Ticker

6/recent/ticker-posts

Pekikan Merdeka dan Balada Pahlawan Yang "Pelupa"

By: M. Ridwan

"Balada Pahlawan "Pelupa" adalah tulisan saya untuk pringatan HUT Kemerdekaan RI yang ke-71 tahun 2016 ini. Apakah balada itu?

Sebelumnya saya mau bercerita dikit.
Sekitar bulan Desember 1997, atau kira-kira 19 tahun lalu, saya dan 2 rekan mahasiswa pernah mendapat kehormatan mewakili Sumatera Utara dalam pertandingan cerdas cermat P-4 Tingkat Nasional Antar Perguruan Tinggi.  Menurut Rektor IAIN saat itu yaitu Prof. DR. Yakub Matondang, prestasi kami sangat membanggakan karena baru saat itulah IAINSU bisa menjadi duta Sumut. Biasanya sih, kontingen yang menjadi duta adalah utusan UNIMED atau USU. Bangga juga, lho :)

Singkat cerita, kami berangkat ke Jakarta dengan tim lainnya. Ada ibu-ibu yang ikut pertandingan simulasi P-4, dan ada pula adik-adik SMP dan SMU yang ikut pertandingan pidato P-4. Pokoknya timnya lengkap deh.

Cerita mengenai pertandingan kami sebenarnya tidak begitu menarik sih. Soalnya, kami kalah di babak penyisihan. Kata pendamping kami -yang kebetulan adalah dosen UNIMED dimana anak didiknya kami kalahkan- bahwa ada hal yang kurang fair. Entahlah. Saya tidak akan mengulas hal ini. Saat itu, kami berhusnuz zan saja, Maklum, pertandingan P-4, lho. Pengamalan Pancasila toh, mana mungkin ada hal-hal yang menyalahi nilai-nilai Pancasila?. Masak sih ada ketidakjujuran dalam pertandingan yang diikuti semua propinsi di Indonesia?. Yang jelas kami, sudah kalah ketika hari pertama bertanding. Menangisinya juga tidak perlu, apalagi sampai mencari kambing hitam, bukan? :)

Yang menarik adalah cerita dari arena pertadingan pidato tingkat SMU. Delegasi Sumut diwakili oleh Akbar dan Indah. Si Akbar sudah kalah duluan di babak penyisihan dan tinggallah si Indah yang masuk ke babak semifinal. Nah, kejadian menarik terjadi di babak semi final ini.

Ketika itu, pertarungan antara si Indah dengan tim lain sangat alot. Ia mendapat urutan terakhir yaitu no 9. Lawan tandingnya hebat-hebat terutama seorang peserta dengan no. 8 yang berpidato berapi-api. Lengkap dengan mimik dan intonasinya. Materinya juga padat. Para juri -yang merupakan Widyaiswara terlihat meletakkan pulpen mereka. Sepertinya mereka yakin bahwa tidak ada lagi yang lebih baik dari peserta no 8 ini.

Kamipun bersiap menerima kenyataan bahwa tim pidato Sumut akan kalah.
Namun, apa yang terjadi?
Di luar dugaan, si Indah tampil sangat memukau dan tidak pernah ditunjukkan dalam latihan sebelumnya. Materinya diimprovisasi sendiri. Tema pidatonya adalah mengenai pembangunan dan cara mengisinya. Kami kaget karena ia menyampaikannya dengan penuh penghayatan. Di luar skenario.
Sampai sekarang saya masih tergiang beberapa kalimat yang disampaikannya, "Seandainya para pahlawan kita hidup saat ini, apa yang akan mereka katakan ketika melihat Indonesia?. Apakah mereka akan bahagia atau menangis melihat tingkat polah kita yang seakan lupa dengan perjuangan mereka?. Tegakah kita melupakan perjuangan mereka dan sibuk bertengkar dan menguatkan ego masing-masing?

Swear, bro. Sebagian besar peserta yang mendengarkannya berlinang air mata. Bergetar dan merinding. Adik ini menyampaikannya dengan penuh khidmat. Bahkan,  para Widyaiswara tertegun dan terlihat menyeka air mata. Entah kekuatan apa yang menyebabkan ia mampu berpidato sesempurna itu. Kami sangat tersentuh. Ada tarikan untuk mengakui kekhilafan kepada para pahlawan yang memperjuangkan negeri ini. Ada perasaan bersalah dan berdosa.
Dan, si Indah akhirnya masuk ke dalam babak final mengalahkan peserta no 8 yang menangis sesegukan. Kendati akhirnya Indah hanya puas menempati juara ke-2, di babak final esok harinya.  Lagi-lagi, menurut para penonton, "ada kecurangan juga". Wah,wah...
Yang jelas, itu adalah pertandingan P-4 yang terakhir diadakan di negeri ini karena 6 bulan kemudian, tepatnya bulan Mei 1998, Indonesia bergejolak dan Soeharto turun dari presiden. Dan, cerita P-4 pun hilang ditelan sejarah.Tamat.

Adapun yang membuat kami bergetar adalah ketika si Indah memekikkan kata "merdeka..!!!" saat itu. Pekikan itu diucapkannya dengan penuh keyakinan, dari hatinya yang ikhlas. Ia mengucapkannya dengan sepenuh jiwa. Makanya, langsung menusuk ke hati.

Nah, bayangkan pula bagaimana pula pekikan merdeka yang diucapkan para pejuang kita dahulu?. Bagaimana pekikan "merdeka"-nya Bung Tomo?. Bagaiman pekikan "merdeka" Jendral Sudirman?. Bagaimana pula dengan pekikan merdeka Soekarno dan pejuang Arek-Arek Suroboyo?. Energi mereka tak dapat dibayangkan, bro.

Lalu, bagaimana dengan pekikan "merdeka" kita saat ini?. Apakah getarannya sama dengan pekikan para pahlawan kita yang "pelupa" itu. Lho, kok mereka "pelupa", sih? Tega amat diriku...

Benar, para pahlawan kita itu adalah orang-orang "pelupa", bro. Mereka itu bahkan bisa dikatakan "tidak pintar". Eit, jangan tersinggung dulu. Saya tidak sedang menghina para pahlawan. Memang begitu kenyataannya.

Para pahlawan itu saya sebut "pelupa" karena mereka memang selalu "lupa" dengan kepentingan diri sendiri. Para pahlawan dan pejuang negeri ini terlalu "sibuk" mengejar kemerdekaan negeri ini sehingga "lupa" mengejar kepentingan pribadi, bukan?.
Mereka lupa bagaimana memperkaya diri, lho.
Mereka tidak tahu cara dan lupa harus meng-kavling bumi pertiwi ini.
Mereka tidak tahu cara dan terlupa untuk menguasai hutan, sungai dan lautan seperti yang kita lakukan saat ini.
Mereka hanya tahu bagaimana negeri ini merdeka. Titik. Selainnya?, mereka tidak peduli..!!!

Bung Hatta itu "pelupa" lho, bahwa ia adalah seorang Wakil Presiden yang bisa saja memanfaatkan posisinya untuk mendapatkan sebuah sepatu Bally. Dalam cerita disebutkan bahwa sampai akhir hayatnya, Bung Hatta tetap tidak mampu membeli sepatu itu. Bayangkan bro, seorang Wapres negeri besar ini tidak mampu membeli sebuah sepatu..!!!. Malu-maluin-kah?

Negeri ini juga mencatat bagaimana "pelupa"nya M. Nasir. Dia itu Menteri Penerangan dan pernah menjadi Perdana Menteri di tahun 1950-1951. Ia lupa akan dirinya sehingga hidupnya tetap saja sederhana dan cendrung dekat kepada kemiskinan.
Padahal, ia sebenarnya bisa saja hidup lebih mewah lagi. Karena "lupa" akan posisinya, ia pernah menolak pemberian sebuah mobil mewah dan tetap pede dengan mobil bututnya. Saking lupanya, ia bahkan tidak sempat memikirkan bagaimana cara memiliki rumah layak dengan jabatan ini, Keluarga mereka hidup dengan menumpang di paviliun sahabatnya lho. Ccckkk...

Agus Salim yang pernah jadi menteri pada tahun 1948-1949 juga "pelupa" lho.
Dia lupa sehingga masih tetap tinggal di sebuah rumah kecil di sebuah gang sempit Ibukota.  Untuk melepaskan kejenuhannya, ia sering mengganti posisi kamar tidur menjadi kamar tamu dan sebaliknya. Bayangkan, betapa "pelupa"nya ia dengan jabatan seorang menteri.

Masih banyak pejuang dan pahlawan "pelupa" lainnya. Mereka bahkan boleh dibilang "bodoh" dalam hal dunia. Mereka hanya tahu berbakti dan mengabdi pada negara.

Seharusnya, kita malu ya?. Kita adalah manusia masa kini yang hidup dalam serba kecukupan.
Dan, tentunya sadar bahwa kita adalah orang pintar. Kita sangat mudah "ingat" dengan kepentingan pribadi. Kita mungkin sangat ahli meng-kavling bumi pertiwi dan mahir mendulang kekayaan dari perut bumi negeri ini. Saking "ingat"nya kita, tak jarang kita saling bertengkar dan bermusuhan demi kepentingan pribadi. Saking "ingatnya" kita dengan masa depan pribadi kita menjadi lupa dengan perjuangan para pahlawan "pelupa" tadi.

Meskipun, mungkin kita bisa membela diri dengan mengatakan bahwa jaman sudah berubah, bukan?

Masak sih seorang menteri harus pakai mobil jelek dan butut?. Masak sih seorang pejabat harus tinggal di rumah kontrakan dan terkesan miskin?. Malu-maluin dan menjatuhkan wibawa ya..Hehe..

Saya yakin, bahwa orang-orang seperti Jendral Sudirman, Soekarno, Bung Hatta, Bung Tomo, Agus Salim dan jutaan pejuang ikhlas lain, adalah orang-orang yang mampu membuat sebuah pekikan merdeka itu memiliki kekuatan dahsyat. Pekikan yang "berisi" dan menggetarkan jiwa. Sama seperti pekikan "merdeka" yang diucapkan oleh Si Indah tadi.

Untuk HUT kali ini saya kira, ada bagusnya kita membuat pertandingan baru, lho. Yaitu pertandingan meneriakkan kata "Merdeka..!!!". Pemenangnya adalah orang yang teriakannya paling menggetarkan jiwa dan membuat kita berenergi. Apakah ada yang akan membuat kompetisi ini ya?.:)

Saya jadi teringat saja dengan beberapa pidato Proklamator Indonesia yang saya kutip dari sebuah situs:

“Janganlah mengira kita semua sudah cukup berjasa dengan segi tiga warna. Selama masih ada ratap tangis di gubuk-gubuk pekerjaan kita selesai ! Berjuanglah terus dengan mengucurkan sebanyak-banyak keringat.” (Pidato HUT Proklamasi, 1950 Bung Karno)

“Apakah Kelemahan kita: Kelemahan kita ialah, kita kurang percaya diri kita sebagai bangsa, sehingga kita menjadi bangsa penjiplak luar negeri, kurang mempercayai satu sama lain, padahal kita ini asalnya adalah Rakyat Gotong Royong” (Pidato HUT Proklamasi, 1966 Bung Karno)

Itu pidato yang menggetarkan, bukan?

Selamat HUT RI yang ke-71, ya. Semoga Allah meridhai negeri ini dan menggetarkan jiwa kita untuk insyaf dan sadar membenahi diri dengan pengorbanan yang berarti. Semoga pula kita tidak menjadi manusia pelupa terhadap jasa pahawan bangsa ini. Semoga. Amin. Wallahu a'lam

Post a Comment

0 Comments