Ticker

6/recent/ticker-posts

Pilkada dan Mimpi Umar Jaman Now

By: M. Ridwan



Umar Bin Khattab itu khalifah kedua sesudah Rasulullah. Banyak kisah ketauladanan dari dirinya. Kisah yang paling populer adalah aksi blusukan yang dilakukannya di kota Madinah.

Syahdan, musim paceklik melanda Madinah. Meski sistem penanganan bencana berjalan baik dan Baitul Mal mampu memberikan bantuan makanan, Umar masih merasa perlu memastikan tak seorangpun yang luput dari bantuan.

Alkisah, ia dan sahabatnya menemukan sebuah kemah di gurun pasir Arab. Di dalam kemah terdengar tangis anak-anak kelaparan. Si ibu yang bersama mereka terlihat memasak di atas tungku api. Anehnya, sampai anak-anak itu tertidur, masakan si ibu tak kunjung tersaji.

Heran dengan kondisi itu, Umar mengetuk pintu dan bertanya apa gerangan. Sang ibu menjawab bahwa anak-anaknya kelaparan. Beberapa hari ini mereka sulit mendapatkan makanan. 

"Lalu, apa yang engkau masak?" tanya Umar.
"Itu adalah batu, tuan. Biar mereka tertidur. Aku tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan, " jawab si ibu, tak menyadari dengan siapa ia berbicara.
"Ini semua gara-gara Umar yang tidak peduli kepada kami," tiba-tiba wanita itu mengejutkan Umar.

"Ia tidak mau turun ke masyarakat. Ia tidak peduli kepada kami," wanita itu tak dapat menyembunyikan kegusarannya. Umar tersentak, sangat terpukul dan merasa berdosa.

Tanpa berkata, Umar bergegas ke Baitul Mal, dan malam itu juga membawa sekarung gandum yang berat di atas pundaknya. Tawaran pegawalnya untuk membawa karung itu ditolaknya. "Apakah engkau mau menanggung dosaku kelak di akhirat?"  ujar Umar.

Sesampai kembali di kemah, Umar kemudian memasak gandum itu hingga tersaji enak dan membangunkan anak-anak si ibu untuk makan.

Singkat cerita, malam itu berakhir dengan happy ending. Termasuk esoknya ketika si ibu itu akhirnya tahu bahwa sosok dermawan itu adalah Umar bin Khattab, Amirul Mukminin, yang sangat disegani kawan dan lawan. Di era beliaulah, kekuasaan Islam membenteng luas, sampai ke Damaskus, Mesir,  Palestina dan Afrika. Pada masa beliaulah, departemen didirikan, Angkatan Bersenjata diperkuat, kesejahteraan meningkat dan reformasi tanah terjadi. Pokoknya, sesuatu bangetlah....

Nah, sosok sederhana dan tegas inilah dengan penuh pengabdian, rela memikul sekarung gandum yang berat, karena takut bahwa ganjaran kezaliman dan kealpaan nya itu akan berbuntut panjang di akhirat.

Nah, kalau ada yang bertanya, menjelang ajang Pilkada atau Pilpres saat ini, masih adakah sosok seperti Umar?

Maka, jawaban saya, insyallah banyak....
Apalagi kalau kita lihat dari tolak ukur blusukan itu...
Tradisi blusukan sudah membudaya di negeri kita, kok. Jangan khawatir.

Saat ini, kita tak asing kok melihat pejabat yang masuk ke got, berbasah-basah ketika banjir, bercucuran air mata membesuk orang sakit, atau membantu keluarga miskin dan papa. Kita pantas mengapresiasi tradisi ngetrend di Jaman Now ini. Kalau di Jaman Old, mana mungkin tradisi ini dilakukan?. Bisa jatuh harga diri  seorang pejabat bukan?, Iya kan?. Bisa kena pecat tuh bawahan..

Namun, kalau mau komplit seperti Umar bin Khattab, banyak lagi yang bisa ditiru kok. Misal, gaya kesederhanaannya itu.

Yes, Umar bin Khattab itu sosok sederhana banget. Hobinya memang blusukan tapi ngak suka pakai pengawal. Ia suka berteduh di bawah-bawah pohon kurma di Madinah. Ia suka berada di alam, dan tak punya istana. Aneh ya? yang jelas, Umar bukan lebay dan bukan pencitraan. Sudah dari sononya..Wong Medsos gak ada di jaman Umar..:)

Pernah suatu ketika seorang pembesar Romawi ingin berjumpa dengan Umar. Kisah kehebatan Umar sudah sampai di telinganya. Ia mengira, pastilah gaya Umar tak jauh beda dengan pembesar Romawi yang dikenalnya.

Sampai di perbatasan Madinah, ia bertemu dengan sosok pria yang sedang berteduh di bawah pohon korma. Bajunya bersahaja, dan tak terlihat hal yang istimewa dari penampilannya. Ia malah mengira si laki-laki itu seorang tukang kebun.

Tak disangka, itulah Umar bin Khattab, Sang Khalifah yang mengoncangkan benua Arab sampai ke Romawi. Kok bisa penguasa adikuasa tampil begini? Apa ngak salah tuh?, pikirnya heran. 

Kisah menyebutkan, bahwa pembesar Romawi itupun memeluk Islam karena sosok yang menawan hati itu.

Sosok Umar bin Khattab di Jaman Now? Mimpi atau nyata, ngak ya?

Saya kira harus dibuat nyata lah.
Meski, tidaklah perlu sampai blusukan setiap hari ke kampung-kampung. Cukup sesekali dan delegasikan saja ke pemimpin tingkat paling bawah. Diawasi secara ketat. 

Tidak perlu pula pejabat masa kini, bersikap lebay, pamer kesederhanaan tapi hatinya terpaksa, misal ngak mau naik mobil dinas dan memilih naik angkot, biar dianggap bersahaja, padahal diam-diam ia menumpuk harta. Diam-diam, ia sibuk mikirin aset untuk anak isteri. Ayo ngaku bagi yang merasa? :). Itu bukan kata saya lho. KPK dan PPATK yang buktiin begitu..

Berprilaku wajar sajalah...wahai pemimpin..
Keikhlasan dan keberhasihan hati itu bisa dirasakan hati, meski mata kepala mungkin bisa dikibuli.

Kepedulian seorang pemimpin dan ketulusannya melayani itu bisa diketahui dengan baik, meski tak dipublikasi dan tak pakai iklan-iklan yang mahal-mahal.

Berani ngak nih, para calon yang terpilih nanti berniat untuk menjadi sosok seperti Umar?

Atau, berani ngak nih, masyarakat punya pemimpin seperti Umar? Lho, kok tanya seperti itu?

Bukan apa apa sih, jangan-jangan, malah kita yang tidak mau. Iya kan?

Kalau ngak percaya nih,
Silahkan tanya hati kita, 
"Apa yang kita lakukan kepada seorang yang baru terpilih? 
Apakah kita akan menjaganya dari prilaku koruptif, atau justru menyibukkan dirinya dengan beragam permintaan aneh-aneh, untuk kepentingan kita, yang memaksa dirinya tuk berprilaku 
koruptif?. Kita minta balas jasa, kita timses dirinya, bukan?

Itu fakta dan nyata lho, akhirnya kondisi seperti lingkaran setan.
Ternyata, tanpa disadari, kitalah yang berkontribusi menciptakan sosok pemimpin yang kita mau. Apakah menjadi seperti sosok Umar bin Khattab, atau justru menjadi Fir'aun dan Namrudz. Waspadalah...
Wallahu a'lam.

Post a Comment

0 Comments