Ticker

6/recent/ticker-posts

Pilkada dan Ilmu Tongkar

By: M. Ridwan

"To err is human. To blame someone else is politics" (Hubert H Humphrey)






Tongkar itu asal katanya "bertengkar". Kata ini akrab ditelinga warga Sumut. Main-mainlah ke sana. Jadi, ilmu Tongkar artinya, ya, Ilmu Bertengkar. Ini ilmu tak asing di telinga. Tapi, jangan dicari di kamus ya, pasti ngak ketemu. Soalnya, ilmu hitam dan dahsyat...Hehe..

Biasanya, kalau ada seseorang yang punya hobby bertengkar, suka cari masalah, keras kepala dan susah dinasehati, maka orang Sumut bilang, "Dia itu tongkar kali ah, payah dinasehati, keras kepala dan suka cari masalah saja,".

Selain Ilmu Tongkar ada pula Ilmu Aib dan Ilmu Nyinyir.
Apa pula itu? 

Ilmu aib itu adalah "kemampuan" seseorang melihat sesuatu dari sudut pandang negatif baik melihat aib orang atau suatu keadaan. Lagi-lagi, istilah ini juga ngak ketemu dalam kamus ya...

Seseorang yang ahli di Ilmu Tongkar dan Aib biasanya kreatif dan inovatif dalam menjelek-jelekkan orang, atau keadaan. Selalu ada cara baginya menemukan aib dan kejelekan orang lain. :). Hebat ya..

Lalu, apa pula Ilmu Nyinyir?
Ilmu nyinyir itu ya ilmu banyak bicara atau banyak tanya. Orang yang terlalu banyak bicara tapi no action, biasanya disebut ahli nyinyir.

Tapi, tak semua nyinyir itu berkonotasi negatif lho.
Dulu, Sokrates -seorang Filosof Yunani (470 SM)- punya hobby nyinyir produktif. Tiap hari, ia berjalan di kota Yunani mempertanyakan semua hal kepada orang yang dijumpainya. 

Ia memulai dari pertanyaan sederhana sampai tersulit, sehingga, orang yang ditanya jadi bingung dan sebel. Misal, untuk apa bekerja, untuk apa uang, untuk apa makan, sampai untuk apa hidup.

Pertanyaannya sangat filosofis dan banyak orang tak suka. Dia dianggap nyinyir bahkan gila. Padahal ia ingin mendapatkan hakikat atau esensi sebuah pemahaman secara mendalam sih, bukan nyinyir banyak "bicara" tadi. Kendati nyinyir, Sokrates tidak suka membodohi dan mentertawakan kebodohan orang, apalagi sampai menyepelekan dan menghinanya. Pribadinya penyabar, santun dan menganggapnya dirinya bodoh. Sejarah menyebutkan, bahwa iapun beristeri dari kalangan orang yang tidak berpendidikan. Beda dengan filosof karbitan model Jaman Now, ya..Ada ilmu dikit, langsung serang dan merasa paling pintar ya...hihi, sorry ya.

Cerita Sokrates menunjukkan bahwa manusia, dari dulu dan kini memang ngak suka berpikir mendalam. Mungkin takut repot, capek dan nanti dibilang terlalu berteori, kali.

Dalam konteks Pilkada, Ilmu Tongkar, Aib, atau Nyinyir ini biasanya menemukan momentum. Orang suka menggunakannya.

Ilmu ini sangat efektif mengiring opini, bahkan mengerahkan massa. Apalagi disandingkan dengan kemampuan sihir medsos, klop lah. Bak gayung bersambut.

Dengan medsos, orang bisa bertengkar tanpa perlu berbuih buih mulut. Seseorang bisa mengobrak-abrik dan mempertontonkan aib orang bahkan dengan sebuah photo editan, rekaman bodong bahkan hasil share dari orang lain. Di jaman Now inilah kita bisa menemukan bahwa, tangan itu bisa lebih nyinyir dan nyaring ketimbang mulut. Hehe..

Oh ya,
Terkait mengiring opini, Iblis itu jagonya lho. Silahkan baca sejarah diusirnya Adam dari surga. Teknik Iblis dimulai dari sebuah opini, bukan?

Tak tanggung-tanggung. 
Iblis berhasil mengiring opini Adam bahwa Tuhan itu punya skenario jahat untuk menyingkirkan Adam dari surga, supaya ia tidak kekal di dalamnya. Maka, ia menyuruh Adam melanggar larangan Tuhan dengan memakan buah Khuldi. 

Iblis meyakinkan Adam, bahwa Tuhan bermaksud tidak baik dengan larangan itu. Ia melakukan apa yang banyak dilakukan banyak politikus yaitu "to blame the others". Menyalahkan orang lain. Namun, Iblis justru memilih Tuhan target awal. Gila bukan? Betapa hebatnya daya rusak pengiringan opini ini.

Makanya, hati-hati bagi orang yang suka mengiring opini dan punya sarana melakukannya, misal punya media massa atau kemampuan membangun opini negatif. Kalau ia menyalahgunakannya, tingkahnya tak jauh beda dengan Iblis ketika menjelek-jelekkan Tuhan. Iya kan? Pantasen Tuhan marah besar padanya.

Maka, Tuhan jauh-jauh hari mengingatkan manusia untuk menjauhi prasangka negatif, menghindari fitnah, melarang percaya dengan hoaks tanpa konfirmasi bahkan melarang menyebarkan aib orang meski ada. 

Tuhan bilang, penyebar aib itu laksana orang makan daging orang lain. Kanibal, dan karnivora, banget. Tapi, untuk urusan Pilkada, biasanya, kemampuan ini dihargai mahal, bukan?. Hati-hati ya Timses.

Momen Pilkada, memang ajang yang sering dianggap orang sebagai momen saling jegal, kanibal dan saling makan. Bentuknya tentu diawali dengan perang opini bahkan fitnah. Tujuannya jelas, yaitu sebuah kemenangan. 

Tapi, hati-hati sajalah. 
Kemenangan atas dasar fitnah, ghibah, atau memburuk-burukkan orang lain jelas sebagai sebuah kemenangan semu. Yes, itu adalah kemenangan yang sangat buruk. Sama seperti kemenangan Iblis atas Adam ketika ia berhasil mengeluarkan Adam dari surga.

Akhirnya, terserah kita, mau pakai cara apa untuk meraih kemenangan. Pakai Ilmu Tongkar, Ilmu Aib atau Ilmu Nyinyir, siap-siap berhadapan dengan Tuhan.

Terserah manusia, mau diapakan kemampuan otak dan tangan ini.  Tuhan pasti akan jadi saksi kok. Saksi atas baik dan buruknya tingkah manusia. So, cerdaslah memilih hidup. Jangan galau ngak punya cara...have a nice long weekend.....

Wallahu a'lam.

Post a Comment

0 Comments