Ticker

6/recent/ticker-posts

Wak Lontong dan Rendang Daging


 By: M. Ridwan

Wak Lontong masih bersedih. Kematian sohibnya, Wak Bedol, di akhir Ramadhan, membuatnya yakin bahwa Tuhan sedang merencanakan sesuatu untuk hidupnya. Meski ia tak tahu seperti apa. 

Wak Bedol meninggalkan 3 orang anak yatim piatu yang kini menjadi tanggung jawab Wak Lontong. Soalnya, isteri Wak Bedol juga sudah lama meninggal. Wak Bedol pun tak memiliki saudara dan teman akrab, kecuali Wak Lontong ini.

Para jiran tetangga bersilaturahim ke rumah Wak Lontong. Mencoba menghibur dan menguatkannya. Wak Lontong menyuguhi tamunya dengan lontong rendang daging yang dimasaknya sendiri. Perkara masak memasak, Wak Lontong memang ahlinya. Sesuai dengan namanya. :)

Anehnya, ketika para tamu sedang asyik makan. Wak Lontong tidak ikut serta. Alasannya, sedang berpuasa. Para tamu kaget. 

"Puasa pada 1 Syawal haram hukumnya" kata sang ustaz yang hadir pagi itu. 

"Meski Wak sangat ingin dekat dengan Tuhan, tapi Tuhan juga memiliki aturan yang humanis dan sayang kepada hamba-Nya. Jangan berlebihan," sang ustaz mencoba melunakkan Wak Lontong.

Wak Lontong menggeleng,

"Aku tak merasa menang jika lebaran hanya ditandai dengan kembali makan dan berpakaian baru. Setiap hari juga aku bisa lakukan. Gak ada spesialnya" demikian alasan Wak Lontong. 

"Lagipula tidak adil jika aku merayakan kemenangan padahal puasaku baru serius satu hari sejak kemarin. Biarlah Bapak semua yang menang, tapi aku merasa tidak" Wak Lontong berargumen. Sang ustaz tersenyum.

"Wak, nikmati saja hari pertama Syawal dengan tidak berpuasa. Esoknya silahkan Wak berpuasa kembali. Namanya puasa Syawal. 6 hari di bulan ini. Tapi, hukumnya sunnah." Sang Ustaz mengakui jarang ada yang berani berterus-terang seperti Wak Lontong ini. 

"Ya Wak, atau nanti boleh berpuasa berselang-seling satu hari, seperti yang dilakukan Nabi Daud,' lanjut seorang pengurus mesjid menimpali.

"Yang penting setelah Ramadhan kita menjadi pribadi yang lebih baik, rajin sholat, baca Alquran dan bersedekah. Wak menjadi pribadi bertaqwa dan memiliki hati yang bersih. Memohon ampun atas kesalahan masa lalu. Itu bisa dilakukan setiap detik, tidak hanya di bulan Ramadhan" lanjut sang ustaz. 

Wak Lontong mengangguk. Yang ini masuk akal bagi dirinya. Ia akhirnya ikut makan lontong daging masakannya. Sambil membaca, "Allahumma Laka Shumtu Wabika Amantu...". Dengan khusyuk.

Kali ini tetangga yang saling berpandangan, geli. Wak Lontong memang unik. Syukurlah ia masih hidup. Bukan sedang buang tabi'at.


 


 


Post a Comment

0 Comments