By : M. Ridwan
Pesawat secanggih A380 pun tidak luput dari TURBULENSI,
yaitu kondisi perubahan aliran udara secara tiba-tiba. Biasanya, disebabkan
karena perbedaan suhu area awan, misalnya di atas panas dan di bawah dingin. Perbedaan
ini menyebabkan kekosongan atau kerenggangan udara. Akibatnya, pesawat
kehilangan daya angkat dan bergoncang.
Dari laman sebuah situs penerbangan, dijelaskan bahwa
turbulensi ini memiliki level 1 sampai 4. Level 1-2 berupa turbulensi ringan atau moderat yang biasanya tidak begitu
memberi dampak berarti bagi pesawat, meskipun goncangannya sudah cukup terasa.
Berbeda dengan level 3-4.
Turbulensi level ini memberi dampak yang berat bagi
penumpang dan pesawat. Akibatnya, masker oksigen terbuka dan pesawat bergoncang
sangat keras. Bahkan, pesawat bisa saja oleng kiri kanan dan mesinnya mati. Sangat
berbahaya.
Syukurlah, sampai kini, saya tidak pernah dan tentunya tidak
berharap mengalami turbulensi pada level 3 apalagi 4. Tak dapat dibayangkan
,bagaimana horror-nya keadaan saat
itu. Saya pernah melihat, video suasana kepanikan penumpang di kabin pesawat yang
mengalami turbulensi level 3. Infonya banyak penumpang terlempar ke atas dan
luka-luka.
Sayangnya, pesawat berbadan besar juga bisa terkena turbulensi.
Katakanlah airbus A380 itu. Ukurannya yang gede
menyebabkan pesawat kesulitan melakukan manuver. Ini berbeda dengan pesawat
kecil dan ringan.
Namun, tidak usah khwatir.
Secara umum, pesawat jarang mengalami turbulensi ekstrim
level 3 atau 4. Jauh sebelum pesawat take
off, analisis cuaca dan keadaan udara telah dimiliki pesawat. Kalau
membahayakan, tentu pilot tidak berani ambil risiko menerbangkan pesawat melewati
area turbulensi. Lagipula, pesawat modern telah dilengkapi alat navigasi dan sistem
keamanan super canggih. Namun, untuk berjaga-jaga, kita sebagai penumpang harus
memastikan sabuk pengaman sering dipasang ya, fasten your seatbelt. Mana tahu ada turbelensi secara tiba-tiba.
Bulan RAMADHAN juga memiliki area TURBULENSI, lho.
Yaitu ketika kita memasuki kondisi-kondisi tertentu yang
mungkin menyebabkan terjadinya perubahan TEKANAN MENTAL dan GUNCANGAN SPIRITUAL
dalam penerbangan Ramadhan ini.
Sebabnya? Bisa jadi beragam. Tapi, biasanya karena faktor
eksternal dan tarikan materi. Termasuk, karena perbedaan suhu “luar” dan “dalam”
diri seseorang.
Sebenarnya, turbulensi selama Ramadhan bisa dikendalikan. Bisa
diantisipasi atau minimal diturunkan ke level yang AMAN dan MODERAT.
Nah, untuk menghindari turbulensi selama Ramadhan, idealnya kita
harus megencangkan sabuk pengaman. Fasten
your Ramadhan belt. Hindari area turbulensi EKSTRIM. Jangan coba-coba
dilewati, kalau tidak terpaksa.
Contohnya,?
Jangan terlalu sering nonkrong di mall. Nanti akan muncul “turbulensi”
bernama KEGALAUAN DISKON. Termasuk, jangan teralu sering menonton
TV. Bisa-bisa, akan masuk ke dalam turbulensi bernama “IKLAN MENGGODA”. Bisa
stress tuh.
Mempelototi FB dan
medsos bisa termasuk area turbulensi juga lho.Terutama di area yang banyak “KONFLIK”
“GOSIP” , "PERTENGKARAN TAK PERLU" apalagi FITNAH DAN HOAKS". Itu turbulensi level 4, turbulensi ekstrim.
Kalau Ramadhan mau aman dari turbulensi ya harus pilih jalur "UDARA" yang aman. Pilih kegiatan yang gak punya turbulensi, misal membaca Alquran, sholat, mendengarkan tausiyah atau tafakkkur. Dijamin pesawat Ramadhan kita akan adem dan nyaman.
Dan, paling utama tentunya harus menghindarkan hati dari turbulensi hakiki. Jauhkan hati dari awan-awan mendung bernama iri dengki, sombong, riya, ujub, pongah, serakah atau pesimis. Kalau hati sudah bebas dari TURBULENSI, alamat semua yang terjadi di luar diri, otomatis menjadi nyaman dan membahagikan. Bahkan, ketika menghadapi kondisi turbulensi pesawat di ketinggian 30 kaki sekalipun. Silahkan dicoba..
Moga Ramadhan hari ke-4 menjadikan insan paripurna yang komit mengejar keridhaan Allah. Moga Ramadhan bulan ini adalah Ramadhan terbaik yang kita lakukan. Amin


0 Comments