Oleh: M. Ridwan
Pagi ini, entah kenapa, saya sangat ingin menulis di blog ini. Cukup
lama blog ini tidak mendapatkan posting dari sang pemiliknya (. Setahun
adalah waktu yang cukup lama. Kata sebagian orang, mood memang penting untuk menulis. Tapi, seorang teman saya yang sangat produktif menulis mengatakan bahwa mood
justru tercipta ketika kita mau mulai menulis. Entah mana yang benar,
tapi saya kira itu tidak begitu pentinglah. Hal terpenting bahwa kita
harus menghasilkan tulisan untuk di share ke orang lain. Bagaimana
caranya, silahkan saja dipilih, mau ditulis di koran, blog, sms, bbm
broadcasting, dll. Katanya sih, untuk menjadi makhluk sosial, kita harus
sering sharing.
Sembari menunggu prosesi penyembelihan hewan kurban di komplek
perumahan kami. Saya mencoba menuliskan apa yang ada dipikiran ini.
Tulisan ini tidak lebih seperti sebuah uneg-uneg sih. Intinya, bahwa
momentum Idul Adha ini pada dasarnya sangat berharga. The moment of reflection,
moment untuk refleksi diri. Merenungi perjalanan kehidupan ini.
Mengkaji ulang arah perahu kehidupan dan keluarga kita. Dan tentu pula,
mengkaji arah perjalanan bangsa ini.
Nabi Ibrahim adalah bapaknya agama-agama samawi ( agama-agama langit)
yaitu Islam, Kristen, dan Yahudi. Kendati berasal dari satu moyang,
para pengikut agama-agama ini sepertinya memang susah berkompromi
:)(Setidaknya sampai saat ini).
Tapi saya tidak mengkomentari yang hal di atas. Ada yang lebih pakar
mengkaji substansi perbedaan agama-agama di atas. Saya juga yakin bahwa
sampai saat ini, semua agama mengajarkan kebaikan. Kendati saya tentu
berkeyakinan bahwa agama sayalah yang terbaik dari sisi ajaran dan
praktik. Ini adalah masalah pilihan. Sama seperti saudara-saudaraku yang
beragama lain. Peace…
Saya tertarik mengkaji tentang sebuah
dimensi lain yang setidaknya mungkin bias menyatukan kita semua. Itulah
pengorbanan. Kalau kita berkaca dari Ibrahim, maka semangat pengorbanan
merupakan ikon utama dari Nabi yang mulia ini. Beliau menunjukkan
pengorbanan sosial, keluarga dan ilahiyah sekaligus.
Dari sisi pengorbanan sosial, Ibrahim adalah sosok warga yang baik
dan sangat peduli dengan sesamanya. Sejarah menceritakan bahwa Ibrahim
adalah seorang super dermawan yang setiap hari mendermawakan harta dan
ternaknya kepada masyarakat. Sampai-sampai masyarakatnya heran. Ya
Ibrahim, tidak takutkah engkau hartamu habis atau berkurang? komentar
warga. Tentu saja tidak, jawab Ibrahim. Aku melakukan ini untuk
keridhaan Tuhan. Andaikan anakkku yang diminta, tentu aku akan
memberikannya juga.
Kekuatan pengorbanan telah membuat Ibrahim menjadi sosok yang sangat peduli sosial.
Pengorbanan keluarga dilakukannya ketika harus rela berpisah dengan
isteri dan anaknya tercinta. Siti Hajar dan Ismail. Meninggalkan mereka
di Mekkah yang tandus. Tentu logika kita agak terusik. Mengapa dia tega
melakukan itu. Lagi-lagi karena Tuhanlah yang menyuruhnya. Demi
pengabdian kepada Tuhan Ibrahim memiliki kekuatan untuk melakukan
hal-hal yang berat itu. Kekuatan pengorbanan memberinya kekuatan.
Pengorbanan terbesar Ibrahim adalah ketika Ia diperintahkan untuk
menyembelih anaknya, Ismail. Lagi-lagi perintah ini datangnya dari
Tuhan. Kendati sangat berat, tapi Ibrahim juga berani dan mantap
melakukannya. Saya berpikir, kalau perintah itu datang kepada kita saat
ini. Untuk menyembelih anak kita, maka saya yakin tak seorangpun dari
kita akan sanggup melakukannya. Lagi-lagi, kekuatan pengorbanan telah
mengalahkan ketakutan dan keraguan seorang Ibrahim.
Betapa dahsyatnya kekuatan pengorbanan. Rasa takut akan kemiskinan,
kesedihan dan kematian menjadi sirna ketika Tuhan menjadi penggerak
utama perbuatan kita. Saya juga membayangkan, apa yang ada di pikiran
para pejuang-pejuang dahulu ketika rela bertaruh nyawa untuk
memperjuangkan kemerdekaan negeri ini. Saya mau bertanya, kalau
seandainya saat ini kita diharuskan berperang melawan penjajah kembali,
apakah kita berani ?, meninggalkan kenyamanan rumah, makanan lezat,
rekreasi indah, atau hiburan enak lainnya?. Jangan-jangan, kita akan
membuang tanggung jawab itu hanya kepada para tentara saja.
Saya mencoba sedikit berani membuat sebuah tesis, bahwa kemajuan
sebuah negera, keakraban hubungan sosial di masyarakat, keharmonisan
sebuah hubungan keluarga akan terjadi jika pengorbanan menjadi penggerak
utama. Yah, ketika kita berani mengorbankan kesenangan kita untuk
kebahagiaan orang lain atau berani tidak nyaman untuk memperbaiki
carut-marut masyarakat kita, maka kemajuan negara ini akan segera
datang.
So, bagaimana contoh implementasi berkorban dalam kehidupan kini ?.
Mungkin bisa dilakukan seperti di bawah ini. Para pembaca silahkan
tambahkan ya,
1. Seorang pejabat bisa berkorban dengan mengurangi konsumsi
fasilitas resmi yang menjadi haknya. Katakanlah, mengurangi fasilitas
kendaraan, biaya perjalanan dinas, konsumsi AC di kantor, dan
fasilitas-fasilitas lain yang selama ini diperolehnya. Tidak ada yang
salah dengan menikmati fasilitas ini, apalagi jika diiringi kinerja yang
baik. Akan tetapi, bukankah lebih baik jika bisa dikurangi untuk
penghematan atau kalau perlu dibuat menjadi super hemat. Di
awal-awalnya, pejabat ini pasti akan merasa sedikit tidak nyaman atau
sangat tidak nyaman, gerah, atau terlihat tidak bergengsi. Tapi, jika
itu didasarkan atas pengorbanan untuk bangsa ini, maka pasti akan nikmat
dan tidak berat.
2. Seorang ayah bisa berkorban dengan tidak membawa harta haram ke
rumahnya, kendati peluangnya untuk itu mungkin ada. Dia berkorban
perasaan dan gengsinya dengan lebih sedikit harta ketimbang mendapatkan
harta banyak tapi haram. Si ayah bisa berkorban dengan meluangkan waktu,
tenaga dan pikirannya untuk terus mengarahkan keluarganya untuk dekat
dengan Tuhan, menjadi cerdas sosial, intelektual, dan spiritual kendati
sehari-hari sang ayah sudah sangat sibuk.
3. Seorang ibu bisa berkorban dengan terus menunjukkan wajah penuh
senyuman dan kebahagiaan, kendati mungkin hatinya sedang berduka, atau
keinginannya belum terkabul. Dia tersenyum karena yakin bahwa
kebahagiaan itu bukan hanya dalam bentuk materi dan tersedianya semua
kebutuhan tapi lebih kepada terus tersedianya wahana dirinya untuk terus
bersyukur.
4. Seorang anak bisa berkorban dengan tidak membebani orang tuanya
dengan permintaan-permintaan yang menyulitkan sang ayah/ibu. Ketimbang
memberatkan mereka, si anak bisa saja melakukan upaya-upaya membantu
mereka. Mengorbankan perasaaan anak muda yang bergejolak untuk
membahagiakan orang tua, mengapa tidak.?
5. Sebuah keluarga bisa saja berkorban untuk mengurangi kenikmatan
keluarga mereka. Katakanlah, di suatu malam minggu, ketika sebuah
keluarga akan makan malam di sebuah restoran mahal. Keluarga itu bisa
saja mengajak anak tetangganya, atau keluarga lain. Kalau budget tidak
cukup, bukankah bisa dengan mengunjungi restoran lain yang lebih
terjangkau. Its up to you, yang penting orang lain bisa merasakan nikmat
yang sama.
6. Kalangan eksekutif dan professional yang selama ini dibayar mahal
bisa berkorban dengan mengurangi fee yang diterimanya dan
menyumbangkannya kepada panti-panti sosial, lembaga zakat, rumah ibadat,
dll. Penghasilan pasti akan berkurang dalam jangka pendek, tapi
yakinlah, akan bertambah dalam panjang.
7. Seorang pejalan kaki, atau pengendara bisa berkorban-untuk
pengguna jalan lain. Kendati diburu waktu, dia dia panik dan malah
tersenyum-dengan suasana macet keadaan.
8. ………….silahkan diisi sendiri ya.
Singkatnya, saya ingin mengatakan bahwa, bentuk-bentuk pengorbanan
itu banyak sekali. Masing-masing kita pasti lebih tahu caranya.
Indikator bahwa kita sudah mulai berkorban biasanya diawali dengan ada
rasa berat, tidak nyaman, gelisah, dll. Akan tetapi, seiring waktu,
perasaan itu akan hilang dan berubah menjadi kenikmatan tersendiri.
Menjadi bahagia dengan sesuatu yang immateri. Itulah puncak kebahagiaan,
dan jalan terang menuju Tuhan.
Bayangkan, jika semua insan negeri ini terus rela berkorban dengan
caranya masing-masing. Bayangkan efek domino yang terjadi. Sebuah
kedahsyatan kekuatan pengorbanan. The power of Sacrifice. Sebuah
lompatan besar untuk bangsa ini.
Oh ya, tulisannya sampai di sini dulu ya,,berhubung panitia kurban
sudah pada memanggil tuh, untuk prosesi penyembelihan hewan kurban.
Mudah-mudahan kurban kita diterima Allah. Amin.

0 Comments