By: M. Ridwan
Saya dan beberapa rekan penguji calon mahasiswa baru UIN kemarin kaget bukan kepalang. Dari hasil wawancara kami dengan mereka, ternyata pengetahuan agama yang dimiliki adik-adik alumni sekolah umum ini cukup minim. Beberapa pertanyaan dasar seperti sejarah nabi, tata cara sholat, rukun iman dan Islam tidak mendapatkan jawaban yang "memuaskan" dari sebagian besar mereka. Memuaskan yang dimaksud bukan sekedar tahu jumlah dan caranya, namun juga mencakup pemahaman mereka terhadap dasar-dasar agama Islam. Jawaban yang sediikt memuaskan biasanya berhasil diberikan oleh alumni sekolah agama, namun tetap saja masih belum begitu memuaskan, jika dibandingkan dengan calon mahasswa beberapa dekade lalu.
Apakah ini pertanda bahwa terjadi "degradasi" pemahaman agama di kalangan adik-adik sekolah menengah di negeri ini?. Saya tidak berani menyimpulkan karena harus dilakukan riset yang lebih mendalam untuk menjawab hal ini. Namun, ada beberapa informasi umum yang disampaikan oleh adik-adik ini. Apa itu?, ternyata mereka hanya mendapatkan pelajaran agama selama 2 jam saja selama seminggu. Maka, dapat dibayangkan betapa minimnya pengetahuan agama yang mereka miliki. Apakah saya tidak terlalu cepat menyimpulkan?
Tragisnya lagi. Peran orang tua dalam memberikan pemahaman agama yang lebih mendalam juga tidak terlihata. "Orang tua kami sibuk, pak" jawab mereka. "Kami tidak ada mengaji di sore hari pak, waktu sudah tidak ada dan capek" jawab mereka. Kendati biasanya terkait waktu ini saya tidak terlalu percaya. Soalnya, banyak yang tanpa sadar menghabiskannya di depan TV bukan?
Makanya, saya tidak heran, jika bang Akmal -Dekan FEBI UINSU- lantas menajadikan fenomena ini menjadi judul artikel beliau di harian Waspada. Judulnya cukup menyentakkan. "Generasi Muda Muslim Tanpa Islam". Tulisannya mengungkap keprihatinan beliau. Bayangkan, pertanyaan dasar tentang sholat dan tatacaranya juga tidak bisa terjawab dengan memauskan. Ia khawatir, generasi-generasi seperti ini akan mudah dimanfaatkan oleh aliran-aliran radikal yang suka mencuci otak genrasi muda Islam. Wah, jadi berabe nih.
Alhasil, saya hanya mengajukan sebuah pertanyaan sederhana saja. "Berapa sih harga ilmu-ilmu agama dalam pandangan warga negeri ini?". Silahkan berikan angka ya. "Apakah harganya 1 juta, 2 juta atau 30 juta?. Ada yang berani kasi harga misalnya 1 milyar?. Apakah harganya murah atau mahal?. Apakah kita lebih terkesima dengan penguasaan ilmu-ilmu eksak dan teknologi yang dimiliki anak-anak kita ketimbang ilmu agama yang terasa "kampungan dan tidak bisa menjamin masa depan yang lebih cerah?". Sorry ya. sore ini saya lagi tumben curhat.
Tapi, sejujurnya, hatiku "nelangsa" kemarin itu. Betapa umat ini memang harus kembali berkaca dan melihat masa depan generasi kita. Ternyata, ada persoalan yang lebih besar ketimbang rupiah yang anjlok, penerimaan pajak yang tidak mencapai target, pertumbuhan ekonomi yang rendah, pilkada, resuffle kabinet, kasus KKN atau peningkatan daya saing Indonesia. Apa itu? ya tentu saja, persoalan itu pemahaman agama para generasi muda bangsa ini.
Ini serius lho. Generasi-generasi yang kami hadapi kemarin adalah sosok pemimpin masa depan. Dapat dibayangkan tidak, akibat jika ternyata pemimpin-pemimpin kita ke depan ternyata masih belum "lewat" dalam membaca Alquran dan tatacara sholat?. Pemimpin negeri mayoritas muslim, lho. Makanya, kadang saya menjadi maklum juga sih. Pantesan negeri ini seperti ini. Pantesan banyak yang tidak takut dosa dan azab akhirat. Pantesan narkoba, mesum. korupsi dan penyakit hati merajela. Wong, ajaran agama yang dipahami ternyata hanya seujung kuku. Padahal, penguasaan pengetahuan agama yang banyak pun belum tentu bisa menjamin negeri ini aman dari prilaku menyimpang bukan?. Apalagi kalau penguasaan cuma sedikit karena dianggap sebagai ilmu pelengkap saja.
Tapi saya yakin, kita semua ingin negeri ini menjadi baik. Kita ingin anak-anak negeri ini memiliki penguasan agama yang baik, benar dan berkualitas. Makanya, "kejadian" kemarin itu bagi kami semakin membuka mata dan menjadi cemeti untuk terus komit berjuang memperbaiki bangsa melalui pendidikan tinggi. Silahkan masing-masing, ambil peran yang disukai ya. Yang penting, anak-anak muslim negeri ini semakin membaik. Teknisnya bisa macem-macem. Dan, jangan lupa, orang tua memegang peranan maha penting untuk melakukan ini. Jangan diserahkan hanya kepada sekolah, lho.
Hemat saya, kita harus sepakat mengatakan bahwa ilmu agama itu nilainya sangat mahal. Ilmu agama itu adalah ilmu lintas dimensi, yang seharusya dikejar mati-matian. Makanya, saya heran saja, kalau ada yang bertanya, apakah belajar ilmu agama itu bisa menjamin masa depan?. Pertanyaan ini jamak dan sering didengar. Atau minimal malu-malu diakui. Di kampus-kampus perguruan tinggi agama fenomena ini terlihat jelas, dimana minat calon mahasiswa untuk memilih prodi agama menurun drastis dan mulai ditinggalkan. Tentu saja, para akademisi kampus juga harus intropeksi. Jangan-jangan, kita yang membuat ilmu agama itu tidak menarik lagi?. Harus kreatif-lah. Misal, dengan mengintegrasikan dengan ilmu umum atau sebaliknya.
Bro, dunia kita memang fisikal sekali. Makanya ilmu eksak dan teknologi menjadi sangat menarik karena kelihatan wujudnya. Sedangkan domain ilmu agama itu lebih kepada immateri dan propan, makanya mungkin kurang menarik dimata zahir ini. :) Namun, bukankah pintu gerbang yang paling lebar untuk menuju kehidupan akhirat yang lebih baik, adalah melalui pintu ilmu agama?.
Dalam kacamata saya, ilmu agama itu adalah ilmu tentang peluang investasi, lho. Ia adalah ilmu tentang analisis fundamental, maupun teknikal, bukan tentang pasar saham dunia, tapi tentang saham akhirat. Ia adalah ilmu tentang bagaimana menentukan indeks dan kedudukan kita di hadapan Tuhan kelak. Ia adalah ilmu tentang meraih cinta Tuhan yang akan dengan sukarela kelak memberikan surga-Nya kepada kita. Surga seluas langit dan bumi itu lho...
Sehingga, kalau saya ditanya, berapa harga ilmu-ilmu agama?. Makanya jawabannya bisa saja milyaran trilyunan Dollar, atau bahkan tak terhingga. Maka, bersyukurlah dengan ilmu-ilmu agama yang kita ketahui. Dan tingkatkanlah. Tingkatkan pemahaman agama generasi muslim negeri ini agar tidak kehilangan Islam mereka. Wallahu a'lam.

0 Comments