Ticker

6/recent/ticker-posts

1 SYAWAL 2018: BETWEEN HOLY AND PITY

By: M. Ridwan

Pagi ini, senandung takbir berkumandang di segenap penjuru dunia. Takbir artinya MEMBESARKAN NAMA ALLAH. Ini adalah ungkapan dari seorang HAMBA untuk menunjukkan bahwa dirinya LEMAH di hadapan PENCIPTA. Takbir yang dilafalkan berulang-ulang akan mendatangkan ketenangan, kesyahduan, naiknya spiritualitas dan tentunya menghilangkan AROGANSI DIRI atas dasar apapun.
Takbir salah wujud KEUNIKAN ajaran Islam. TUHAN telah mendesain sedemikian rupa, supaya NAMA-NYA dikumandangkan secara MASIF dan SISTEMATIS oleh manusia. Kalaulah bukan berasal dari TUHAN YANG SEBENAR-nya, mana mungkin ada tatacara PENG-AGUNGAN TUHAN seperti TAKBIR ini, bukan?.

Lihat pula TAKBIR di dalam AZAN atau seruan melaksanakan sholat setiap waktunya. Azan juga UNIK.

Dikarenakan adanya perbedaan waktu dunia berdasarkan Zonasi POSISI LINTANG dan BUJUR nya, maka dipastikan AZAN akan terus disenandungkan setiap detiknya. Misal, setelah satu wilayah selesai mengumandangkan AZAN, maka akan disambung dengan AZAN di wilayah lain. Begitu seterusnya selama 24 jam penuh. Alhasil, NAMA ALLAH terus berkumandang di muka bumi. Tiada HENTI. Dahsyat bukan?.  Nah, siapa yang mempu merancang MEKANISME APIK seperti itu, kalau bukan dari TUHAN sendiri?

Takbir di 1 Syawal ini MENGHARUKAN. Ini adalah TANDA perpisahan kita dengan bulan Ramadhan yang mulia. Ketika fajar Syawal menyingsing, perjuangan kita mengendalikan NAFSU memasuki EPISODE BARU. Kalau ibadah RAMADHAN kita berhasil, maka 11 bulan ke depan akan menjadi bulan yang terkendali. Sebaliknya, pabila GAGAL di Ramadhan, tentu saja NAFSU akan semakin besar PENGARUH-nya atas diri manusia. Itulah yang disebut dengan SYAHWAT LA TASBA’ yaitu Nafsu Syahwat yang gak kenyang-kenyang. Logikanya, wong di bulan Ramadhan saja tak berhasil, apatah lagi di bulan lain.

Maka, Syawal itu menjadi HOLY MOMENT bagi hamba Allah yang berhasil melalui Ramadhan yang cukup berat. Jiwanya menjadi SUCI. Hatinya bersih dan ruhnya kenyang.
Sebaliknya, bagi hamba yang gagal di bulan Ramadhan, maka IT’S A PITY. Itu adalah KESEDIHAN terbesar. Ruhnya kelaparan, hati tak terbebas dari kotoran. Nafsu semakin mem-BUNCIT, LIAR dan TAK TERKEKANG. Kondisi ini adalah KESEDIHAN TAK TERHINGGA. Kendati fisik dan zahirnya BERGEMBIRA RIA namun ruhnya meronta dan meratap PILU. Seolah bertanya, “Mau kemana kau bawa diriku kini?”.
Syawal mungkin menjadi moment yang menyedihkan bagi kita yang tertimpa musibah. Ber-duka karena kehilangan keluarga yang dicintai, MENDERITA karena kezaliman dan korban ketidakadilan. Berduka karena di bulan ini mungkin kebersamaan tidak berulang lagi. Ayah, ibu, adik, kakak mungkin TELAH TIADA. Pergi mendahului kita.

Namun, KESABARAN dan DUKA tentu akan menjadi ladang AMAL yang TAK TERHINGGA. ORANG HEBAT selalu MENDAPAT COBAAN dari TUHAN.
So, bagaimana HARI INI?
Bersyukurlah dan nikmatilah sebagai momen MEMBAHAGIAKAN. Nikmati hari ini karena ada silaturahim yang bersambung. Ada PENGAKUAN atas kekhilafan dengan sesama. Ada RENCANA untuk MERUBAH HIDUP dan tentunya KOMITMEN untuk MENJALANI HARI-HARI dengan LEBIH BAIK lagi, bagi TUHAN dan sesama manusia.

Kita tidak MENGETAHUI masa depan seperti APA. Kita hanya berdoa, moga UPAYA kita MENJADI HAMBA TUHAN yang SEBENARnya selalu mendapat bimbingan-NYA. 
Ya Allah terimalah amal kami. Sekecil apapun yang kami lakukan. Ampuni dosa dan kehilafan kami, sekecil apapun, baik disengaja ataupun tidak. Kasihi kami, kasihi saudara kami, dan berilah hidayah dan cinta-Mu selalu dalam hidup kami. Amin.

Taqabbalahu minna wa minkum, Taqabbal Ya Karim.

Minal Aidin wal Faizin. Mohon Maaf Lahir dan Batin.
















Post a Comment

0 Comments