By: M. Ridwan
Judul di atas terinspirasi dari dua buah bilboard besar yang saya lihat di pinggir jalan raya. Satu bilboard memuat gambar pasangan calon kepala daerah, dan tak jauh darinya, sebuah bilboard iklan smartphone dengan gambar wanita sedang bergaya memegang smartphone teranyar.
Saya tidak bertujuan membahas politik, lho. Meski judul tulisan ini menyebut kata Pilkada. Saya hanya mau melihat pilkada dan smartphone dari perspektif lain saja. Perspektif bilboard iklan....:)
Kita lanjut ya....
Sesuai kata, smartphone artinya "telepon cerdas". Istilah ini adalah pengembangan dari kata handphone yang memiliki arti terbatas yaitu "telepon genggam". Istilah handphone sendiri juga pengembangan dari kata telepon. Telepon berasal dari kata tele dan phone.
Awalnya, buku sejarah menyebut bahwa penemunya adalah Alexander Graham Bell pada tahun 1876. Namun, kongres Amerika meralatnya dengan menyatakan bahwa penemu telepon sebenarnya adalah Antonio Meucci tahun 1849. Dikarenakan kemiskinan, ia tidak mampu mengembangkannya. Kasihan ya..?
Berarti Graham Bell numpang nama dong? Atau jangan-jangan ia menciplaknya? Whatever lah.. Silahkan saja baca buku sejarahnya. Sejarah memang berpihak pada pemenang.
Saya yakin, mungkin, pada masa mendatang, akan ada alat lain, entah bernama Eyephone, Brainphone atau Heartphone. Who knows?.
Smartphone digandrungi semua orang karena "kecerdasannya". Fitur-fiturnya menarik dan penuh inovasi. Setiap versi terbaru pasti dinantikan para fans. Sebut saja Iphone. Ketika peluncuran versi X baru baru ini di Singapura, gadget ini dinanti ribuan fans yang rela merogeh kocek puluhan juta rupiah untuk mendapatkan sensasi sebagai "pemilik pertama versi terbaru". Rasanya gimana gitu..Mungkin ada kebanggaan dan keharuan merasuk jiwa ketika mereka menenteng gadget produksi Apple yang pernah dikomandoi legendaris Steve Jobs ini, ya?:)
Bukan hanya Iphone yang digandrungi. Produk smartphone asal Korsel dan China juga punya fans yang bejibun. Ingat bagaimana hebohnya peluncuran Samsung Note 8 atau Xiomi Mi Max 2, Oppo, Vivo, Lenovo, bahkan Advan. (Kelihatan bahwa saya mantan pedagang HP, ya? :)
Itulah pesona smartphone. Sampai-sampai, pengemis sekarang pun pakai smartphone dalam menunjang aktifis bisnis mengemisnya. Untuk mendongkrak omset, katanya..
Jejeran smartphone berbagai merk itu memiliki daya pikat yang kuat. Pesonanya menyihir, mengaduk emosi serta nalar. Tanpa sadar, manusia kini mungkin sulit membedakan fungsi smartphone, apakah benar "mencerdaskan pemiliknya" atau justru "membodoh-bodohi" manusia karena menciptakan ketergantungan. Boleh setuju atau tidak.
Ketergantungan ini bisa melahirkan prilaku anti sosial, disconnected, atau bahasa kerennya, alienasi manusia dari dunia realita.
Nah, disitulah kehebatan iklan seperti bilboard tadi yang mampu membuat produk bernama smartphone ini tetap diminati meski punya dampak seperti itu.
Lalu bagaimana dengan Pilkada?
Pilkada adalah singkatan dari Pemilihan Kepala Daerah. Ia bukan termasuk gadget. Ia masuk ke dalam "genus" tersendiri. Ia bukan produk hasil pabrikasi. Ia masuk dalam ranah politik. Barang sekennya gak bisa dijual di OLX.
Pilkada juga tidak memiliki kata "smart" di depannya,. Jangan berharap menemukan kata "smart pilkada", misalnya. Saya tidak tahu apa sebabnya. Apa karena pilkada memang tidak bisa membuat kita semakin "smart" ? Hehe..
Itu yang menjadi point tulisan ini...
Kendati bukan termasuk ke dalam kategori produk smart. Namun, Pilkada dianggap sebagai manifestasi demokrasi dimana manusia sebagai pelakunya diasumsikan "smart". Harapannya sih, proses Pilkada dilakukan secara smart, dimana yang memilih dan dipilih sama-sama smart. Betulkah?
Produk pilkada juga punya kemampuan mengaduk emosi dan nalar. Bahkan lebih dahsyat dari smartphone.
Bayangkan, gara-gara fanatik dengan jagoannya di ajang pilkada, satu kampung bisa berantem. Emosi yang ditimbulkan pilkada sering mengalahkan nalar, menaikkan panas hati dan menutup logika. Apalagi kalau jagoan dan pilihannya kalah, bisa runyam tuh. Saya sering tertawa melihat "perseteruan" pendukung para pendukung calon di medsos, saling hujat dalam menjagokan pilihan. Padahal pilkada sudah usai. Kok jadi gak smart gitu ya?
Kondisi ini tidak terjadi dengan produk smartphone. Biar beda pilihan gadget tetap enjoy dan cool. Justru, pilkada lebih terasa baper dibandingkan smartphone,,setuju?
Padahal, baik produsen smartphone atau pilkada sama-sama menggunakan iklan seperti bilboard dan animasi untuk menjajakan produknya.
Karena pakai iklan, maka 2 jenis produk ini akan melewati dapur olah grafis atau video seperti aplikasi Adobe Photoshop atau Adobe After Effects.
Tampilan wujud smartphone atau tokoh yang dipajang di bilboard, akan melewati proses editing, beautifyng, atau penghilangan aspek tampilan negatif. Image produk harus meyakinkan. Tampilan warna dan angle harus diambil cermat. Video harus diberi efek animasi. Pokoknya, pesona produk atau tokohnya harus muncul dan menghunjam. Masa bodoh, apakah nanti ketika sudah dipakai atau dipilih, pesona itu pudar atau luntur. Yang penting, konsumen beli dulu, pilih dulu.
Maka, semakin bagus hasil olahan image dan videonya, kemungkinan produk dibeli semakin besar. Kadang saya berpikir, gagalnya omset penjualan produk smartphone atau gagalnya seorang calon di ajang pilkada, bisa saja gara gara kegagalan tim desain grafis atau sutradara videonya. Hahaha..Ketemu rahasianya..
Kalau sudah tahu begitu proses sebuah iklan produk bisa nampang di bilboard, maka seharusnya kita jangan terkecoh lagi. Karena bisa jadi, kita tanpa sadar sudah jadi korban iklan, bukan?
Kadang, saya berandai-andai...
Andaikan pilkada itu sama smart-nya seperti smartphone, tentu masyarakat kita akan semakin cerdas, dan bahagia. Bukan sebaliknya, justru saling hujat, sinis dan saling klaim kecerdasan. Kita harus membuat pilkada jadi ajang yang mencerdaskan, bukan ajang melempar kecerdasan ke dalam tong sampah. Toh, kita tinggal di negeri yang sama, bukan?.
Andaikan pilkada itu seperti smartphone, harusnya banyak pilihan inovatif dan berkualitas, sehingga masyarakat akan mudah memilih sosok yang betul-betul tulen, bukan sosok yang itu-itu saja, miskin fitur pula...Kekuatannya hanya berkat jasa editing photo dan video, casing doang...Toh, rakyat Indonesia jumlahnya lebih dari 200 juta, bukan?.. Mana calon pemimpin yang lain?
Andai masyarakat kita bisa menyikapi pilkada seperti smartphone, mungkin, hidup kita bisa lebih simpel. Pilkada disikapi demgan enjoy saja. Toh, kalau produk yang dinanti belum sesuai selera, yah, dimanfaatin saja yang ada.
Tapi, kalau ada versi baru, ya ganti saja. Jangan dipertahankan, masa pakai produk jadul terus. Pastikan produknya juga punya layanan purna jual. Servicenya bagus dan tidak berbiaya tinggi. Ngak usah di baper sampai susah move on..iya kan?..
Andaikan, andaikan, andaikan..
Tapi, lamunan saya buyar...
Jangan-jangan, masyarakat kita memang tidak suka pilkada yang smart. Kita mungkin hanya menyukai smartphone tapi tidak suka pemimpin yang smart. Kita mungkin ngak suka pemimpin punya gelar professor atau doktor dengan alasan, "Ah, mereka tahu apa? teori doang...". Ayo ngaku?
Atau, jangan-jangan, kita yang mengaku smart ini, hanya pintar mengkonsumsi dan membanggakan smartphone negara lain, atau tokoh negeri lain. Padahal produksi dan tokoh dalam negeri kita banyak namun tak mereka tak suka ekspose. Agaknya mereka tidak berani muncul karena selalu kita bully.
Jangan-jangan, smartphone kita lebih smart dari pemiliknya?. Hehe..
Kalau begitu...?
Jadilah konsumen yang smart atau pemilih yang smart dan bukan menjadi konsumen "ikut-ikutan" atau pemilih emosional yang mudah tertegun dengan iklan dan bilboard besar semata.
Atau, bagi yang mengaku dirinya smart, pingin dianggap smart, atau smart beneran, tunjukan saja ke-smart-an itu. Buktikan bahwa kita bisa berbuat terbaik, bukan hanya dengan kata dan saling hujat. Cocok?
Be smart, be wise...wassalam...

0 Comments