Kendati mampu terbang non stop selama ratusan jam, pesawat A380juga harus melakukan pendinginan, ketika mendarat. Kalau terus-terusan hidup, maka mesinnya tentu akan terbakar, overheating.
Manusia Jaman Now juga demikian. Dengan ritme kehidupan
serba cepat dan dipenuhi informasi seperti kini, otak manusia “dipaksa” untuk
berpikir cepat pula. Banyak target yang harus diraih dan beragam masalah yang
mendera. Silih berganti masuk ke dalam pikiran dan terkadang mampu mempengaruhi
ritme hati. Ujung-ujungnya mempengaruhi tingkah laku. Stress dan marah-marah. Penuh
curiga atau apatis.
Kalaulah, manusia kini tak melakukan pendinginan otak dan
hati, maka mesinnya akan terbakar. Manusia bisa JATUH ke level terendah (aspala sapilin). Disitulah pentingnya pendingan.
Caranya? Dengan melakukan PERENUNGAN atau TAFAKKUR.
Dulu, Nabi Muhammad melakukannya dengan mengasingkan diri ke
gua Hira. Namanya TAHANNUST yaitu merenung di suatu tempat. Kondisi masyarakat
di sekitarnya sangat Jahiliyyah alias bobrok banget. Kerusakan moral merajela. Masyarakat
merasa biasa dengan kekafiran, perjudian, pelecehan wanita, riba, perzinaan, LGBT,
fitnah, saling cemooh dan pembunuhan. Pokoknya, menjadi makanan sehari-hari masyarakat.
Siapa kuat dia pemenang. Nabi Muhammad tidak mau ikut dalam kejahilan ini.
Nabi Ibrahim, juga melakukan perenungan. Tentang siapa Tuhan
sebenarnya. Apakah rembulan, bintang atau matahari. Saat itu, masyarakat menyembah berhala. Tak
peduli pintar atau bodoh, kaya atau misikin. Semuanya terjebak pada keyakinan bersama
adanya kekuatan dari batu sembahan. Bahkan, ayah Ibrahim, Azar, adalah desainer
berhala terkenal di kotanya. Nabi Ibrahim bertekad mencari Tuhan yang
sebenarnya. Dan, ketemu.
Aktifitas tahannust atau merenung melahirkan KEARIFAN,
KETENANGAN dan munculnya SIKAP KASIH SAYANG. “Oh, ternyata dunia itu begini lho”.
“Oh, ternyata ini toh rahasianya”. “Oh,
begini lho cara memperlakukan manusia”….
Sejarah menunjukkan bahwa aktifitas merenung merupakan jalan
awal munculnya orang-orang TERCERAHKAN. Mereka mendapatkan INSIGHT BARU dalam melihat
kehidupan. Insight ini berasal dari Tuhan, Pemilik Kebenaran dan Kearifan. Nabi
Muhammad bahkan menjadi Rasul dan Ibrahim menjadi kekasih Tuhan setelah
menjalani melewati fase ini.
Dalam Islam, aktifitas merenung ini include ke dalam aktifitas ibadah yang ada. Jadi, tidak perlu lagi
melakukan tahannust ala semedi, bertapa
ke gunung, gua atau di bawah pohon. Islam muncul sebagai agama terakhir dan
Nabi Muhammad adalah penutup Nabi dan Rasul.
Karena agama penutup, makanya, Islam memiliki berbagai ketentuan
peribadatan yang kaya, komplit. Ada sholat, puasa, zakat, haji, atau berinfaq.
Belum lagi ibadah ghair mahdah yaitu
aktifitas yang menjadi ibadah ketika diniatkan untuk Tuhan. Agama-agama sebelum
Islam, hanya memiliki ibadah yang parsial. Tata caranya juga tidak komplit.
Nah, output semisal TAHANNUST atau perenungan itu akan muncul
dari pelaksanaan ibadah ini. Seorang muslim akan mudah mendapatkan INSIGHT atau
KEARIFAN dari ibadah-ibadah yang ada dan akan membentuknya menjadi pribadi penebar
kasih sayang.
Syaratnya?
Ibadah yang dilakukan harus khusyuk dan sesuai ketentuan
yang berlaku. Harus lengkap rukun dan syaratnya. Ibadah harus dilakukan dengan tulus
dari hati, mengharap keridhaan Tuhan. Seorang ‘abid merasa dirinya bukan siapa-siapa di hadapan-Nya. Kualitas ibadah
menjadi kunci.
MANUSIA JAMAN NOW banyak cobaannya. Mudah terlilit di benang
kusut bernama problematika hidup. Entah itu masalah ekonomi, politik, sosial, budaya,
moral dan konflik. Menjadi menu sehari-hari.
Tragisnya, penyebaran informasi yang begitu cepat dan mudah berpotensi
membuat manusia kini, STRESS SEBELUM WAKTUNYA, atau PANIK TANPA DASAR. Ragam
masalah bahkan mudah masuk ke dalam kamar tidur kita, bukan?
Maka, MANUSIA JAMAN NOW sangat butuh TAFAKKUR, bahkan harus lebih
tinggi dosisinya. Meskipun, TAFAKKUR dan TAHANNUST tidak mesti dilakukan di
tempat-tempat terpencil. Cukup menyediakan waktu-waktu khusus saja tanpa
DIGANGGU dengan aktifitas duniawi, semisal aktifitas browsing internet dan
medsos seperti saat ini. Manhusia JAMAN NOW, harus menyediakan waktu untuk berpuasa
perut, mata, tangan, hati dan pikiran dari hal hal yang tidak bermanfaat.
Itlulah hakikat
PUASA. Untuk mendinginkan mesin kehidupan kita. Meski hanya 30 hari, namun
Tuhan tahu bahwa 11 bulan yang lalu telah membuat kita overheating, kepanasan, stress dan tertekan. Kata dan perbuatan
kita mungkin telah lepas control.
Tuhan mengajak kita enjoy di Ramadhan ini. Menikmati “kebersamaan”
dengan-Nya,”berdialog dengan-Nya dan membersihkan kerak-kerak di hati dan
sumbatan kotoran di pikiran. Seharusnya kita bahagia dan bangga menjadi hamba
Tuhan. Seharusnya, kita TAFAKKUR dan menghentikan pesawat, sejenak saja.
Thank You, Allah.
Wallahu a’lam


0 Comments