By: M. Ridwan
Wak
Lontong membuat kehebohan lagi di kampung. Pasalnya, ketika Idul Fitri
datang, dia termasuk orang pertama yang mendatangi rumah penduduk. Untuk
meminta meminta maaf tentunya. Anehnya, bukan diterima dengan baik,
para tetangga justru banyak yang menghindar. Apa sebab?
Dalam pemahaman Wak Lontong, meminta maaf harus disertai dengan keterangan atas kesalahan apa yang dilakukan.
"Masak
aku meminta maaf kepada seseorang sedang dia sendiri tidak tahu apa
kesalahanku padanya," demikian argumen Wak Lontong. Logis kelihatannya.
Tapi, berabe dalam praktiknya.
Misalnya, ia
mendatangi rumah Pak Koplo, juragan sukses di kampungnya. Awalnya, Pak
Koplo senang dengan kehadiran tamunya ini. Setelah bersalaman, Wak
Lontong meminta maaf kepada Pak Koplo dan membuat pengakuan bahwa dia
selalu cemburu kepadanya.
"Aku kira selama
ini engkau memelihara tuyul dan minta bantuan dukun untuk pesugihan,
termasuk tak membayarkan kesejahteraan karyawan" katanya jujur. "Mohon
aku dimaafkan atas prasangka jelek itu" ujarnya menghiba. Terlihat
matanya berkaca-kaca.
Tentu saja Pak Koplo cemberut dan kelabakan, mau bersikap apa.
Ia
cemberut karena memang tidak pernah berurusan dengan tuyul. Itu fitnah
keji. Tapi, berurusan dengan dukun pernah dilakukannya beberapa kali
termasuk prilakunya kepada karyawan. Maka, permintaan maaf Wak Lontong
bak menelanjanginya. Siapa pula yang suka.
Lain halnya dengan Bu Siti.
Wak
Lontong memohon maaf kepada perempuan ini dan mengaku bahwa ia pernah
mempercayai kata-kata orang bahwa Bu Siti mencoba merebut suami
tetangganya alias pelakor. Sontak saja Bu Siti jengkel. Kendati itu
tidak benar, tapi sebenarnya ia memang sedang berencana mendekati
seorang laki-laki yang merupakan suami orang. Wah. Bu Siti seperti
diingatkan oleh Wak Lontong. Terang saja, ia menjadi gusar.
Wak Lontong juga mendatangi Pak Kepala Kampung.
Ia meminta maaf karena selama ini ikut senang mendengar gosip mengenai dirinya di warung kopi.
"Aku juga sering ghibah dengan Wak Bedol tentangmu" katanya sambil meminta maaf.
"Kami mempercayai rumor bahwa kamu menilep bantuan untuk desa," katanya jujur.
Pak Kepala Kampung tentu saja tidak nyaman.
Anehnya ia tidak menerima namun tak juga menyangkal.
Tidak hanya itu, ia juga mengajukan pertanyaan kepada orang yang meminta maaf kepadanya.
"Apa kesalahanmu padaku?".
Terang
saja, banyak yang kelabakan. Awalnya hanya berniat menjalin hati dan
keakraban, Wak Lontong malah membuat warga menjadi gerah.
Akhirnya warga meminta tolong kepada ustaz untuk menasehatinya.
Singkat cerita, Wak Bedol menghentikan aksinya ini.
Dia
tidak lagi meminta maaf dengan cara itu. Dia menggunakan cara yang
lazim digunakan orang di desa dengan mengucapkan, "Mohon Maaf lahir dan
Batin," saja.
Tapi, kini Wak Lontong melakukannya, setiap hari. Dari pagi sore, ia mendatanagi mereka, tanpa merasa capek.
"Kalau tidak begitu, dosaku dengan orang lain tak habis-habis, ,," katanya sambil menghitung dengan jari.
Tak ayal, wargapun ramai-ramai menghindar, dengan menutup pintu rumah.
Wak Lontong yang aneh..!!!


0 Comments