By: M. Ridwan
Good Will itu artinya niat baik. Guru ngaji saya bilang, niat itu adalah kunci diterimanya amal ibadah.
Yes, pertanyaan judul di atas layak
dipertanyakan kepada setipa warga negeri ini. “Seberapa baik, niat baik kita?”.
Terhadap apa?. Tentu saja terhadap EVERYTHING terkait kehidupan kita di negeri indah bernama
Indonesia ini.
Bukan karena apa-apa sih.
Negeri dengan segudang masalah ini memang
harus diperlakukan dengan SANGAT BAIK. Tidak cukup hanya BAIK,lho apalagi kalau
TIDAK BAIK.
Nah, semua kebaikan untuk negeri ini pasti
diawali dengan NIAT YANG SANGAT BAIK. Tanpa itu?, jangan harap permasalahan negeri
ini akan hengkang.
Niat baik menentukan tindakan kita terhadap
negeri ini.
Saya ambil contoh, ketika Kurs Rupiah
terhadap Dollar Amrik itu anjlok, maka niat baik ini layak dipertanyakan.
Misal, apakah para pengusaha yang memarkir
Dana Hasil Ekspor di luar negeri itu sudi membawanya ke dalam negeri supaya
Rupiah menjadi bertaji?. Apakah mereka punya niat baik untuk melakukan itu,
meski hitung-hitung keuntungan mungkin tidak begitu menarik?.
Apakah para trader mata uang, komoditi atau
saham yang lihai membaca candlestick dan analisis fundamental itu mau BERNIAT
BAIK untuk tidak lagi melakukan spekulasi meski untungnya menggiurkan?
Atau,
Apakah, para pemilik Dollar khususnya
konglemerat negeri ini SUDI dan IKHLAS menukarkan pundi Dollarnya ke dalam
rupiah dan tidak tergoda menambah kekayaannya di atas “PENDERITAAN” orang lain? Meskipun tindakan menumpuk uang itu legal di negeri
ini, lho. Namun, tegakah dirimu?. Yang punya uang banyak itu KALIAN bukan?.
Kalau masyarakat banyak sih, pegang Dollar juga kagak pernah…😊
Meski itu uang hasil
jerih payahnya sendiri, namun ketika berbicara tentang ETIKA
berbangsa dan bernegara seharusnya keikhlasan hati ORANG KAYA sangat diperlukan.
Di situlah ukuran patriotisme dan nasionalisme kita diukur. Seberapa baik hati
yang dimiliki? Golden Heart atau Heart Attack..? 😊
Ataukah,
kita para rakyat jelata ini. Sudah BAIKKAH NIAT kita memperlakukan negeri ini
dan sumber dayanya? Apakah kita punya NIAT BAIK menghemat BBM, tidak
memboroskan sumber daya alam seperti air, atau udara yang dimiliki negeri ini.
Kalau prilaku kita boros dan tidak peduli lingkungan, itu adalah contoh warga
yang tidak punya NIAT BAIK, bukan? 😊
Tentu, bukan hanya masyarakat saja yang
diharapkan KEBAIKANNYA, para pemangku kebijakan atau pejabat tentu harus berbuat
LEBIH. Mereka harus memiliki NIAT LEBIH BAIK dari NIAT BAIK masyarakat. Mereka
harus lebih IKHLAS dari KEIKHLASAN rakyat yang dipimpin. Harus lebih MENGALAH
dengan masyarakat yang MUDAH KALAH. Kekuatan mereka mungkin hanya nyinyir dan baper.
Kalau pajabat atau penguasa yang BAPER, maka siapa yang akan mendengarkan
keluhan rakyat. Jangan terbalik dong..
Kalau NIAT BAIK penguasa itu dampaknya
besar. Apalagi kalau ia TIDAK BERNIAT BAIK. Maka, seorang penguasa HARUS BACA NIAT dulu sebelum berkuasa. Mirip, seperti niat mau SHOLAT-lah. Misal, Nawaitu an akuna raisan..misalnya. Aku berniat menjadi penguasa karena Allah. Aku berniat menjadi direktur karena Allah semata.,,,bla bla...Hehe
Bayangkan, kalau penguasa TIDAK BERNIAT
mensejahterakan rakyatnya. Ia pasti akan sibuk memperkaya diri sendiri.
Bayangkan jika politikus TIDAK PUNYA niat baik, ia akan sibuk mengejar
kepentingan pribadinya, toh suara konstituen sudah diperoleh. Tragis bukan?
Nilai tukar
Dollar yang tinggi ini seharusnya menyadarkan kita bahwa negeri ini
tidak aman-aman banget dari terpaan faktor eksternal. Setiap detik kita
dihantui kekhawatiran krisis ekonomi menular. Ketika Turki dan Argentina mulai
megap-megap, atau Venuzuela yang hampir kolaps, kita pun kebingungan dan
khawatir. Tapi, jangan terlalu lama menyalahkan factor luar dong. Negeri lain
bisa nyaman dan aman, kok, negeri kita aja yang belum kuat. Maka, itu menjadi
PR bersama, masuk akal bukan?.
Saya ingat kata seorang motivator
entrepreneur..
Katanya, jangan mau jatuh di lobang yang
sama. Jangan habiskan umur untuk melakukan sesuatu yang tidak produktif dan
kreatif. Kunci negara kuat itu ya harus kreatif dan inovatif. Pemerintah dan
rakyat negeri ini harus mengejar ketertinggalan menjadi negeri yang kreatif dan
inovatif sehingga barang dan jasa yang kita hasilkan menjadi rebutan negara
lain. Jangan bangga hanya menjadi menjadi ladang empuk produk luar negeri, dari
mulai pertanian, kendaraan sampai mainan anak.
Benar juga ya…
Kemana saja kita selama ini?. Jangan-jangan,
kreatifnya hanya terkait selfie dan seabrek pencintran pribadi lainnya…Termasuk
habiskan kuota internet dan energi untuk berdebat kusir tentang masalah politik
yang gak habis-habis nya itu. Apalagi terkait pilihannya R1 itu. Hebohlah…😊
YA sudah,,,kita rubah saja prilaku ini.
Moga NIAT BAIK kita selalu terjaga. Amin..Wallahu
a’lam.


0 Comments