Ticker

6/recent/ticker-posts

#Day5 Seri Ramadhan 2018: Ramadhan dan Pesona Iklan

By: M. Ridwan

Pagi sore, siang malam, kita sudah akrab dengan iklan. Bocah-bocah cilik di rumah saya melaporkan berapa jenis iklan yang sering tayang di TV. Rencananya, mereka melakukan riset keci-kecilan. Kata mereka, berapa jenis iklan yang sering tayang, adalah makanan, pakaian, produk kecantikan dan kendaraan. “Ada juga iklan cat rumah dan film, yah”, kata Aisha melaporkan.


THAT’S THE WORLD. THE WORLD OF ADS. Dunia iklan memang fakta.

Bahkan, GOOGLE menjadi perusahaan terkemuka justru dari kemampuan mereka mengemas iklan yang apik, semisal GOOGLE ADSENSE, GOOGLE ADWORDS, dan aplikasi affiliate marketing lain. Sasarannya juga pas, segmented dan mampu memunculkan NICHE MARKET. Keren-lah

Iklan yang berseliweran setiap hari di media memang mempesona. Selalu menggoda bahkan membuat kecanduan.

Gak usah heran.

Iklan dirancang ahli marketing. Mereka mempelajari psikologi manusia dan menyajikannya pada moment yang tepat. Tujuannya supaya pesan iklan sampai ke konsumen dan masuk ke dalam alam bawah sadarnya. 

Iklan masuk ke dalam komponen biaya produksi sehingga harus diperhitungkan dalam menentukan harga. Semakin keren iklannya, maka harga produk pasti ikut “keren”. Maka, perusahaan sangat konsern dengan iklan. Sayangnya, hasil riset melaporkan bahwa pelaku UMK justru sering kalah bersaing dalam strategi iklan.

Dulu, iklan, tidak mudah masuk ke dalam rumah kita.

Meskipun ada uang, namun keterbatasan iklan menyebabkan uang tidak banyak lari ke produk pabrikasi. Namun, kini?. Apapun yang kita mau, tersedia. Apalagi dengan adanya e-commerce. Tinggal pilih, pencet, dan bayar, maka produk itu akan diantar ke rumah. Syaratnya, punya uang saja.

Asyik ya..? tentu saja.

Namanya juga perhiasan dunia. Gak akan habis-habisnya. Tuhan mempersilahkan aktifitas ini.  Tidak diharamkan. Apalagi jika digunakan untuk mempermudah manusia dalam ibadah.

Adapun yang jadi masalah jika kita TERJERAT IKLAN dan KECANDUAN BELANJA. That will be a big problem. Very big problem.

Oleh karena itu, RAMADHAN dan IKLAN, berhubungan erat.

Bulan Ramadhan sangat diperhitungkan pelaku bisnis. Mereka memanfaatkan apa yang disebut sebagai SEASONAL ADVERTISING atau SEASONAL MARKETING yaitu iklan karena momen tertentu.

Mau tahu iklan TV yang menempati urutan TERTINGGI selama Ramadhan?

Biasanya iklan sirup, sarung, obat, kue kering, mie instan, provider seluler, minuman bersoda kendaraan, gadget, restoran cepat saji, dan department store. Masih banyak lagi.  Produknya didominasi jenis kebutuhan tersier atau paling tinggi sekunder, bukan kebutuhan primer. Memang ada yang mengiklankan beras Bulog atau minyak goreng curah? Gak ada, bukan?

Bahkan di tahun 2016 lalu, iklan yang menempati POSISI PERTAMA di bulan Ramadhan justru iklan rokok. Produsen rokok sampai mengucurkan angka 318 MILYAR untuk iklan ini selama bulan Ramadhan.

Bayangkan tuh…

Pantesan rokok di Indonesia semakin “MEMASYARAKAT” dan “DIMINATI”. Ternyata,iklannya dahsyat.

Aneh tapi nyata, itulah keajaiban iklan. Perusahaan yang paling banyak memiliki budget iklan dipastikan dekat di hati konsumen meskipun awalnya tidak disuka. Konsumen gak mampu menolak “serangan” terus-menerus.

Makanya, seorang rekan pernah mengeluh.

Katanya, “Jangan-jangan PEMENANG HAKIKI di bulan Ramadhan adalah PRODUSEN makanan, minuman dan pakaian”. Para pengusaha itu…

Ia melanjutkan, “Jangan-jangan, yang ketiban “BERKAH” Ramadhan justru produsen GADGET, provider telekomunisi dan transportasi?  J

“So, kita dapat APA ?”, tanya saya tersenyum.

Dengan miris, ia berkata,

“Yah, kita cuma dapat LAPAR dan HATI TERTEKAN karena tak mampu membeli dan menyenangkan keluarga membeli produk itu”. Wah, saya tidak tega berpikir sampai sejauh ini, lho, kendati mengangguk juga.

Tapi, saya kira kita ambil posisi yang MODERAT saja. Toh, kita memiliki kemampuan ikhtiar atau memilih.

Kalau kita sadar bahwa apa yang ada di iklan hanyalah produk kebutuhan SEKUNDER atau TERSIER, maka jangan mudah terintimidasi. Ketimbang “DISERANG” berbagai produk makanan dan minuman, tanpa perlawanan, mengapa tidak melakukan perlawanan dengan “MEMBELI PRODUK SOSIAL”? seperti menjadi “DONATUR TETAP” sebuah panti asuhan atau lembaza ZAKAT. Lebih menarik, bukan?.

Atau, ketimbang, menaikkan budget membeli baju dan gadget baru, mendingan menaikkan budget donasi ke rumah ibadah, orang miskin dan anak putus sekolah. Pahalanya mengalir. Berbagi itu lebih indah dan menentramkan. Siapa berani membeli produk ini?

Bro, apapun pilihan kita, hati-hatilah, karena pesawat Ramadhan lebih mudah terbang dengan beban ringan. Semakin RINGAN benda-benda dunia yang menyertai, semakin mudah pesawat RUHANI kita “TERBANG TINGGI”.  Kalau terlalu berat, bisa jatuh lho.

Itulah HAKIKAT LATIHAN di bulan Ramadhan. Yaitu, menahan diri dari sesuatu yang berlebih atau extravaganza. Kalau terbiasa dengan latihan ini, maka kita pun akan ringan MENGHADAP Tuhan kelak. Meski ringan bawaan, namun insyallah berat amal.  

Semoga.

Wallahu a’lam





















 








Post a Comment

0 Comments