Hari ke-2 ini, saya menyoroti istilah trade off. Istilah ini beda dikit dengan kata take off di tulisan lalu. Apakah trade off itu?
Trade off adalah situasi yang dihadapi seseorang antara dua pilihan atau lebih. Ketika pilihan jatuh pada A, maka ia harus mengorbankan B atau C.
Istilah ini lazim dalam kajian ekonomi. Misal, seorang mahasiswa yang memilih kuliah maka ia mengorbankan peluang nya untuk langsung bekerja setelah tamat SMU, termasuk juga trade off antara menikah atau tetap kuliah ya? :).
Banyak kondisi trade off yang sering kita hadapi sehari-hari, bukan hanya terkait produksi dan konsumsi. Ini juga terjadi dalam konteks kebijakan negara.
Misal, negara mau memproduksi alat pertanian atau pesawat terbang?. Mau memproduksi senjata atau beras?. Mau pilih model comparative disadvantage atau competitive disadvantage?. Mau kasi subsisi atau tidak?, mau produksi mobil nasional atau impor sapi?. Dst...
Semua masyarakat dihadapkan pada kondisi trade off.
Even, seorang ibu rumah tangga pun bisa menghadapi kondisi trade off. Misalnya, hari ini mau masak rendang atau masak gulai ikan?. Mau buat cendol atau air putih untuk berbuka puasa?. Jadi laper ya...
Apapun pilihan seseorang selalu ada konsekuensinya. Biasanya terkait uang atau budget yang dimilikinya.
Dalam konteks Ramadhan 2018, kondisi trade off ini nyata. Bukan sekedar rendang atau cendol tadi.:)
Katakanlah, memasuki hari ke-2 ini, seorang shaim (orang berpuasa) dihadapkan pada pilihan, mau tidur atau membaca Alquran?. Mau mempelototi nyanyian di Youtube atau dengerin ceramah ustaz?. Mau tulis postingan "panas" di FB atau share tausiyah ustaz?. Dipilih-dipilih.
Apapun pilihan itu, kondisi trade off akan memunculkan oppurtunity cost. Apa pula itu?.
Oppurtunity cost adalah biaya peluang. Maksudnya, atas pengorbanan yang kita lakukan itu, kira-kira apa sih keuntungannya.?.
Katakanlah, ketika seeorang memilih kuliah, dia dapet apa dan rugi berapa?.
Atau seseorang memilih menikah, dia untung berapa dan peluang rugi yang diperoleh?.
Besar manfaat atau mudharatkah?
Dalam konteks Ramadhan, oppurtunity cost misalnya, ia memilih antara menonton ceramah ustaz atau "merelakan" tidak mendengar musik dangdut dan menonton film, apa dan berapa keuntungan yang diperoleh?. Dapat hati tenang atau bergemuruh?. Dapat kepanikan atau ketenangan?, serasa banyak musuh atau banyak teman?
Dengan memperhitungkan oppurtunity cost, maka seseorang dianggap rasional dan cerdas. Economics man banget. Sebaliknya, kalau asal hantam dan sembarang bertindak. Maka ia dianggap irrasional.
Teman saya protes,
Katanya, konsep oopurtunity cost tidak cocok dimasukkan ke dalam situsi Ramadhan. Soalnya, kajian itu bersifat materialistis banget. Masak sih, pencapaian Ramadhan harus disamakan dengan produksi atau konsumsi.
Saya setuju dengan dirinya. Namun, manusia kan suka banget dengan hitungan materi.
Makanya, kata ustaz, level ibadah manusia itu macem-macem. Ada ibadah model pedagang, model pecinta atau ibadah model anak-anak.
Nah, dominannya sih model pedagang, dimana sebelum beribadah, ia mengkaji untung rugi, apa yang didapat dan apa kerugiannya. "Kalau aku sholat ini dan itu, berapa ya pahalanya?". "Kalau aku baca Alquran sebanyak ini, dapat rejeki berapa ya?". "Bisa kaya gak ya?"
Kendati tidak ada larangan mengharap pahala dan nominalnya, namun beribadah model seperti ini adalah level terendah. Model ini rentan dengan godaan atau kecewa. Kalau misalnya, angka dan ganjarannya tidak langsung dapet gimana?. Kecewakah? Ayo jujur...
Seharusnya dipakai model pecinta. Ibadah orang yang jatuh cinta itu tampa pamrih, selalu bahagia dan masuk ke relung sukma.
Makanya, nabi mengatakan bahwa ibadah itu harus dilakukan ikhlas. Hanya orang ikhlas yang tidak bisa ditembus setan. Orang ikhlas gak butuh publikasi, dan pecitraan. Kalaupun itu dilakukannya, niatnya untuk menginspirasi, mengajak orang, bukan pamer.
Dalam kaitan Ramadhan, hanya orang yang melakukan puasa dari hati yang ikhlas yang akan mendapat ganjaran penuh. Dosanya diampuni dan efek Ramadhan akan terasa minimal untuk satu tahun ke depan.
So, apa yang harus kita lakukan di hari ke-2 ini?
Saya kira, pintar-pintar dalam melakukan trade off. Pintar pilih ini dan itu. Pintar memilih kata, perbuatan, niat dan membaca dunia. Bukan sekedar pintar pilih baju, kendaraan atau panganan lezat.
Moga, Ramadhan hari ke2 ini semakin terasa dan diberkahi Allah.
Amin.
Wallahu a'lam


0 Comments