Ticker

6/recent/ticker-posts

#Day6 Seri Ramadhan 2018: Tuhan dan Sensasi Ketinggian

By: M. Ridwan


Butuh sekitar lebih dari 5 menit sebuah pesawat mendapatkan posisi CRUISING setelah take off. Cruising adalah kondisi dimana pesawat telah berada pada ketinggian jelajah tertentu untuk selanjutnya melaju stabil hingga mendarat nantinya. Ketinggiannya, sekitar 25-30 ribu kaki (12 km) dari permukaan laut. Tinggi banget ya. Pokoknya, apa yang ada di permukaan bumi sudah tak kelihatan lagi.


Fase crusing adala fase TER-AMAN dari sebuah penerbangan, walaupun sewaktu-waktu, bisa saja TURBULENSI menghadang. Namun, biasanya jarang. Pilot akan mencari jalan lain, jika berhadapan dengan turbulensi mendadak.

Pada fase cruising, biasanya lampu tanda mengenakan sabuk pengaman sudah padam. Penumpang dan awak kabin sudah bisa berjalan-jalan di sepanjang lorong pesawat. Makanan dan minuman sudah bisa diberikan. Fasilitas hiburan dapat bebas digunakan. Asyik lah..

Pada ketinggian 30 ribu kaki pesawat sudah melebihi tingginya awan. Pemandangan dari KETINGGIAN indah sekali. Gumpalan awah putih beraneka formasi terlihat seperti pohon-pohon atau lorong-lorong misterius. Terkadang terlihat seperti pasukan menunggu perintah komandan untuk bergerak, berbaris rapi. Untuk mencurahkan hujan ke wilayah bumi.

Apalagi, kalau penerbangan dilakukan di pagi hari. Sinar matahari berwarna MERAH atau KUNING mulai mengintip di balik awan, membentuk gradasi warna sempurna, berbaur dengan warna langit terbentang di atasnya. Ada putih, biru dan kadang hitam. Subhanallah, Sunrise yang indah. Lukisan alam ini terlihat nyata saat kita berada pada ketinggian. Padahal baru 30 ribu kaki saja, bagaimana pula kalau kita naik lebih tinggi sampai ke luar angkasa ya?.
Pada saat berada pada ketinggian, saya merasa bak masuk ke dimensi lain. Saat itu, KESADARAN bahwa manusia adalah makhluk lemah sering muncul. Betapa lemahnya manusia di hadapan Pencipta. Saat itu, jangankan tubuh ini, pesawat sebesar Airbus A380 pun bagai SETITIK HITAM di atas langit. Tak berdaya dan berarti. 

Saya yakin, perasaan ini dialami semua orang yang naik pesawat.  Syahdu dan getaran spiritual terasa silih berganti. Kebesaran TUHAN terlihat di KETINGGIAN langit. Apa yang mau DISOMBONGKAN manusia DALAM HIDUP ini?
Mungkin karena itu, beberapa kali, saya melihat penumpang membaca KITAB SUCI di dalam pesawat. Mereka sepertinya tidak mau menyia-nyiakan momen ini. Berdialog dengan Tuhan.

Saya pernah melihat seorang orang laki-laki muda membaca Alquran.  Dari tampilannya, sepertinya ia seorang eksekutif perusahaan, necis dan klinis banget. Usianya sekitar 40 tahunan. Sepanjang penerbangan, Alquran tidak lepas dari tangannya. Ia sedang  TADABBUR ALQURAN. Beberapa pramugari menghampirinya dan menyatakan langsung kekaguman mereka. Entah siapa dan dimana pria itu kini.
Ketika berada di KETINGGIAN langit, kita merasa segala apa yang ada di BAWAH bumi menjadi tak berarti. TERLUPAKAN, meski sejenak. Rasanya ingin menyatu dengan langit dan berlari di atas awan. Seperti lagu ya? Mungkin karena gravitasi bumi semakin kecil dan tarikan ke atas semakin kuat ya. Who knows?…Langit memang tinggi,  sangat tinggi dan penuh misteri.

Mungkin itu pula mengapa kata “DUNIA” itu bermakna RENDAH dan gravitasinya begitu kuat.
Ketika berada di KETINGGIAN langit, kita pun semakin penasaran apa pula misteri di ketinggian berikutnya. Makanya, SPACE-X merancang roket untuk membawa manusia ke luar bumi, untuk menjawab rasa penasaran tentang bagaimana langit dan bumi dilihat dari KETINGGIAN.

Ramadhan dan Ketinggian itu berhubungan, lho
RAMADHAN pun bertujuan membawa manusia pada KETINGGIAN SPIRITUAL yaitu DERAJAT TAQWA. Ketinggian ini diperoleh dari  serangkaian latihan ruhani yang KONSISTEN dan KONTINIU. Seharusnya tanpa jeda. Tiga puluh hari adalah waktu yang diberikan Tuhan kepada manusia supaya manusia membawa RUHANI-nya KETINGGIAN jelajah dan merasakan kehadiran TUHAN.

Menjelajahi ruhani di bulan Ramadhan itu melebihi men-JELAJAH-i ALAM SEMESTA. Nihil batasan. Namun, tingkat kesulitannya pun luar biasa.
Diperlukan DAYA ANGKAT yang besar untuk take off. Perlu bahan bakar penuh untuk proses climbing.  Seharusnya bahan bakar ini dipersiapkan jauh sebelum Ramadhan datang, namun tentu belum terlambat.

Membawa hati sampai pada fase cruising RUHANI bukan perkara gampang. Perlu konsistensi dan latihan rutin. Apalagi pada Ramadhan 2018 ini.  Banyak sekali turbulensi dan gangguan yang menyebabkan pesawat kita keluar dari jalur penerbangan. Banyak sekali GODAAN INDAH mengajak penumpang keluar pesawat dan menikmati KEINDAHAN AWAN lebih cepat dari waktunya.
Padahal, sebagaimana kata ustaz, bahwa melaksanakan puasa bukan sebatas menahan lapar dan haus. PUASA RUHANI adalah menahan diri dari segala hal yang merusak hati selain -tentunya dengan- tetap menjaga indera dari terpaan ANGIN DOSA.  Tentu saja hal ini sulit di JAMAN NOW yang banyak godaan ini.

Wallahu a’lam. Hanya Allah yang mampu memberi KEKUATAN kepada kita untuk mencapai KETINGGIAN RUHANI. Kepada-Nya kita bermohon dan untuk mengawal penjelajahan kita di LANGIT RAMADHAN nan indah tinggi.
Amin.













 


Post a Comment

0 Comments