By: M. Ridwan
Emak-emak itu bahasa Inggerisnya “Moms”. Orang Arab
menyebutnya “Ummi” atau “Ummahat”. Istilah emak-emak dalam
tulisan ini ditujukan kepada kategori perempuan secara umum. Jadi, tidak mesti
seorang ibu sih, apalagi telah memiliki anak. Sehingga, bagi yang belum merasa menjadi
emak-emak jangan berkecil hati ya. Tulisan ini untuk kamu juga, kok :)
Emak-emak negeri ini hebat-hebat. Powerfull banget. Saya pernah melihat di sebuah daerah, kaum emak-emaknya sudah berangkat ke
sawah di pagi hari nan gelap. Mereka cekatan
bejalan, sambil memikul peralatan berat. Saat
itu, entah dimana para suami. Katanya sih, masih di warung kopi dan sebagian
masih terlelap. Infonya sih, para suami akan menyusul di siang harinya. :)
The Power of Emak-Emak itu nyata...
Beberapa emak-emak hebat yang saya kenal, berprofesi
macam-macam. Semuanya hebat-hebat. Ada yang berprofesi sebagai guru, dosen, bankir,
household/ manager rumah tangga, hakim, pengacara, TNI dan polisi bahkan ada yang menjadi driver ojek
online. Bayangkan, di pagi hari, setelah mengantar anaknya ke sekolah, ia harus
mempelototi gadget untuk menerima order. Tak terbayangkan bagaimana ia melewatkan
hari bermandikan debu, panas, hujan atau kemacetan. Mengais rejeki, demi membantu keluarga. Tapi, uniknya, para emak itu enjoy aja. Tak ada raut sedih dan menyesal. Entahah kalau Anda pernah jumpa yang berbeda dengan itu.
Bagi saya, semua wanita itu memang layak disebut wanita
karier, sang "pembawa". Soalnya mereka membawa banyak beban di pundak, iya kan?. Emak-emak
itu dipaksa ikut menangani masalah rumah tangga dari aspek domestik sampai
internasional. Kalau mereka memilih sebagai pekerja di luar rumah, maka mereka
harus meninggalkan masalah pekerjaannya ketika tiba di rumah.
Emak-emak itu harus rela mendengar curhatan anak dan
suami. Gratis, tanpa gaji dan berpotensi dimarahai pula. Pokoknya mereka harus mampu multitasking,
mengerjakan banyak hal dalam satu waktu. Diharuskan perfect dan siap sedia.
Entah kepada siapa emak-emak ini mengeluh ya, kecuali
suami mereka baik budi seperti Anda, sangat peduli. Kalau tidak?, kepada siapa mereka memgadu?. Meski saya yakin para emak-emak itu
pun akan memilih tegar dan sabar. They are really wonder women guys..
Kembali ke judul…
Memangnya, Pilkada dan
emak-emak bisa dihubungkan?
Saya yakin sangat berhubungan, karena merekalah pihak yang
palling merasakan dampak Pilkada. Lho, kok bisa?.
Begini, kalau Pilkada sukses dan
calon yang menang betul-betul mampu mewujudkan mimpi yang bejibun itu, maka amanlah
dunia.
Namun, biasanya, setelah Pilkada, dampaknya kan tidak langsung terasa kepada keluarga yang bersangkutan, atau bisa jadi, tetap tak terasa sampai periode sang pejabat itu berlalu. Saya sering melihat kondisi itu.
Nah, keluarga yang begitu berharap terjadi perbaikan keadaan kepada seorang calon PIlkada, bagaimana nasibnya? Tragis bukan?. Maka, jangan terlalu berharap perbaikan hidup pada manusia.
Saya pernah punya pengalaman nyata, bertemu satu keluarga.
Sang suami dengan semangat mengatakan bahwa calon yang
dijagokannya itu dermawan dan begitu peduli dengan rakyat. Indikator yang
dikemukakannya cukup simpel, yaitu si calon suka memberi uang 50-100 ribu kepada
orang yang dijumpainya. Bagi si suami, itu sudah cukup membuat hatinya kepincut
dengan sosok si calon.
Namun, apa komentar sang isteri?
Si isteri dengan gemas mengatakan,
“Iya sih Pak, untuk Bapak
cukup enak, dengan uang itu bisa membeli rokok 3 bungkus. Tapi, bagiku?, kalau
nanti biaya sekolah tetap mahal, rumah sakit mahal atau barang-barang naik,
maka rumah tangga kita tetap tidak mampu menghadapinya. Jangan mementingkan
enakmu saja, Pak” protes si isteri.
Saya yang mendengar peracakapan mereka kaget
juga. Maklum, awalnya agak underestimad dengan kemampuan analisis lugu
mereka. Si isteri terlihat sangat cerdas
meski akhirnya terpaksa mengalah dengan sang suami yang sudah final dengan
kesimpulannya. Si calon itu dermawan, titik.
Tapi, tidak semua emak-emak sama seperti keluarga ini,
Beberapa emak-emak yang saya temui justru banyak yang pasrah saja terhadap acara per-Pilkada-an ini. Mau siapapun menang yah terserah, masa bodo. Yang penting, asap di dapur bisa mengepul dan anak-anak terjamin sekolah. Mungkin karena tekanan masalah mereka begitu banyak ya?, sehingga mereka ngak punya waktu untuk mengaanalis mendalam terhadap para calon Pilkada.
Satu-satunya sumber yang mereka percaya mungkin si suami saja sih. Meski, kadang mereka punya pikiran sendiri, namun demi terjaminnya stabilitas rumah tangga, mereka lebih memilih manut suami saja. Ayo, emak-emak ngaku?. :)
Saya membayangkan, kalau emak-emak ini tercerahkan, kritis dan suka protes, maka dipastikan siapapun bakal calon terpilih akan kerepotan. Alau ketika kampanye ada sesi tanya jawab dengan emak-emak, pasti sang calon kelimpungan. Bisa-saja kantor gubernur, bupati, camat atau kades didatangi para emak-emak ini, setiap hari. Mereka paling merasakan "penderitaan" hidup, bukan?
Syukurnya, para emak-emak di negeri ini biasanya memang baik budi.
Jangankan untuk mendatangi kantor pejabat daerah, untuk protes dan mengadukan nasib. Wong, untuk mengadukan suami mereka yang bertingkah nakal dan zalim, mereka enggan dan lebih memilih tabah. Maka, banyak para suami yang memamfaatkan kebaikan emak-emak dengan KDRT, sseingkuh dan perbuatan tak layak puji lainnya.
Nah, kalau begitu kebaikan hati emak-emak di negeri ini....
Apakah kita tega menyakiti hati mereka dengan mengkhianati janji kampanye nantinya?
Tegakah kita menambah masalah yang mereka hadapi di keluarga, menambah beban mereka dengan melibatkan mereka dalam hiruk pikuk saling jegal dan bertengkar?
Sudah deh,
Begini saja.
Siapun kita, terkait PIlkada nanti, entah timses, calon yang berlaga atau pemilih, pikirkanlah nasib emak-emak ini. Setuju..?
Pikirkan bahwa masa depan anak-anak bangsa berada di tangan mereka. Jika mereka stress, tertekan dan depresi, maka dampaknya pasti ke generasi kita xan masyarakat keseluruhan. Pilkada berpotensi membuat emak-emak ini stress, hehe,hati hati...
So, mari letupkkan the power of emak-emak negeri ini, dengan memghadirkan Pilkada yang berkualitas, cerdas, bebas dari sampah dan peduli kepada emak-emak. Amin..
Wallahu a'lam


0 Comments