Posts

Qana'ah Digital: Merasa Cukup di Tengah Dunia yang Tidak Pernah Berkata "Cukup"

Image
By M. Ridwan Salah satu ujian terbesar manusia modern bukan lagi kekurangan, melainkan kelebihan pilihan . Setiap kali membuka media sosial, kita disuguhi rumah yang lebih mewah, mobil yang lebih mahal, liburan yang lebih indah, karier yang lebih cemerlang, dan kehidupan yang tampak lebih sempurna. Akibatnya, seseorang yang sebenarnya sudah berkecukupan tiba-tiba merasa miskin. Bukan karena hartanya berkurang, tetapi karena standar kebahagiaannya terus dinaikkan oleh layar di tangannya. Inilah yang dapat disebut sebagai qana'ah digital , yaitu kemampuan menjaga hati agar tidak terus-menerus membandingkan diri dengan apa yang dilihat di dunia digital. Qana'ah digital bukan berarti menolak teknologi atau menutup akun media sosial. Ia adalah kemampuan menggunakan teknologi tanpa membiarkan teknologi mengendalikan rasa syukur kita. Hari ini, algoritma media sosial dirancang untuk membuat kita terus ingin melihat, terus ingin membeli, terus ingin mengikuti tren, dan t...

Rupiah Melemah, Pertamax Naik: Benarkah Indonesia yang Kaya SDA Sedang Tidak Baik-Baik Saja?

  Beberapa waktu terakhir, masyarakat kembali dihadapkan pada dua kenyataan yang terasa langsung di kantong: nilai tukar rupiah yang melemah dan kenaikan harga Pertamax. Pertanyaan yang kemudian muncul di benak banyak orang sangat sederhana namun mendalam: “Bukankah Indonesia negara kaya sumber daya alam? Mengapa ekonomi kita masih mudah terguncang?” Pertanyaan ini penting dijawab secara jernih, karena persoalannya ternyata tidak sesederhana “rupiah turun” atau “harga BBM naik”. Ada persoalan struktur ekonomi yang lebih dalam. Kaya Sumber Daya, Tapi Mengapa Masih Rentan? Indonesia sering disebut negara kaya. Kita memiliki batu bara, nikel, sawit, gas, emas, hasil laut, hingga lahan pertanian yang luas. Namun, kekayaan alam tidak otomatis membuat ekonomi menjadi kuat. Masalah utama Indonesia adalah: kita masih terlalu sering menjual bahan mentah dan membeli barang jadi. Misalnya, kita memiliki nikel melimpah, tetapi produk teknologi bernilai tinggi masih...

Generasi Instan: Saat Judi Online Menggerus Masa Depan Anak Bangsa”

Oleh: M. Ridwan Tragis dan menyedihkan..!! Begitulah kesan ketika media memaparkan bahwa hampir 200 ribu anak Indonesia terpapar judi online, bahkan puluhan ribu di antaranya masih berusia di bawah 10 tahun, bukan sekadar persoalan teknologi atau lemahnya pengawasan digital. Ini adalah tanda bahwa sistem ekonomi, pendidikan, dan budaya konsumsi kita sedang mengalami krisis orientasi. Berita ini sangat relevan jika dilihat dari perspektif Ekonomi Islam dan moneter Islam. Dalam ekonomi Islam, uang bukan alat spekulasi, melainkan alat tukar dan sarana menciptakan kemaslahatan. Judi online justru mengubah uang menjadi instrumen ketidakpastian (gharar), spekulasi (maysir), dan eksploitasi psikologis.  Akibatnya, masyarakat terbiasa ingin memperoleh keuntungan instan tanpa proses produksi, kerja nyata, atau nilai tambah ekonomi. Islam sejak awal telah memberikan peringatan keras terhadap praktik maysir karena dampaknya tidak hanya merusak individu, tetapi juga menghancurkan struktur sosi...

Dunia di Persimpangan Jalan: Masa Depan Moneter dan Peluang Moneter Islam

Image
By : M. Ridwan Beberapa hari ini dunia terasa seperti sedang berdiri di persimpangan jalan. Konflik geopolitik meningkat, perang dagang belum benar-benar selesai, teknologi AI berkembang sangat cepat, sementara ekonomi global masih dibayangi ketidakpastian. Di tengah situasi itu, pertemuan antara Xi Jinping dan Donald Trump kembali menarik perhatian dunia. Xi bahkan mengatakan bahwa China dan Amerika “seharusnya menjadi mitra, bukan rival”. Pernyataan ini sebenarnya bukan sekadar diplomasi biasa. Ada kekhawatiran besar yang sedang menghantui dunia: apakah hubungan Amerika dan China akan masuk ke dalam apa yang disebut sebagai Thucydides Trap atau “Perangkap Thucydides”. Secara sederhana, teori ini menggambarkan kondisi ketika kekuatan lama merasa terancam oleh munculnya kekuatan baru. Dalam sejarah, situasi seperti ini sering berakhir dengan konflik besar. Dulu Athena dan Sparta. Hari ini banyak analis melihat pola itu mulai terlihat dalam hubungan Amerika dan China. Masala...

Jika Sistem Moneter Islam Bagus, Mengapa Dunia Tidak Menerapkannya? Bahkan Negara Muslim Sekalipun :)

Image
By: M. Ridwan Ini pertanyaan yang sering ditanyakan banyak orang.ungkin Anda juga ya..:) “Kalau sistem moneter Islam memang bagus, kenapa dunia tidak menerapkannya? Bahkan negara Muslim pun banyak yang tidak memakai?” Pertanyaan ini sering muncul. Kadang sebagai rasa penasaran, kadang juga sebagai kritik tajam. Sekilas, pertanyaan ini terdengar sangat logis. Sebab dalam pikiran banyak orang, sesuatu yang baik pasti digunakan oleh semua pihak. Kalau tidak digunakan, berarti mungkin memang tidak efektif. Namun, benarkah logikanya sesederhana itu? Mari kita bedah dengan kepala dingin, data riset, dan sedikit analogi unik agar tidak terlalu tegang seperti membaca laporan bank sentral. Dunia Tidak Selalu Memilih Sistem Terbaik, Tapi Sistem yang Sudah Nyaman Mari jujur sebentar. Dalam sejarah, manusia tidak selalu memilih sesuatu karena itu terbaik. Sering kali manusia memilih sesuatu karena sudah terbiasa. Dulu, energi terbarukan dianggap mahal dan merepotkan, padahal manfaatnya...

Post Event Blues: Kenikmatan Fisik Vs Kenikmatan Ruh

Image
By : M. Ridwan Ada istilah baru nih.. Post Event Blues... Pernahkah Anda merasa lelah meski baru saja selesai berlibur mewah? Atau mungkin, pernahkah Anda merasakan kekosongan aneh setelah membeli gadget terbaru yang dulu sangat Anda impikan? Di era modern ini, kita hidup dalam budaya yang memuja kenikmatan fisik. Iklan di mana-mana membisikkan bahwa kebahagiaan itu ada pada rasa makanan yang lezat, kenyamanan tempat tidur yang empuk, atau kemewahan mobil yang dikendarai. Tidak ada yang salah dengan menikmati hal-hal tersebut; tubuh kita memang diciptakan untuk merasakan sensasi dunia. Namun, sering kali kita lupa bahwa manusia bukan hanya terdiri dari daging dan tulang. Kita juga memiliki ruh (jiwa) yang memiliki lapar dan dahaga tersendiri. Artikel ini akan mengajak kita menyelami perbedaan mendasar antara kenikmatan fisik dan kenikmatan ruh, serta bagaimana menemukan titik temu di antara keduanya. Kenikmatan Fisik: Manis, Namun Cepat Berlalu Nah, setidaknya ada empat kar...

Pertumbuhan yang Melelahkan: Ekonomi Tumbuh, Manusia Lelah

By: M. Ridwan Di tengah perayaan angka-angka ekonomi—pertumbuhan, investasi, ekspor—ada satu hal yang jarang dibicarakan: kelelahan manusia dan rusaknya alam sebagai harga yang harus dibayar. Indonesia, seperti banyak negara berkembang lainnya, terus mendorong pertumbuhan ekonomi. Angka Produk Domestik Bruto dijadikan indikator utama keberhasilan. Ketika angka ini naik, kita merasa berhasil. Ketika turun, kita panik. Namun, pertanyaannya: apakah angka ini benar-benar mencerminkan kesejahteraan? Realitas di lapangan tidak selalu seindah statistik. Di satu sisi, sektor industri terus berkembang. Produksi meningkat, investasi masuk, dan ekspor didorong. Namun di sisi lain, kita melihat: pekerja dengan jam kerja panjang dan tekanan tinggi meningkatnya stres dan kelelahan kerja ketimpangan ekonomi yang masih terasa serta kerusakan lingkungan yang semakin nyata Hutan-hutan dibuka untuk kebutuhan industri. Laut dieksploitasi. Sampah plastik menumpuk di berbagai daerah. Semua ini bukan sekadar...

Masalah Buruh: Saatnya Bertobat dari Riba yang Membebani

Image
By : M. Ridwan Setiap tanggal 1 Mei, dunia memperingati Hari Buruh Internasional (May Day) sebagai simbol perjuangan pekerja dalam menuntut keadilan ekonomi dan kesejahteraan yang layak. Di Indonesia, momentum ini tidak hanya menjadi seremoni, tetapi juga ruang kritik terhadap kondisi riil buruh yang masih menghadapi berbagai tantangan struktural.  Secara statistik, kondisi ketenagakerjaan memang menunjukkan perbaikan dengan tingkat pengangguran terbuka berada di kisaran 4,7–4,8% pada 2025 dan jumlah pengangguran sekitar 7,4 juta orang. Namun, rata-rata upah buruh yang hanya berkisar Rp3 jutaan per bulan menunjukkan bahwa persoalan utama bukan sekadar ketersediaan pekerjaan, melainkan kualitas pekerjaan dan keadilan distribusi pendapatan.  Bahkan, pertumbuhan upah riil cenderung stagnan dan hanya sebagian kecil pekerja yang mengalami kenaikan pendapatan, sementara sektor informal masih mendominasi. Dalam konteks May Day 2026, isu yang diangkat semakin kompleks, mul...

Sistem Keuangan Berbasis Istighfar: Ketika Stabilitas Dimulai dari Jiwa

Image
By : M. Ridwan Ini tulisan ringan aja ya... Dianggap santai di akhir pekan saja... Di zaman ketika banyak orang panik menghadapi inflasi, cicilan, PHK, dan tekanan ekonomi, sering kali uang dicari dengan cara tergesa—bahkan sebagian menabrak batas halal dan haram. Seolah masalah keuangan hanya bisa diselesaikan dengan menambah angka di rekening. Padahal, dalam perspektif yang lebih dalam, krisis ekonomi sering bermula dari krisis batin: cemas berlebihan, rakus, takut miskin, dan hilangnya rasa cukup. Di sinilah menarik jika kita bicara tentang sistem keuangan berbasis istighfar. Ini bukan berarti istighfar menggantikan kerja, investasi, atau perencanaan ekonomi. Bukan. Tapi istighfar menjadi fondasi mental, spiritual, dan etik dalam mengelola harta. Istighfar adalah “moneter batin”. Ketika pasar dilanda panic selling, istighfar melatih manusia agar tidak panic living. Banyak orang mengambil riba karena takut masa depan. Banyak korupsi terjadi karena panik kehilangan status....

Ekonomi Moneter Syariah: Dari Gagasan ke Implementasi Nyata

Image
By M. Ridwan Selama ini ekonomi moneter syariah sering dipahami sebatas wacana normatif tentang larangan riba, kewajiban zakat, atau romantisme kembalinya dinar-dirham. Padahal, tantangan utama hari ini bukan lagi hanya membuktikan bahwa sistem moneter syariah itu ideal secara konsep, melainkan bagaimana ia dapat diimplementasikan secara konkret untuk menjawab persoalan inflasi, ketimpangan, krisis utang, dan rapuhnya ekonomi riil.  Dalam banyak hal, problem sistem moneter modern adalah dominasi sektor finansial atas sektor produktif; uang berputar sangat cepat dalam instrumen spekulatif, namun sering lambat menyentuh kebutuhan riil masyarakat. Di sinilah ekonomi moneter syariah menawarkan koreksi mendasar: uang bukan komoditas yang diperjualbelikan demi keuntungan bunga, melainkan alat tukar yang harus terhubung dengan aktivitas produktif dan keadilan distribusi. Langkah pertama yang paling realistis adalah membangun fondasi ekonomi berbasis aset riil dan mengurangi ke...

Ekonomi Syariah Berbasis Cinta

Image
By: M. Ridwan Saya senang dengan gagasan Menteri Agama terkait Pendidikan Berbasis Cinta. Nah,  Jika pendidikan berbasis cinta mengajarkan bahwa kecerdasan harus bertemu kasih sayang, maka sistem keuangan Islam sesungguhnya adalah cinta yang diinstitusikan dalam ekonomi. Ini bukan sekadar bahasa puitik. Ada dasar moral, dan ada bukti empiris. Larangan riba, zakat, wakaf, bagi hasil, hingga keuangan sosial Islam, semuanya lahir dari satu gagasan: harta tidak boleh menjadi alat penindasan, melainkan sarana menjaga martabat manusia. Menariknya, “cinta” dalam ekonomi syariah tidak berhenti pada idealisme. Ia tumbuh menjadi sistem global. Industri keuangan Islam kini telah mencapai sekitar US$5,9 triliun aset global dan diproyeksikan mendekati US$9,7 triliun pada 2029.  Ini menunjukkan bahwa prinsip berbasis etika dan keadilan bukan sekadar alternatif moral, tapi model ekonomi yang kompetitif. Mengapa tumbuh? Karena dunia mulai sadar bahwa pasar tidak cukup dibangun ole...

Pengangguran: Ketika Uang Harus Melayani Manusia

Image
By: M. Ridwan Pengangguran sering dibaca sebagai angka—sekian persen dari angkatan kerja tidak terserap, sekian juta orang tanpa pekerjaan. Laporan resmi dari Badan Pusat Statistik mencatat tingkat pengangguran terbuka sebagai indikator kesehatan pasar tenaga kerja. Dalam logika ekonomi makro konvensional, selama angka ini “terkendali”, sistem dianggap berjalan. Namun di balik angka itu tersembunyi realitas yang jauh lebih dalam: waktu manusia yang terbuang, potensi yang terpendam, dan martabat yang perlahan terkikis. Pengangguran bukan sekadar variabel ekonomi—ia adalah krisis kemanusiaan yang sering disederhanakan menjadi statistik. Secara teori makro, pengangguran sering dikaitkan dengan siklus bisnis, inflasi, dan kebijakan moneter. Ketika bank sentral menaikkan suku bunga untuk menekan inflasi, investasi melambat, produksi menurun, dan pada akhirnya tenaga kerja dikurangi. Dalam kerangka ini, pengangguran kadang dianggap “konsekuensi yang dapat diterima” demi stabilitas harga. B...

Pertumbuhan Ekonomi: Antara Angka, Ilusi, dan Jalan Kembali ke Nilai Ilahiah

Image
By: M. Ridwan Malam itu, lampu-lampu kota menyala terang. Dari lantai atas sebuah kafe, Rafi memandangi jalanan yang tak pernah tidur. Di tangannya, layar ponsel menampilkan berita: “Pertumbuhan ekonomi Indonesia stabil di angka 5%.” Ia tersenyum kecil. “Negeri ini baik-baik saja,” gumamnya. Angka-angka dari World Bank dan Badan Pusat Statistik seolah menjadi bukti bahwa masa depan cerah sedang menanti. Namun senyum itu perlahan hilang ketika ia teringat perjalanan siangnya ke kampung pinggiran kota. Di sana, ia melihat seorang ibu menghitung recehan untuk membeli beras, sementara anaknya menatap kosong ke arah warung. “Kalau ekonomi tumbuh, kenapa hidup mereka tetap sulit?” pertanyaan itu terus berputar di kepalanya. Angka-angka yang selama ini ia pelajari tiba-tiba terasa dingin, jauh dari kenyataan. Keesokan harinya, di ruang kelas, dosennya berkata, “Kita hidup dalam paradoks. Ekonomi tumbuh, tapi ketimpangan juga meningkat.” Ia kemudian menunjukkan data dari Oxfam tentang bag...

Muslim Dollar: Mimpi Besar atau Jalan yang Terlambat Disiapkan?

Image
By : M. Ridwan Pagi itu, alam sebuah forum kelas kecil, seorang mahasiswa bertanya dengan nada serius, “Kenapa negara-negara Muslim tidak punya mata uang sendiri yang kuat? Kenapa harus terus bergantung pada dolar?”  Ruangan kmi seketika hening. Pertanyaan itu sederhana, tapi mengandung beban sejarah, politik, dan realitas ekonomi yang panjang.  Masalahnya bukan kita tidak bisa… tapi apakah kita siap?” Pertanyaan itu justru lebih dalam dari yang awalnya diajukan. Karena di balik ide besar tentang “Muslim Dollar” atau mata uang bersama dunia Islam, tersembunyi persoalan mendasar: bukan pada kemungkinan, tetapi pada kesiapan. Secara teori, dunia Muslim memiliki potensi yang luar biasa untuk membangun sistem moneter sendiri. Dengan populasi lebih dari 1,8 miliar jiwa, serta penguasaan sumber daya strategis seperti minyak, gas, dan berbagai komoditas penting, negara-negara Muslim memiliki kekuatan ekonomi yang tidak kecil. Dalam konteks perdagangan global, negara-negar...

Ketika Dunia Kaya Tapi Kehilangan Makna !!

Image
Kita hidup di zaman yang membingungkan. Uang tidak pernah sebanyak ini. Sistem keuangan semakin canggih. Akses makin mudah. Tapi anehnya… rasa cukup justru semakin langka. Ini bukan perasaan semata. Ini realita. Indonesia, misalnya, mencatat pertumbuhan ekonomi sekitar 5% per tahun, menunjukkan ekonomi terlihat stabil dan bahkan kuat. Namun di saat yang sama, fenomena seperti judi online, spekulasi, dan kecemasan finansial justru meningkat.  Artinya sederhana: pertumbuhan tidak selalu berarti kesejahteraan. Dunia Tidak Kekurangan Uang !!! Mari kita lihat angka. Total aset keuangan syariah Indonesia saja sudah mencapai sekitar Rp2.972 triliun pada 2025, naik drastis dari sekitar Rp1.801 triliun di tahun 2020.  Di sektor perbankan syariah, aset juga terus meningkat hingga mendekati Rp895 triliun pada 2024, dengan tren pertumbuhan yang konsisten.  Secara global, aset keuangan syariah bahkan sudah menembus sekitar 2,58 triliun dolar AS, dengan pertumbuhan tahunan ...

Masa Depan Moneter Islam: Antara Data, Realita, dan Arah yang Belum Jelas

Image
Oleh : M. Ridwan Dunia hari ini tidak sedang baik-baik saja secara moneter—dan ini bukan sekadar opini, tapi bisa dibaca dari data. Sistem global mulai bergeser, konflik geopolitik meningkat, dan kepercayaan terhadap sistem keuangan lama perlahan retak. Di tengah kondisi ini, ekonomi Islam mulai dilirik kembali, bukan sekadar sebagai alternatif religius, tetapi sebagai kebutuhan sistemik. Menariknya, Indonesia—yang sering dianggap “pasar saja”—ternyata diam-diam sudah masuk tiga besar kekuatan ekonomi syariah dunia. Secara angka, perkembangan ini tidak kecil. Aset keuangan syariah Indonesia melonjak dari sekitar Rp6.193 triliun pada 2021 menjadi lebih dari Rp10.257 triliun pada 2025.  Artinya, dalam beberapa tahun saja, pertumbuhannya sangat signifikan. Bahkan sektor halal value chain menopang lebih dari 25% ekonomi nasional, menunjukkan bahwa ekonomi berbasis nilai ini bukan lagi pinggiran, tetapi sudah masuk ke jantung ekonomi.  Di level global, Indonesia kini be...

Keren Sih, Tapi Itu Namanya Spekulasi

Image
Oleh : M. Ridwan Siang itu, di sebuah kafe yang lampunya sengaja dibuat temaram, seorang anak muda duduk paling pojok. Kemeja rapi, sepatu bersih, jam tangan mengilap. Di depannya terbuka laptop dengan grafik warna-warni yang naik turun seperti detak jantung. Sesekali ia menyeruput kopi, sesekali matanya tajam menatap layar. Dari jauh, kelihatannya keren. Sangat modern. Sangat “anak zaman sekarang”. Orang yang lewat mungkin langsung berkesimpulan: "wah ini pasti berbisnis". Dan memang, sekarang pemandangan seperti itu sudah jadi hal biasa. Anak muda trading forex, emas, kripto, saham—apa saja yang bisa “bergerak”. Di media sosial, kisahnya semakin menggiurkan: cuan cepat, profit harian, hidup fleksibel, kerja dari mana saja. Siapa sih yang nggak pengin kaya? Masalahnya, di titik inilah kalimat “keren sih, tapi ini namanya spekulasi” mulai relevan. Banyak anak muda yang masuk ke dunia trading bukan karena paham instrumen, risiko, atau mekanismenya, tapi karena satu dorongan kl...