Oleh : M. Ridwan
Siang itu, di sebuah kafe yang lampunya sengaja dibuat temaram, seorang anak muda duduk paling pojok. Kemeja rapi, sepatu bersih, jam tangan mengilap. Di depannya terbuka laptop dengan grafik warna-warni yang naik turun seperti detak jantung. Sesekali ia menyeruput kopi, sesekali matanya tajam menatap layar. Dari jauh, kelihatannya keren. Sangat modern. Sangat “anak zaman sekarang”.
Orang yang lewat mungkin langsung berkesimpulan: "wah ini pasti berbisnis".
Dan memang, sekarang pemandangan seperti itu sudah jadi hal biasa. Anak muda trading forex, emas, kripto, saham—apa saja yang bisa “bergerak”. Di media sosial, kisahnya semakin menggiurkan: cuan cepat, profit harian, hidup fleksibel, kerja dari mana saja. Siapa sih yang nggak pengin kaya?
Masalahnya, di titik inilah kalimat “keren sih, tapi ini namanya spekulasi” mulai relevan.
Banyak anak muda yang masuk ke dunia trading bukan karena paham instrumen, risiko, atau mekanismenya, tapi karena satu dorongan klasik: takut ketinggalan. FOMO. Lihat teman pamer saldo, lihat influencer menunjukkan hasil trading, lalu berpikir, “Ah, saya juga bisa.”
Padahal, antara investasi dan spekulasi itu berbeda, setipis kulit bawang. Investasi bicara nilai, proses, dan kesabaran. Spekulasi lebih dekat ke tebakan: berharap harga naik, berharap pasar berpihak, berharap keberuntungan datang lebih cepat dari analisis.
Di dalam permasalahan lain muncul—yang jarang dibicarakan dengan jujur: soal keberkahan harta.
Keinginan jadi kaya itu wajar. Islam tidak anti harta, tidak anti kaya. Nabi dan para sahabat pun banyak yang kaya. Tapi ada satu garis yang sering dilupakan: bukan hanya dari mana uang datang, tapi bagaimana cara mendapatkannya. Ketika transaksi semakin mendekati perjudian—untung-untungan, nol usaha riil, nol nilai tambah—di situlah wilayah abu-abu berubah menjadi gelap.
Ironisnya, banyak yang sangat detail menghitung target keuntungan, namun longgar saat menimbang halal-haram. Grafik diperhatikan per menit, tetapi akad dan mekanisme transaksi hampir tidak pernah dibahas. Yang penting “masuk dulu”, urusan hukumnya belakangan.
Padahal, harta itu bukan hanya soal angka. Ia akan menjadi makanan, pakaian, biaya hidup, bahkan doa. Dan aneh rasanya berharap hidup tenang dari uang yang sejak awal lahir dari kegelisahan.
Tulisan ini bukan menghakimi. Bukan juga anti trading. Tapi sekadar mengajak jujur pada diri sendiri: kita sedang membangun masa depan, atau sekadar mengejar sensasi cepat? Sedang mencari rezeki, atau sekedar adrenalin?
Karena boleh jadi, yang terlihat keren di kafe dengan laptop itu…bukan sedang bekerja,tapi sedang mengharapkan.


0 Comments