Enaknya Pamer di Negeri Ini


Oleh: M. Ridwan

Indonesia menawarkan sejuta kejutan. Bahkan, banyak kejutan yang ditunjukkan di hadapan kita adalah kejutan aneh.  Kejutannya di luar perkiraan. Misalnya, ketika dua selebriti perempuan Indonesia yang sangat tajir –tentu untuk ukuran Indonesia- memamerkan kekayaan mereka. Tidak tanggung-tanggung, Lamborgini, rekening bank sejumlah ratusan milyaran rupiah, perhiasan, tas dan sepatu, bahkan biaya rawat kecantikan bulanan senilai ratusan juta, dengan bangga ditampilkan. Narsis level satu. Saya salut karena ternyata di Indonesia banyak orang kaya. Bukan hanya kelas menengah seperti tulisan saya sebelumnya.

Makanya, saya tersenyum ketika mendengar beberapa komentar miring terhadap sang artis. “Sungguh tidak etis, mereka pamer harta di tengah kondisi masyarakat  yang yang serba sulit saat ini. Mana hati nurani mereka?”, demikian ungkapan kejengkelan yang santer saya dengar. Ada juga yang curiga, jangan-jangan hartanya diperoleh dari jalan yang tidak benar. Namun, ada juga yang mencoba lebih arif dengan mengatakan bahwa sang artis tidak salah. “Wong, itu harta dia. Diperoleh dari jalan yang tidak menyimpang. Seharusnya mereka ditiru. Mereka menjadi inspirasi”, demikian argumen mereka.

Memang, menurut pengakuan sang artis bahwa harta yang diperolehnya benar-benar berasal dari bisnis yang legal, seperti investasi di berbagai bidang properti, perhiasan atau profesi mereka sebagai artis. Sebagian besar harta juga merupakan pemberian dari orang tua yang juga tajir. Young Business woman, Young Investor, Succes Actress, Rich Dad…. Mungkin  begitulah…

Apapun alasannya, saya kira, kita harus mengedepankan pikiran dan sikap yang jernih. Tidak hanya bagi sang artis, namun juga bagi masyarakat yang menyaksikan tingkah polah polah mereka.

Bagi sang artis, kendati aksi pamer itu legal di Indonesia, apalagi jika harta yang diperoleh adalah hasil dari kerja keras sendiri, tentulah, harus  mempertimbangkan aspek psikologi orang yang melihat. Mereka harus berupaya memahami kondisi masyarakat.

Saya pernah bertemu seseorang yang menurut saya sangat kaya. Kendati demikian, dia tidak pernah mau dengan sengaja memamerkan kekayaannya. Katanya, kendati kita memiliki kelebihan dari orang lain dalam hal apa saja, namun jangan sekali-kali menjadi intimidator. Maksudnya, menunjukkan harta benda dan kesuksesan kepada orang lain secara jor-jor-an dan vulgar akan membuat orang lain “menderita” dan terintimidasi. Apalagi jika mereka tidak mengetahui bagaimana cara kita mendapatkan hartanya. Dia mengutip sebuah kata bijak. “People don’t care how much you have until they know much you care”. Orang tidak peduli sebanyak apa kekayaan yang kamu miliki sampai mereka tahu seberapa peduli kamu dengan mereka”. Sebuah kata-kata yang menyentuh dari seorang yang benar-benar kaya.

Saya tidak dapat membayangkan, kalau aksi pamer ini akan memicu aksi pamer lainnya. Takutnya lagi, aksi pamer yang dilakukan justru dengan menunjukkan hal-hal yang sebenarnya tak pantas dipamerkan. Kalau selama ini yang dipamerkan adalah harta, mungkin saja nanti ada pamer isteri, anak, binatang piaraan, pamer bokong, kulit, rambut dan sebagainya. Saya kira, itu sudah terjadi kan..?

Bagi masyarakat, seperti saya, tentulah kesabaran dan kearifan harus semakin dipupuk. Ketimbang menghujat dan mencibir, lebih baik kita mendoakan mereka yang suka pamer itu untuk gemar berbagi dan berderma. Banyak lembaga sosial nan amanah yang siap menampung kucuran sumbangan dari mereka. Mudah-mudahan mereka terketuk hatinya mendirikan lembaga sosial atau pendidikan gratis. Toh, biayanya mungkin tidak sebanyak harga sebuah Lamborghini. Memang, mengkaji uang dan harta orang lain itu terlihat lebih mengasyikkan ya…?:)

Pamer Ala Qarun

Saya jadi teringat dengan cerita Qarun. Dia adalah konglemerat terkaya di bumi Mesir saat itu. Dia hidup kira-kira 2000 SM lalu. Hartanya berlimpah ruah. Bahkan kunci penyimpanan hartanya sedemikian banyaknya sehingga harus dipikul puluhan orang. Bayangkan, betapa banyaknya harta kekayaannya jika berat kunci hartanya saja ratusan kilo atau bahkan berton-ton. Qarun was amazing…!!. Kisahnya diceritakan dengan panjang lebar di dalam Alquran.


Nah, setiap pagi dan sore, Qarun punya kegemaran keluar rumah. Tujuannya tidak lain untuk pamer harta. Diiringi puluhan pegawal dia berjalan dengan pongah. Ketika berjalan, maka ujung jubahnya dipegang oleh budak yang khusus bertugas menjaga kebersihannya. Pokoknya, Qarun adalah selebriti pada masanya.

Setiap orang yang melihat Qarun akan berdecak kagum dan berkhayal. “Ah, seandainya aku memiliki kekayaan seperti Qarun, tentulah sangat menyenangkan. Tak sedikit dari mereka  merasa menyesal dengan nasib hidupnya karena dilahirkan tidak seperti Qarun sang miliarder. Mereka berkhayal dan sangat terobsesi menjadi Qarun. Membayangkan sebuah kehidupan yang berlimpah adalah impian kebanyak orang, bukan?

Namun, akhirnya Qarun ditelan bumi karena kedurhakaannya kepada Allah. Menurut kisah, prilaku Qarun semakin hari semakin kurang ajar. Dia takabbbur dengan harta yang berlimpah. Dia merasa bisa membeli apapun dan siapapun. Qarun menjadi pelit dan merasa bahwa kekayaannya adalah hasil jerih payahnya sendiri. Orang lain tidak berhak mendikte dirinya. “Ini hartaku, jerih payahku. Aku tidak menganggu orang lain, suka-suka gue, emang gue pikirin,” mungkin begitulah ungkapan gaulnya.

Puncaknya, ketika dia memfitnah Nabi Musa. Dia sangat membenci Musa karena dianggap sangat merepotkannya. Sebabnya, Musa menyuruhnya berzakat. Berbagi kepada orang miskin dan membutuhkan. Dia marah dan menganggap Musa mau mengeksploitasi hartanya. Qarun yang gelap mata akhirnya menyewa seorang PSK untuk menyebarkan berita bohong kalau Musa telah melakukan perzinahan dengannya. PSK nya mungkin dicari dari daerah lokalisasi Mesir saat itu :)

Musa yang marah akhirnya berdoa kepada Tuhan untuk memberi azab kepada Qarun. Doa itu dikabulkan. Qarun dan hartanya ditelan bumi. Seluruh rumah, gudang penyimpanan harta bahkan kuncinya lenyap ditelan bumi bersama tubuh Qarun.

Lalu, bagaimana komentar orang-orang yang menyaksikan peristiwa itu?. Dapat ditebak, mereka bersuka cita. Dalam hitungan detik, persepsi mereka berubah. Sebagian besar yang dulunya mendambakan kehidupan seperti Qarun kini justru merasa bersyukur tidak mengalami azab seperti Qarun. Betapa cepatnya perubahan itu ya..?

Saya tentu tidak menakut-nakuti sang artis yang suka memerkan harta mereka. Tidak sama sekali. Apalagi menyamakan mereka seperti Qarun. Kasihan dong…,.

Saya juga bermaksud menyamakan kita dengan masyarakat yang hidup di era Qarun yang selalu menganggap bahwa hidup orang lebih baik. Saya hanya tertarik mengambil kesimpulan bahwa aksi pamer itu memang telah berumur setua  peadaban manusia. Ternyata, Ada dorongan abadi dari dalam diri manusia untuk gemar pamer. Ada yang pamer harta, keluarga, negara, tubuh, dll.

Dan, untuk Indonesia saat ini, ternyata aksi pamer memang sedang trend dan “mengasyikkan”. Ini telah terbukti. 

Salah satu faktor pemicunya bisa saja karena ketauladanan yang semakin menipis dari para pemimpin, atau prilaku sederhana yang tidak lagi menarik. Belum lagi, kondisi perekonomian kita sedang menurun. Maka cerdaslah dalam memamerkan sesuatu..:)









Comments

Popular posts from this blog

Tragedi Mesjidil Haram: Momen Untuk Mengevaluasi Shariah Finance di Dunia

We are at The Crossroad? (Catatan AICIS 2015 Bagian 1)

Leader and Welfare: Seberapa Dekat Hubungannya?