PILKADA serentak di seluruh Indonesia usai
sudah. Tinggal menunggu hasil. Namun, beberapa lembaga Quick Count sudah
merilis hasil sementaranya. Biasanya, akurasi QC cukup terpercaya untuk
menggambarkan hasil akhir siapa yang berhak menjadi gubernur selama 5 tahun ke
depan. Congratulation bagi yang terpilih dan tidak terpilih. Lho?
Ya, dalam perspektif Islam, bagi yang
terpilih, tentu bersyukur karena diberikan TUHAN amanah untuk memikul tanggung
jawab besar atas keberlangsungan hidup sekian juta rakyat di bawahnya. TUHAN tahu
bahwa ia mampu mengembannya. Kalau KEPEMIMPINANNYA sukses, maka amal jariyahnya
PASTI sangat besar. Gak putus-putus, termasuk bagi TIMSES dan para pemilih. Sebaliknya
kalau gagal, dosa jariyah nya juga tak terbilang. Jadi, ngeri-ngeri sedap. Maka, bagi yang KALAH tentu juga bersyukur. Tuhan sayang kepadanya. Beban BERAT itu tidak jadi dipikulnya. Mungkin saja nih, TUHAN menganggap ia belum mampu, atau belum punya kesiapan hati jika nanti menjadi GUBERNUR. Mungkin saja pendukungnya nanti malah merepotkan, nanti tidak ADIL atau MENJAUHI AJARAN TUHAN. Jelasnya, TUHAN lebih tahu apa yang terbaik untuk dirinya dan manusia lain. Kurang sayang apa TUHAN kepadanya?. Ada gak yang bersyukur ketika IA kalah PILKADA ya?
Kalau MENANG dan KALAH adalah untuk diri
dan kelompok, pasti siapapun akan BAPER, STRESS, TERHINA, dan KECEWA berat. Itu
KEKALAHAN yang membawa LAKNAT. Sudah kalah, namun dimarahi TUHAN pula. So be
wise…cool dan bersyukurlah atas KEKALAHAN itu.
Menang atau KALAH adalah momen mengambil I’TIBAR.
LESSON from GOD. PILKADA itu bukan sekedar MEMENANGKAN SUARA atau perhatian
RAKYAT. PILKADA harus memenangkan PERHATIAN TUHAN dan SUARA LANGIT. Keren
bukan?
Maka, istilah GUBERNUR VERSI 4.0 menjadi menarik.
Meminjam istilah Revolusi Industri Versi 4.0 yang lagi trend saat ini.
Siapapun GUBERNUR yang menang dalam PILKADA
2018 ini pasti dihadapkan kepada Era Industri 4.0 ini. Itu lho, era industri yang
mengedepankan efisiensi, pemanfaatan IT yang dominan dan tentunya SDM yang juga
berkompeten. Pola pengelolaan pemerintahannya harus MODEL JAMAN NOW. Harus ada
perubahan paradigma melayani tanpa batas dan sepenuh hati. Harus mampu MENGHUBUNGKAN semua potensi dan membangkitkan inovasi dan kreasi. Tanpa kecuali.
Tantangan jaman semakin BERAT. Ancaman dari
LUAR juga besar. Ancaman ini tidak mesti dalam bentuk infiltrasi asing atau
militer. Bisa berupa KEKALAHAN KITA menyesuaikan diri dengan kemajuan jaman terutama
pada ERA DIGITAL ini.
Saya ambil contoh. Berapa banyak UMKM di Indonesia yang terkoneksi dengan INTERNET?. Berapa banyak Pemerintahan Desa yang melakukan pelayanan berbasis online?. Berapa banyak akses intenet gratis yang bisa dimanfaatkan masyarakat di pedesaan? Dan berapa tinggi kemampuan SDM pemerintahan kita menghadapi ERA DIGITAL ini?. Seberapa kuat daya tahan generasi muda terhadap infiltrasi media dan ideology aneh?. Terakhir, seberapa efisien kinerja pemerintahan kita dari desa sampai ke pusat?. Seberapa bagus Good Government Governance (GGC) nya ?.
Maka, GUBERNUR Versi 4.0 itu tentu harus
MELEK INDUSTRI 4.0 pula. Tentunya, bukan untuk dirinya secara personal.
Kebijakannya yang harus melek Indutri 4.0. Siapapun GUBERNUR nya, harus
didukung oleh orang-orang yang memahami tantangan industry versi 4.0 ini.
Berita baiknya, masyarakat saat ini sudah
cukup akrab dengan penggunaan teknologi digital.Minimal sebatas menjadi
pengguna sosial media yang kadang-kadang lebih sering digunakan untuk AKSI
HEBOH-HEBOH dan BULLY itu. Tapi gak apa-apa lah. Ke depan harus dijadikan LEBIH
PRODUKTIF. Sayangilah UMUR kalau SEKEDAR untuk MEDOS apalagi kalau hanya JAGO nge-BULLY dan HATE SPEECH doang, iya kan?…
Kondisi masyarakat yang melek IT sangat
membantu pemerintahan untuk lebih TERBUKA dan cepat memberikan layanan. Awalnya
CAPEK sih, namun akan TEBIASA juga. Malahan asyik dan tentunya BERKAH.
Nah, sekarang tugas masyarakat juga ADA.
Bagaimana membuat GUBERNUR Versi 4.0 bisa bekerja dengan baik?
Caranya mudah.
Jangan bebani mereka dengan beban di luar
KAPASITAS dan fungsi mereka. GUBERNUR versi 4.0 jangan dibebani dengan
PERMINTAAN ANEH-ANEH. Mintalah KEBIJAKAN yang PRO RAKYAT, dan kolektif. Mintalah
kepada mereka PERENCANAAN PEMBANGUNAN berbasis KESEJAHTERAAN dan PENINGKATAN
DAYA SAING. Kan gak lucu, kalau GUBERNUR versi 4.0 nya justru dijadikan ajang meminta uang, minta proyek, aksi KKN, apalagi minta balas jasa. Maka, jangan cepat SAKIT HATI, kalau permintaan PERSONAL kita tidak digubris. GUBERNUR versi 4.0 itu BERPIKIR KOLEKTIF dan MENYELURUH. PERMINTAAN REMEH-TEMEH justru akan menganggu kinerja mereka. Right?. Mereka GUBERNUR semua rakyat, tak peduli meski orang itu TAK tidak memilihnya.
Terakhir, GUBERNUR Versi 4.0 ala Indonesia harus mengedepankan nilai-nilai agama dan etika pemerintahan yang merangkul semua pihak. ULAMA dan TOKOH AGAMA harus didengarkan. AGAMA harus jadi pemersatu. CAPEK DEH, melihat aksi saling bully dan merendahkan atas nama SARA. Biarkan pemeluknya saling berangkulan dan bekerja sama.
Istilah-istilah atau
label yang membuat TERPECAH BELAH dan SENSITIF dihilangkan SEGERA. Entah itu kata RADIKAL, INTOLERAN, NON-PRIBUMI, TIDAK NASIONALIS, dsb. Saya menyebutnya,
labelisasi yang DESTRUKTIF. Hanya membuat SAKIT hati dan MEMICU permusuhan.
Penafsirannya bisa LIAR.
Sebaliknya, MASYARAKAT ERA 4.0 harusnya FOKUS dengan label-label versi 4.0 juga. Misal, industri kreatif, digital economy, artificial Intelligence, cloud, Internet of Things, dsb.
Lagi-lagi, semua UPAYA di atas bertujuan membuat WARGA NEGERI ini memiliki daya saing tinggi ditengah upaya gencar negara
lain untuk meninggalkan kita. Sayang dong, biaya dan pikiran yang telah
dihabiskan untuk mensukseskan PILKADA di negeri ini. Good luck Indonesia, Good luck Our New Governors....
Wallahu a’lam


0 Comments