Wak Lontong, demikian orang memanggilnya. Mungkin karena terlalu sering mengomentari orang dengan kata-kata "Memang Lontong dia tu", maka akhirnya orang memberinya gelar dengan "Wak Lontong". Terkena karma, sepertinya. Anehnya,, dia suka dan senyum-senyum saja.
Wak Lontong mengakui bahwa dirinya bukanlah muslim yang sejati. Katanya, sholatku banyak tinggal dan akhlakku pun tak baik-baik amat. Masih hobby ghibah dan sesekali memfitnah. "Tapi aku cepat tobat, lho," katanya membela diri.
Kalau bersedekah, dia pun mengakui sekedar saja. Selalu memilih lembaran ribuan terkecil di didompetnya. Ia sangat takut salah memegang uang berwarna biru atau merah ketika kotak infaq lewat di depan matanya. "Sedekahku tidak banyak membantu" katanya suatu hari. Selalu ada alasan.
Ketika Ramadhan datang, Wak Lontong termasuk orang yang menyambut dengan biasa-biasa saja. Tidak terlalu gembira, namun tidak juga menolaknya. Seperti kebanyakan orang, dia menjalaninya dengan biasa saja. Sekedar menahan makan dan minum. Jangan ditanya berapa kali ia melaksanakan Tarawih. Seingatnya, hanya di hari pertama saja. "Ikut banyak orang saja lah", katanya pasrah.
Paling-paling, yang sering menjadi perhatiannya tentu saja paganan berbuka alias takjil. Pantang baginya melewatkan es cendol atau sirup markisa. Termasuk kolak pisang dan lontong malam.
Baginya, berbuka puasa adalah sebuah kemulian bagi perut. Harus dihargai. Secangkir kopi tentu tak pernah lupa diseruputnya. Malam Ramadhan adalah momen membalas lapar dan dahaga di siang hari. Wak Lontong tak menyia-nyiakannya.
Entah mengapa, beberapa hari ini, Wak Lontong terlihat murung.
Selidik punya selidik, banyak berita duka didengarnya. Ada ulama yang meninggal dengan husnul khatimah, ada muslim yang diserang ketika menjalankan qiyamul lail Ramadhan, ada orang yang begitu ikhlas menjalankan Ramadhan meski dalam kekurangan, miskin dan papa.
Wak Lontong tiba-tiba tersadar.
Ibadah Ramadhan yang dilakukannya termasuk jenis minimalis alias tidak sepenuh hati bahkan lebih terkesan terpaksa. Kalau tak adapun, ia pasti tak merasa kehilangan. Wak Lontong mulai menyadari dirinya.
Wak Lontong ingin memperbaiki diri. Tapi ia tak tahu harus memulai dari mana.
Apalagi Ramadhan tinggal 1 hari lagi.
"Malam Lailatul Qadar sudah lewat. Kita tinggal menyambut lebaran. Ulangi saja tahun depan" kata Wak Bedol, sohib kentalnya kala "ngopi" bersama, yang juga punya prilaku setali tiga uang dengan dirinya. Wak Bedol tinggal di kampung sebelah. Masuk akal di pikiran Wak Lontong.
Tapi, Ia masih ingin mencoba. Pingin memanfaatkan Ramadhan meski 1 malam lagi. Tak peduli Wak Bedol tersenyum mengejeknya.
Wak Lontong meraih Alquran yang penuh debu di rumahnya. Mulai membaca dengan terbata-bata.
Ada air mata mengalir karena merasa bahwa dirinya termasuk orang yang tak tahu berterima kasih kepada Tuhan. Orang sudah mengkhatamkan Alquran berkali-kali di bulan Ramadhan sedangkan ia baru memulainya. Alquran itu pemberian almarhumah isterinya beberapa puluh tahun lalu, yang meninggal sebulan setelah mereka menikah.
"Supaya abang menjadi orang sholeh" kata-kata isterinyta masih tergiang di telinganya.
Betapa ia telah menyia-nyiakan keduanya. Alquran dan amanah isterinya.
Ia mulai membaca.
Entah kenapa ayat pertama yang terbacanya adalah Surat Az-Zumar ayat 53:
“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Wak Lontong terhenti. Melihat kiri kanan. Jangan-jangan ada orang yang sengaja melipat bagian itu. Tapi, memang ia membaca surat itu dengan pilihan sendiri. Dengan tuntunan Allah pastinya.
Semangatnya membara. Meski 1 hari lagi. Ia yakin Tuhan merestui tindakannya.
Ia mulai melihat isi dompet. Ada penyesalan bahwa sedekahnya di bulan ini begitu sedikit. Dengan mantap, Ia meraih beberapa lembar uang merah di dompetnya dan bergegas memasukkan ke kotak mesjid dekat rumah dan tak lupa meminta no rekening beberapa pengurus panti asuhan dan mesjid dari tetangganya.
Tabungannya sebenarnya tidak banyak. Tapi, ia memutuskan untuk mengambil 70% untuk diberikan kepada fakir miskin di akhir Ramadhan ini. Uang bisa dicari, peluang ini tentu tak datang dua kali," kata hatinya.
Wak Lontong seperti diburu-buru waktu.
Ia menjumpai Wak Bedol mengajaknya melakukan hal yang sama. Lagi-lagi Wak Bedol menggodanya.
"Kita kan masih punya banyak hari setelah Idul Fitri" kata Wak Bedol mencoba mengingatkan.
Wak Lontong tak peduli.
Meski hanya punya 1 hari lagi. Ia bertekad merasakan bagaimana rasanya beribadah dengan ikhlas di bulan ini. Ia ingin merasakan bagaimana orang bersedih ketika Ramadhan berlalu. Ia ingin menjawab keheranan dirinya mengapa banyak muslim yang tidak merasa capek beribadah di bulan Ramadhan.
Tapi, sesuatu terbersit di pikirannya membisikan sesuatu.
"Mana mungkin Tuhan akan memberikan pahala Ramadhan seperti mereka?"
"Kamu itu mau enak saja. Satu hari saja mau mendapatkan pahala seperti mereka yang telah bersusah payah menjalankan Ramadhan. Itu namanya mau cari untung saja".
Bukannya surut. Wak Lontong malah tambah bersemangat.
Hingga malam takbiran datang. Wak Lontong tak terlihat di mesjid sejak sholat Isya tadi.
Seorang pengurus BKM berinisiatif mendatangi rumahnya untuk mengajak bertakbir dan memberikan zakat fitrah kepada fakir miskin. Tapi, sahutan salam tak ada jawaban.
Pengurus itu berinisiatif menelopon Wak Lontong dan tak tetap ada jawaban.
Dimanakah Wak Lontong berada? Tetangga dan rekannya di mesjid kebingungan. Apalagi rumahnya terkunci rapat. Jangan-jangan Wak Lontong....
Hingga sampai pukul 10 malam, tepat malam 1 Syawal.
Telepon BKM berbunyi. Terdengar suara Wak Lontong di seberang sana.
"Selamat Idul Fitri ya Pak, saya kebetulan lagi takziah di kampung sebelah. Ada sahabat saya yang meninggal. Namanya Wak Bedol. Innalillahi wa inna ilahi rajiun..." katanya bersedih.
"Alhamdulillah Wak Lontong sehat-sehat saja. Kami kira Wak yang..." kata BKM serentak dan tak melanjutkan. Entah sedih entah bahagia. Wak Lontong yang terdengar menangis di seberang sana.
Medan, Akhir Ramadhan 1442 H


0 Comments