnya?
Pernah lihat robot ASIMO bukan? Robot buatan Jepang ini sangat lihai melihat mimik wajah manusia dan menjawab pertanyaan kita. Dia bisa berjalan dan menghibur kita. ASIMO dikendalikan oleh kecerdasan buatan ini.
Bagi pemegang smartphone IPhone mungkin tidak asing dengan aplikasi SIRI ( Bukan kawin SIRI ya). Aplikasi SIRI memungkinkankan kita melakukan komunikasi interaktif dengan server IPhone. SIRI yang bersuara seorang wanita ini akan mnjawab pertanyaan, mengajukan pertanyaan bahkan memberikan berbagai pertimbangan atas pilihan yang diajukan seorang pengguna. Saya pernah menggunakan aplikasi SIRI ini, dan luar biasa cerdas. Pertanyaan saya mampu dijawabnya dengan baik. Entah itu tentang ekonomi, Islam bahkan posisi saya berada dan restoran yang ada. Ia bahkan memberikan alternatif yang lebih baik. "Thank you, SIRI, you are very clever", kata saya yang kemudian dijawabnya "You are welcome, sure,". Betul-betul pintar. Ibarat komputer milik Tony Stark dalam film Iron Man.
Bagi pengguna Android, silahkan gunakan Google Now. Kendati saya lihat, SIRI agak lebih "pintar" dari Google Now, namun saya yakin kepintaran Google akan terus bertambah.
Nah, kenapa SIRI atau Google Now bisa disebut kecerdasan buatan?.
Begini,,,
Setiap pertanyaan, pilihan atau hasil ketikan kita di internet, smartphone atau komputer akan tersimpan dengan baik dalam database. Jumlah ini akan terus bertambah setiap hari dan ter-record di server. Bayangkan, ada milyaran ketikan dan pilihan manusia setiap hari. Sehingga, suatu ketika, komputer-komputer itu akan paham sekali keinginan dan kecendrungan manusia. Mereka akan tahu cara kita hidup dan orientasi kita. Bahkan, mereka akan tahu siapa di antara kita yang berbakat jadi "teroris" atau "radikalis". Sampai sejauh itu? Tentu saja. Darimana mereka tahu?. Tentu saja. Mereka tahu dari beragam kecendrungan kita dalam menggunakan komputer atau internet setiap hari. Ngeri ya..?. Dan, saya curiga, jangan-jangn mereka juga akan tahu kemungkinan kita masuk surga atau tidak. Hehehe...
Apakah Kerdasan Buatan Ancaman Bagi Manusia?
Tergantung cara kita memandangnya. Bayangkan, jika komputer yang cerdas itu paham sekali kecendrungan berperang yang kita miliki. Mereka bisa saja memberi saran untuk perang atau membidik negara-negara sasaran rudal atau drone. Mereka bisa melakukan itu. Bahkan tanpa kita pencet.
Kekhawatiran ini memang telah digaungkan banyak ahli termasuk Bill Gates (Pemilik Microsoft) atau Elan Musk (Pemilik SpaceX, yang memprakarsai perjalanan ruang angkasa dan ia dianggap perwujudan sosok Tony Starks dalam film Iron Man, di dunia nyata).
Mereka mengkhawatirkan AI akan memusnahkan manusia, kendati tak sedikit ahli yang meragukannya.
Saya kira, salah satu kelemahan AI tidak lain karena ia tidak memiliki empati apalagi rasa ruhani. Ia tidak bisa marah, sabar atau emosional. Ia hanya "meminjam" empati dan emosi manusia. Sehingga tentu ia tidak bisa terkena taklif. Dikarenakan, sangat matematis, AI akan memandang semua kejadian bahkan manusia dalam perspektif logika. Ya atau tidak. Kendati objektif, AI tidak memiliki sentuhan ala manusia. Dia seperti mata di sayap burung merak, memiliki banyak pilihan.
Namun, kelemahan AI itu juga bisa mengancam manusia jika kita masih belum mampu mendudukkan pikiran kita sendiri. Dalam kondisi demikian, AI akan mengambil alih. Keberadaan akal atau pikiran kita akan memiliki kompetitor baru. Pikiran kita "dikalahkan" oleh sekumpulan "pikiran" manusia di planet ini. Lebih hebat dan lebih menarik.
Ternyata, pikiran pribadi kita tidak hebat-hebat banget di dunia ini ya. Apalagi, jika kita mungkin sudah menjadi malas berpikir karena sangat tergantung dengan teknologi.
Belum lagi, jika kita mengkaji tentang kontribusi pikiran kita terhadap kehidupan. Jangan-jangan produk akal kita tidak begitu memberi dampak dalam kehidupan ini. Bahasa sederhananya, kita tidak menjadi lebih arif atau bijaksana. Kita tidak lagi manusiawi. Jangankan memberikan kedamaian bagi orang lain, wong, dengan pikiran sendiri saja kita sering tidak mampu "akur" dan "damai". Mudah stress, galau dan ilfeel ya. Iya kan? :)
Alhasil, pikiran kita tidak lagi menjadi genuine. Tidak murni, karena telah terkontaminasi. Jika kondisi ini telah tercipta, saya yakin Kecerdasan Buatan pasti akan mengambil alih arah pikiran kita. Kita akan menjadi korban pikiran kita. Kita seperti kerbau yang ditarik hidungnya.
Lalu, akankah kita akan mengucapkan selamat tinggal kepada kemanusiaan?. Wallahu a'lam.
Comments
Post a Comment