Pertumbuhan Ekonomi: Antara Angka, Ilusi, dan Jalan Kembali ke Nilai Ilahiah
By: M. Ridwan
Malam itu, lampu-lampu kota menyala terang. Dari lantai atas sebuah kafe, Rafi memandangi jalanan yang tak pernah tidur. Di tangannya, layar ponsel menampilkan berita: “Pertumbuhan ekonomi Indonesia stabil di angka 5%.” Ia tersenyum kecil. “Negeri ini baik-baik saja,” gumamnya. Angka-angka dari World Bank dan Badan Pusat Statistik seolah menjadi bukti bahwa masa depan cerah sedang menanti.
Namun senyum itu perlahan hilang ketika ia teringat perjalanan siangnya ke kampung pinggiran kota. Di sana, ia melihat seorang ibu menghitung recehan untuk membeli beras, sementara anaknya menatap kosong ke arah warung. “Kalau ekonomi tumbuh, kenapa hidup mereka tetap sulit?” pertanyaan itu terus berputar di kepalanya. Angka-angka yang selama ini ia pelajari tiba-tiba terasa dingin, jauh dari kenyataan.
Keesokan harinya, di ruang kelas, dosennya berkata, “Kita hidup dalam paradoks. Ekonomi tumbuh, tapi ketimpangan juga meningkat.” Ia kemudian menunjukkan data dari Oxfam tentang bagaimana kekayaan dunia terkonsentrasi pada segelintir orang. Rafi terdiam. Ia mulai sadar bahwa pertumbuhan tidak selalu berarti keadilan.
Beberapa hari kemudian, Rafi bertemu dengan seorang ustaz tua di masjid kampus. Dalam percakapan sederhana, sang ustaz bertanya, “Nak, menurutmu apa itu kaya?” Rafi menjawab cepat, “Banyak harta, Pak.” Ustaz itu tersenyum, lalu membaca sebuah ayat, “Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan keberkahan…” (QS. Al-A’raf: 96). Rafi tertegun. Untuk pertama kalinya, ia mendengar kata keberkahan dalam konteks ekonomi.
“Dalam Islam,” lanjut sang ustaz, “yang penting bukan hanya bertambah, tapi juga bagaimana harta itu berputar dan membawa kebaikan.” Ia kemudian menyebut hadis Rasulullah ﷺ, “Tidak akan berkurang harta karena sedekah.” Rafi mengernyit. Logikanya sebagai mahasiswa matematika menolak—memberi berarti berkurang. Tapi di sisi lain, ia melihat kenyataan: banyak orang sederhana yang suka berbagi justru hidup lebih tenang.
Malam itu, Rafi kembali membaca tentang Global Financial Crisis 2008. Ia menemukan bagaimana sistem berbasis utang, riba, dan spekulasi bisa meruntuhkan ekonomi dunia. Ia membayangkan: bagaimana jika sistem yang digunakan berbeda sejak awal? Bagaimana jika ekonomi dibangun di atas keadilan, bukan sekadar keuntungan?
Hari-hari berikutnya mengubah cara pandangnya. Ia mulai melihat ekonomi bukan lagi sekadar grafik naik atau turun, tetapi sebagai cermin nilai manusia. Ia melihat zakat bukan hanya kewajiban, tapi solusi distribusi. Ia memahami wakaf sebagai investasi jangka panjang untuk umat. Ia bahkan mulai berpikir sederhana: “Bagaimana jika setiap orang kaya merasa bertanggung jawab terhadap yang lemah?”
Suatu sore, Rafi kembali ke kampung yang dulu ia kunjungi. Kali ini ia datang tidak hanya membawa pertanyaan, tetapi juga ide. Ia mengajak beberapa teman untuk memulai program kecil—mengumpulkan dana, membantu usaha mikro, dan mengedukasi masyarakat tentang keuangan sederhana berbasis syariah. Tidak besar, tidak langsung mengubah dunia, tapi nyata.
Saat matahari terbenam, ia melihat anak kecil yang dulu ia temui kini tertawa sambil membawa roti di tangannya. Rafi tersenyum, tapi kali ini berbeda. Ia tidak lagi melihat ekonomi sebagai angka di layar, melainkan sebagai kehidupan yang bergerak.
Dan di dalam hatinya, satu kesadaran tumbuh kuat:
bahwa pertumbuhan sejati bukanlah tentang seberapa tinggi angka naik,
tetapi tentang seberapa luas kebaikan itu menyebar.

Comments
Post a Comment