Ticker

6/recent/ticker-posts

#Day3 Seri Ramadhan 2018: Tahannust Jaman Now

By: M. Ridwan

Kendati mampu terbang non stop selama ratusan jam, pesawat A380juga harus melakukan pendinginan, ketika mendarat. Kalau terus-terusan hidup, maka mesinnya tentu akan terbakar, overheating.

Manusia Jaman Now juga demikian. Dengan ritme kehidupan serba cepat dan dipenuhi informasi seperti kini, otak manusia “dipaksa” untuk berpikir cepat pula. Banyak target yang harus diraih dan beragam masalah yang mendera. Silih berganti masuk ke dalam pikiran dan terkadang mampu mempengaruhi ritme hati. Ujung-ujungnya mempengaruhi tingkah laku. Stress dan marah-marah. Penuh curiga atau apatis.

Kalaulah, manusia kini tak melakukan pendinginan otak dan hati, maka mesinnya akan terbakar. Manusia bisa JATUH ke level terendah (aspala sapilin). Disitulah pentingnya pendingan. Caranya? Dengan melakukan PERENUNGAN atau TAFAKKUR.

Dulu, Nabi Muhammad melakukannya dengan mengasingkan diri ke gua Hira. Namanya TAHANNUST yaitu merenung di suatu tempat. Kondisi masyarakat di sekitarnya sangat Jahiliyyah alias bobrok banget. Kerusakan moral merajela. Masyarakat merasa biasa dengan kekafiran, perjudian, pelecehan wanita, riba, perzinaan, LGBT, fitnah, saling cemooh dan pembunuhan. Pokoknya, menjadi makanan sehari-hari masyarakat. Siapa kuat dia pemenang. Nabi Muhammad tidak mau ikut dalam kejahilan ini.

Nabi Ibrahim, juga melakukan perenungan. Tentang siapa Tuhan sebenarnya. Apakah rembulan, bintang atau matahari.  Saat itu, masyarakat menyembah berhala. Tak peduli pintar atau bodoh, kaya atau misikin. Semuanya terjebak pada keyakinan bersama adanya kekuatan dari batu sembahan. Bahkan, ayah Ibrahim, Azar, adalah desainer berhala terkenal di kotanya. Nabi Ibrahim bertekad mencari Tuhan yang sebenarnya. Dan, ketemu.

Aktifitas tahannust atau merenung melahirkan KEARIFAN, KETENANGAN dan munculnya SIKAP KASIH SAYANG. “Oh, ternyata dunia itu begini lho”. “Oh, ternyata ini toh rahasianya”.  “Oh, begini lho cara memperlakukan manusia”….

Sejarah menunjukkan bahwa aktifitas merenung merupakan jalan awal munculnya orang-orang TERCERAHKAN. Mereka mendapatkan INSIGHT BARU dalam melihat kehidupan. Insight ini berasal dari Tuhan, Pemilik Kebenaran dan Kearifan. Nabi Muhammad bahkan menjadi Rasul dan Ibrahim menjadi kekasih Tuhan setelah menjalani melewati fase ini.

Dalam Islam, aktifitas merenung ini include ke dalam aktifitas ibadah yang ada. Jadi, tidak perlu lagi melakukan tahannust ala semedi, bertapa ke gunung, gua atau di bawah pohon. Islam muncul sebagai agama terakhir dan Nabi Muhammad adalah penutup Nabi dan Rasul.

Karena agama penutup, makanya, Islam memiliki berbagai ketentuan peribadatan yang kaya, komplit. Ada sholat, puasa, zakat, haji, atau berinfaq. Belum lagi ibadah ghair mahdah yaitu aktifitas yang menjadi ibadah ketika diniatkan untuk Tuhan. Agama-agama sebelum Islam, hanya memiliki ibadah yang parsial. Tata caranya juga tidak komplit.

Nah, output semisal TAHANNUST atau perenungan itu akan muncul dari pelaksanaan ibadah ini. Seorang muslim akan mudah mendapatkan INSIGHT atau KEARIFAN dari ibadah-ibadah yang ada dan akan membentuknya menjadi pribadi penebar kasih sayang.

Syaratnya?

Ibadah yang dilakukan harus khusyuk dan sesuai ketentuan yang berlaku. Harus lengkap rukun dan syaratnya. Ibadah harus dilakukan dengan tulus dari hati, mengharap keridhaan Tuhan. Seorang ‘abid merasa dirinya bukan siapa-siapa di hadapan-Nya. Kualitas ibadah menjadi kunci.

MANUSIA JAMAN NOW banyak cobaannya. Mudah terlilit di benang kusut bernama problematika hidup. Entah itu masalah ekonomi, politik, sosial, budaya, moral dan konflik. Menjadi menu sehari-hari.  Tragisnya, penyebaran informasi yang begitu cepat dan mudah berpotensi membuat manusia kini, STRESS SEBELUM WAKTUNYA, atau PANIK TANPA DASAR. Ragam masalah bahkan mudah masuk ke dalam kamar tidur kita, bukan?

Maka, MANUSIA JAMAN NOW sangat butuh TAFAKKUR, bahkan harus lebih tinggi dosisinya. Meskipun, TAFAKKUR dan TAHANNUST tidak mesti dilakukan di tempat-tempat terpencil. Cukup menyediakan waktu-waktu khusus saja tanpa DIGANGGU dengan aktifitas duniawi, semisal aktifitas browsing internet dan medsos seperti saat ini. Manhusia JAMAN NOW, harus menyediakan waktu untuk berpuasa perut, mata, tangan, hati dan pikiran dari hal hal yang tidak bermanfaat. 

 Itlulah hakikat PUASA. Untuk mendinginkan mesin kehidupan kita. Meski hanya 30 hari, namun Tuhan tahu bahwa 11 bulan yang lalu telah membuat kita overheating, kepanasan, stress dan tertekan. Kata dan perbuatan kita mungkin telah lepas control.  

Tuhan mengajak kita enjoy di Ramadhan ini. Menikmati “kebersamaan” dengan-Nya,”berdialog dengan-Nya dan membersihkan kerak-kerak di hati dan sumbatan kotoran di pikiran. Seharusnya kita bahagia dan bangga menjadi hamba Tuhan. Seharusnya, kita TAFAKKUR dan menghentikan pesawat, sejenak saja.

Thank You, Allah.

Wallahu a’lam









Post a Comment

0 Comments