Posts

Wind of Change: Ternyata Asa Itu Masih Ada

Oleh: M. Ridwan Kisah keluarga Andun merobek nurani kita. Sang isteri, Iyah (33) melakukan persis yang dilakukan seorang ibu di jaman Khalifah Umar bin Khattab. Seperti tertulis dalam sejarah, Khalifah Umar memergoki seorang ibu yang merebus batu untuk menenangkan anaknya yang kelaparan. Sang khalifah akhirnya membawa sekarung gandum dari baitul mal yang dipikulnya sendiri dan memasaknya dengan tangannya. Umar menangis dan menerima dengan ikhlas omelan si ibu yang mempersaahkan Umar bin Khattab (si ibu tidak tahu bhwa ia sedang berhadapan dengan orang yang diomelinya). Umar melarang ajudannya memberitahu dirinya karena merasa bahwa dirinya memang bersalah.  Iyah, juga melakukan hal yang sama. Wanita ini juga merebus batu untuk “mengelabui” anaknya seolah-olah itu adalah makanan. Ia melakukannya karena memang tidak ada lagi yang bisa dimasak untuk keluarganya. Dengan suami yang tidak memiliki pekerjaan, pasangan ini rela tinggal bersama 7 orang anaknya di sebuah gub...

Hate Speech: Agree or Disagree?

Oleh: M. Ridwan Surat Edaran Kapolri SE/6/X/2015 tentang Penanganan Ujaran Kebencian atau Hate Speech telah dikeluarkan. Saya melihat publik beragam dalam menanggapinya. Ada yang setuju dan tentu saja ada yang kontra. Pihak yang setuju beralasan bahwa memang sudah saatnya edaran ini dikeluarkan mengingat banyaknya para netizen yang menggunakan sosial media tidak pada tempatnya. Berbagai ungkapan makian, fitnah atau provokasi memang dengan mudah kita temukan. Bagi pihak yang tidak setuju mengkhawatirkan bahwa edaran ini akan mengembalikan negeri ini ke jaman Orde Baru yang membatasi bahkan “memberangus” suara-suara kritis elemen bangsa dalam berekspresi, berpendapat atau menunjukkan ketidaksetujuan. Lalu, bagaimana seharusnya sikap kita? Saya mencoba mengutip salah satu strategi jebakan Iblis dengan para setan yang dimuat dalam buku “The Handbook of Iblis” karya DR. M. Ridwan, pemilik blog ini. Dalam halaman 68 diceritakan tentang modus operandi Iblis dan timnya dalam me...

Love-Based Economy: Kasih Sayang Itu Menjamin Hidup

Pernahkah kita berpikir bahwa setelah bekerja keras kemudian hasil kerja kita justru harus diberikan kepada Baitul Mal untuk dinikmati bersama? Atau, pernahkah Anda membayangkan hidup di sebuah komunitas yang tidak lagi dipusingkan dengan rutinitas kantor di esok hari, tanpa tekanan bos dan boleh memilih pekerjaan apa yang diminati? Dan, kita tidak perlu khawatir bahwa keperluan harian kita tidak terpenuhi asal saja kita saling menyayangi dan berkomimen menjalankan ajaran Islam dengan baik? Lalu, mungkin kita bertanya, kapan waktunya kita menikmati kesenangan dunia dan perhiasannya secara lebih pribadi atau bersama keluarga? Jawaban hal itu berada di perkampungan Majelis Taklim Fardhu 'Ain yang terletak di Desa Telaga Said Kec. Sei Lepan, Kabupaten Langkat. Kebetulan, saya mendapat kesempatan mengunjungi perkampungan unik ini hari Sabtu ini. Bersama para Jawara riset FEBI, kami meluncur ke sana. Tim dikomandoi oleh Dekan FEBI sendiri yaitu DR. H. Azhari Akmal Tarigan dan DR. Mh...

The Last Blue Sky: Lagi-Lagi Tentang Si Asap

Image
Oleh: M. Ridwan Saya suka warna biru. Apalagi kalau melihat kedalaman lautan. Rasanya, gimana gitu. Setahu saya ada beberapa tokoh dunia yang juga menyukainya, sebut saja   misalnya Abraham Lincoln, Putri Diana atau Walt Disney. Meskipun, kapasitas mereka tentu jauh di atas saya. :) Katanya, biru melambangkan sikap setia dan pemikir mendalam, tapi juga tidak mudah ditebak. Hehe, kok jadi narsis begini? Konteks tulisan saya kali ini tentu tidak bercerita tentang warna-warni, gradasi apalagi lukis-melukis. Oh ya, saya memang menyukai lukisan terutama lukisan alam, kendati sama sekali tidak memiliki keahlian melukis. Nilai saya cuma dapat 7 ketika di sekolah dulu. :) Makanya, saya heran ketika melihat kedua anak perempaun saya kelihatan lebih pintar dari diriku dalam hal lukis-melukis. Kata ummi-nya, itu bakat menurun dari dirinya. uWah,wah,, Kembali kepada si biru. Saya kira, publik Sumatera dan Kalimantan mungkin tidak merasa bahwa ada “keganjilan” alam yang mu...

Unblessed Country: Keberkahan yang Eksodus?

Oleh: M. Ridwan Minggu pagi ini seharusnya menjadi hari yang menggembirakan buat anak-anak di lingkungan perumahan kami. Betapa tidak, hari ini mereka akan mengenakan pakaian baru untuk pelatihan pencak silat. Adalah ustaz Qadri yang memiiki inisiatif untuk mengadakan pelatihan pencak silat ini. Inisiatif ini terlihat cukup berhasil jika dilihat dari jumlah peserta yang berpartisipasi. Nah, hari ini, mereka seharusnya akan sedikit “bergaya” dengan seragam baru yang “kinclong”, merah membara. Tapi, siapa sangka, asap “kiriman” yang entah dari mana asal muasalnya ini berhasil “membubarkan” rencana bocah-bocah kecil ini. Para orang tua, -termasuk kami- memutuskan untuk meliburkan pelatihan karena dikhawatirkan asap akan membuat masalah bagi kesehatan para “jawara” cilik itu. Raut muka mereka kecewa tentunya, muram. Sama seperti muramnya pagi ini karena kehilangan cahaya mentari yang juga tertutup asap. Pertahanan Sumatera Utara, khususnya Kota Medan ternyata “berhasil” dijebol ol...