By: M. Ridwan
Berita duka ini datang Sabtu kemarin. Adi Sasono telah wafat. Berita ini masuk di group medsos yang penulis ikuti. Innalillahi wa inna ilahi raji'un. Tak ada manusia yang pernah tahu kapan ia akan menghadap pencipta. Termasuk Adi Sasono yang meninggal dalam usia 73 tahun ini.
Saya kira, tidak ada yang tidak mengenal sosok Adi Sasono di negeri ini. Pejuang ekonomi rakyat ini adalah mantan menteri Koperasi dan UKM di era Habibie. Sosoknya kalem, namun ulet dan terkenal teguh memperjuangkan ekonomi kerakyatan dimana koperasi sebagai soko gurunya.
Dan, ia pernah ditakuti Barat. Pasalnya, Adi pernah mengatakan bahwa "konglemerat seharusnya takut kepada saya". Kendati kelihatannya, ia tidak bermaksud serius, namun tak ayal majalah The Washington Post edisi 2 Maret 1999, langsung menjulukinya 'Indonesia's Most Dangerous Man'. "Orang Indonesia yang paling berbahaya".
Dalam wacana ekonomi syariah Indonesia, ide ekonomi kerakyatan mendapat gaung bersambut. Ekonomi kerakyatan memiliki pesann yang sama dengan ekonomi Islam karena bermaksud memberdayakan masyarakat banyak. Makanya, dosen saya, Prof. Sri Edi Swasono, mengatakan bahwa ekonomi Islam dan ekonomi kerakayatan itu identik dan memiliki tujuan yang sama. Tinggal lag, harus diinput nilia-nilai relijius yang kuat.
Seberapa pentingkah ekonomi kerakyatan ini?
Singkatnya begini.
Pernahkah Anda pusing tujuh keliling melihat fenomena menjamurnya perusahaan-perusahaan besar yang seakan lapar melahap sumber daya negeri ini?. Jangan silap, saya tidak anti perusahaan besar, lho, seperti beberapa artikel yang cukup provokatf yang sering masuk ke WA saya. Memang sih, fenomena perusahaan besar -atau istilahnya konglemerasi ini- bisa saja dipandang membahayakan karena memberangus perusahaan kecil. Namun, keberadaan mereka tentu juga berguna untuk menciptakan lapangan kerja yang memang dibutuhkan negeri ini. Kita butuh pertumbuhan ekononomi, bukan? Jadi, seharusnya, tidak ada kamus kebencian dalam benak kita terhadap keberadaan perusahaan-perusahaan besar di negeri ini. Ini negeri merdeka. Biarkan mereka berkembang dan tumbuh sebanyak-banyaknya.
Yang jadi masalah tentu, apabila perhatian kita terhadap ekonomi kerakyatan ini pupus karena perhatian yang lebih besar diberikan kepada perusahaan raksasa dan konglemerat itu. Misal, kita sibuk membincangkan bagaimana mengundang investor asing ke negeri ini, namun alfa perhatian terhadap perkembangan usaha mie goreng Mbok Ani, misalnya. Atau kita menyediakan karpet merah bagi perusahaan tambang asing, namun memberangus perusahaan tambang tradisional yang sudah lama hidup di negeri ini. Atau, kita melupakan produksi makanan lokal seperti pecel, tekstik lokal seperti batik, atau kerajinan tangan masyarakat dan lebih takjub dengan produksi makanan, tekstik atau manufaktur impor.
Makanya, kalau saya ditanya, apakah Islam melarang kapitalis atau konglemerasi?, maka setahu saya Islam tidak pernah melarangnya. Syaratnya, harus ada nilai-nilai Islam yang dimiliki oleh seorang kapitalis atau sosialis sekalipun. Tanpa itu, maka bersiaplah menyerahkan kekayaan dunia kepada orang-orang yang tamak alias serakah.
Nah, disinilah sosok Adi Sasono mendapat tempatnya. Beliau adalah sosok yang tak henti-hentinya menyatakan bahwa ada something wrong dengan pola berekonomi kita. Terutama ketika persaingan antara perusahaan besar dan kecil menjadi tidak fair lagi. "Bagaimana mungkin gajah melawan pelanduk"?, mungkin begitu analoginya. Setahu saya di Indonesia banyak tokoh-tokoh ekonomi kerakyatan ini, sebut saja Bung Hatta yang kemudian dilanjutkan menantunya, Prof. Sri Edi Swasono, dan tentunya Adi Sasono ini.
Adi Sasono bukanlah sosok yang suka mengeluh. Ia punya sejuta alternatif dan jalan keluar mengatasi kondisi. Apa itu? Salah satunya adalah pemberdayaan ekonomi rakyat dimana koperasi adalah modelnya. Ia semakin memperkukukh gagasan Bung Hatta tentang ekonomi kerakyatan ini.
Istilah koperasi itu terkesan tidak keren ya?. Heheh, jangan sepele.
Koperasi bisa menjadi David-nya dalam kisah melawan Goliath. Bayangkan, koperasi adalah salah satu cara yang memungkinkan rakyat negeri ini mendapatkan peluang yang sama dalam kekayaan. Beda dengan konglemerasi dimana hanya pemilik kapital-lah yang akan terus bertambah kaya. Mirip lagu Rhoma Irama-lah.
Bayangkan saja tuh seandainya perusahaan-perusahaan besar yang beroperasi di negeri ini dimiliki oleh koperasi. Entah itu perusahaan tekstil, properti, otomotif, telekomunikasi, makanan bahkan perusahaan waralaba. Maka dipastikan semua warga ini kecipratan rejeki, bukan?. Apa yang terjadi kini berbeda bukan?, makanya banyak yang stress dan merasa "kalah" dan terhina. Wong, cari makannya dilakukan sendiri-sendiri sih.
So, tunggu apalagi?. Segera dirikan koperasi dan dukunglah ia. Tentu, pemerintah harus terdepan dalam hal ini. Berhentilah, terpesona dengan gemerlap konglemarasi dan bertaubatlah dengan membenahi ekonomi kerakyatan negeri ini. Kerja ini membutuhkan usaha keras dan perjuangan, maka untuk itulah kita dilahirkan di negeri ini, bukan?
Selamat jalan Mas Adi Sasono. Insyallah, Allah akan menempatkanmu di dalam kasih-sayang-Nya dengan baktimu memberdayakan ekonomi rakyat negeri ini. Apakah kita akan menjadi The Next Indonesia's The Most Dangerous?. Wallahu'alam.

2 Comments
izin share mas ...
ReplyDeleteSilahkan mas, dengan senang hati....
ReplyDelete