Posts

The Next 100 Years of Indonesia (Negeri "Gaya-Gayaan" bag. 2)

Abraham Samad (mantan ketua KPK) pernah punya impian menarik bahwa 30 tahun dari sekarang yaitu bertepatan dengan HUT RI ke-100 korupsi sudah hilang dari Indonesia. Dalam impiannya, saat itu  korupsi sudah menjadi barang langka di negara ini  sehingga anak-anak negeri ini saat itu bertanya, ”Korupsi itu apa sih?”. Sebuah impian yang saya kira tidak terlalu muluk-muluk dan begitulah selayaknya sikap yang harus dimiliki seorang pimpinan lembaga bergengsi dan  menjadi harapan masyarakat untuk menyongsong Indonesia yang lebih baik, bersih dan diridhai Tuhan, tentunya. Walaupun kini dia sudah tidak menjabat lagi. Selain Abraham, saya teringat pada buku karya George Friedman dengan judul  The Next 100 Years: A Forecast for The 21 st  Century . Buku ini sangat menarik, dimana pengarang mencoba meramal masa depan negara-negara di dunia ini 100 tahun ke depan. Pertanyaan-pertanyaan seperti, negara manakah yang akan menjadi adikuasa 100 tahun lagi, dan seperti apa ...

Negeri "Gaya-Gayaan"

Oleh: M Ridwan Selain istilah jongos. Saya juga  akrab dengan satu kata lain, yakni “gaya-gayaan”. Istilah ini dipopulerkan oleh seorang rekan kerja saya.  Beliau jebolan program doktor Ekonomi Islam dari sebuah perguruan tinggi Islam ternama di Jakarta. Istilah “gaya-gayaan” disampaikannya pabila melihat seseorang yang terlalu banyak bicara tapi tidak banyak berbuat alias NATO (No Action, Talk Only) atau OMDO (omong doang). Kendati ungkapannya  disampaikan dalam nada guyon dan canda, tapi saya melihat ada sisi lain yang memang harus kita resapi. Ungkapan “gaya-gayaan’ yang disampaikannya kendati  biasanya hanya mengundang senyum dan tawa sejenak, namun ini bisa sarana kita untuk intropeksi. Ungkapan ini bahkan bisa  menjadi bahan untuk melakukan otokritik ketika melihat kondisi negeri ini. Lho, kok bisa ? Ada ungkapan lain yang mungkin adalah saudara kembar dari kata “gaya-gayaan” yaitu “pencitraan”. Kata ini tentu tidak berafiliasi sama sekali dengan me...

Mentalitas Jongos

Oleh: M. Ridwan Hari-hari di minggu ini, saya menjadi akrab dengan istilah “jongos”. Sayangnya, istilah ini lebih dikonotasikan negatif. Tidak tanggung-tanggung, bahkan kesan ini diberikan oleh sebagian orang kepada kepala negara kita yang notabene adalah simbol kehormatan negara. Katanya sih , Presiden sedang tidak berkutik oleh tekanan partai pendukungnya. Silahkan Anda melakukan googling. Demikianpun, sebelum melanjutkan membaca. Saya nyatakan bahwa tulisan selanjutnya tidak akan menyinggung tentang kisruh politik di negeri ini. Jadi, jangan kecewa. Bagi saya -politik dimanapun berada- termasuk Indonesia, bagaikan seseorang yang mencicipi makanan di sebuah restoran. Awalnya, dia sangat tertarik dengan pajangan makanan di etalase. Begitu menggoda dan membangkitkan selera. Sayangnya, setelah dicicipi, lidah berkata lain. Tidak “ maknyus” kata si Bondan. Namun, karena sudah terlanjur makan dan memilih restoran tersebut, maka mau tak mau kocek harus dirogoh untuk me...

Pemblokiran Situs Dakwah Islam: Saya Yakin Ini Hanya Mimpi

Oleh: M. Ridwan Di suatu pagi, tepatnya Senin lalu, saya mengakses situs eramuslim.com. Situs ini termasuk salah satu favorit saya. Biasanya, saya mengaksesnya di pagi hari menjelang berangkat kerja. Namun, hari itu, ada keanehan. Tampilan di browser chromemenyatakan bahwa situs ini telah diblokir oleh Depkominfo. Lengkapnya tertulis “Pelanggan Terhormat, sesuai dengan peraturan perundangan situs tujuan Anda tidak dapat diakses. Mohon maaf untuk ketidaknyamanannya, silahkan mencoba kembali.” Beberapa kali dicoba, tapi blokir ini tak bergeming. Malam harinya, berbekal harapan yang diberikan Depkominfo untuk mencoba, saya kembali mengakses. Harapannya, mudah-mudahan, para jagoan IT di Depkominfo salah memencet tombol sehingga secara tak sengaja memblokir situs ini. Harapan itu kembali sia-sia. Eramuslim tetap tidak bisa dibuka. Saya hanya terdiam sama seperti membisunya tulisan dari Depkominfo itu. Sampai saat tulisan ini dibuat, situs eramuslim tetap hilang entah...

Fatwa Ekonomi Syariah Kita Lebih Baik Dari Malaysia

(Dimuat di majalah Sharing Juni 2014) Karya-karya pegiat ekonomi syariah Indonesia sudah saatnya dipubliskasikan ke dunia internasional. Saatnya dunia tahu bahwa ekonomi syariah cita rasa Indonesia akan menjadi pilihan sangat menarik di masa mendatang Meski sering dianggap lebih tertinggal dibanding Malaysia, fatwa ekonomi syariah kita dianggap lebih baik. Kuncinya di independensi dewan fatwa. Akademisi dari Fakultas Ekonomi & Bisnis Islam (FEBI)) IAIN Sumatra Utara, Medan – Dr. M. Ridwan Umar menanggapi dengan antusisas tentang kemungkinan kerjasama pengembangan ekonomi syariah dari kedua negara serumpun Indonesia dan Malaysia. Karena menurut masing-masing negara bisa saling belajar, dan saling bersinergi untuk memperjuangkan pengembangan ekonomi syariah di kedua negara ke skala yang lebih luas di Kawasan Asia Tenggara. Menurut Ridwan, karakteristik ekonomi syariah di Malaysia bersifat goverment-driven dalam arti keterlibatan pemerintah dalam proses pengembangan lembaga ke...

The Power of Sacrifice: Kekuatan Pengorbanan

Oleh: M. Ridwan Pagi ini, entah kenapa, saya sangat ingin menulis di blog ini. Cukup lama blog ini tidak mendapatkan posting dari sang pemiliknya (. Setahun adalah waktu yang cukup lama. Kata sebagian orang, mood memang penting untuk menulis. Tapi, seorang teman saya yang sangat produktif menulis mengatakan bahwa mood justru tercipta ketika kita mau mulai menulis. Entah mana yang benar, tapi saya kira itu tidak begitu pentinglah. Hal terpenting bahwa kita harus menghasilkan tulisan untuk di share ke orang lain. Bagaimana caranya, silahkan saja dipilih, mau ditulis di koran, blog, sms, bbm broadcasting, dll. Katanya sih, untuk menjadi makhluk sosial, kita harus sering sharing. Sembari menunggu prosesi penyembelihan hewan kurban di komplek perumahan kami. Saya mencoba menuliskan apa yang ada dipikiran ini. Tulisan ini tidak lebih seperti sebuah uneg-uneg sih. Intinya, bahwa momentum Idul Adha ini pada dasarnya sangat berharga. The moment of reflection , moment untu...