Ticker

6/recent/ticker-posts

Pilkada dan Sampah


By: M. Ridwan


Tulisan ini adalah cerita tentang sampah. Tidak terkait politik. Kalaupun saya tulis kata”pilkada” menyertainya tidak bermaksud mengiring pembaca supaya mengkaitkan Pilkada dengan sampah, dalam perspektif apapun. Apalagi sampai menduga-duga hubungan aneh sampah dan pilkada.

Saya menyoroti sampah setelah membaca berita tentang penanganannya di Teluk Jakarta. Luar biasa banyaknya. Kawasan hutan Magrove plus sampah di pesisir ibukota ini sebuah hal yang miris. Ibukota negara lho, banyak orang cerdas di sana. 

Tentu saja, penanganan yang dilakukan oleh pasukan orange pantas diacungi jempol. Termasuk, kebijakan pimpinan DKI yang mentargetkan pembersihan sampah tuntas dalam seminggu juga harus diapresiasi.

Kira-kira nih, kapan ya, kesadaran masyarakat dalam membuang sampah ini akan sempurna? Sampai kapan masyarakat Indonesia sadar sepenuhnya untuk tidak membuang sampah sembarangan seperti hobby banyak orang kini?. 

Saya yakin, di sekitar kita, masalah sampah pasti menghantui. Tidak hanya di Jakarta. 
Lihat saja kondisi sungai-sungai negeri ini yang semakin hari semakin kotor dan dipenuhi sampah. Pembaca tentu masih ingat bagaimana akhirnya pemerintah menggelontorkan dana dalam jumlah fantastis untuk membersihkan Sungai Citarum di Jawa Barat. Itupun karena seorang bule mem-videokan kondisi sang sungai ke seantaro dunia. Tak ayal, publik dunia pun melabeli Citarum  sebagai sungai terkotor sedunia. Malu banget dan saya yakin membuat kita harus menutup wajah.  Syukurlah TNI dan pemerintah sudah turun tangan. 

Beberapa waktu lalu, saya pernah melihat video tentang betapa bersihnya got dan sungai di Jepang. Sanking bersihnya, ikan-ikan dengan mudah ditemukan berenang di got, karena memang tidak ada limbah dan racun di sana. Airnya jernih dan seperti akuarium. Jangan coba-coba membandingkan dengan got di kota-kota kita. Jangankan untuk ikan bersenda-gurau, untuk dipakai mencuci kaki atau tangan saja, mungkin kita akan enggan, karena kotor dan jorok. Entahlah mungkin pembaca bisa menunjukkan kepada saya sebuah kota di negeri ini,  di mana gotnya bersih dan banyak ikan. Setahu saya tidak ada.  

Bukan hanya Jepang, di negara-negara lain, sampah itu setidaknya berhasil ditangani dengan baik. Silahkan jalan-jalan ke Eropa, atau Amerika. Sehingga wajar kalau kita bertanya, kapan ya, kira-kira, tumpukan sampah di tepi kali atau got itu hilang?  Kapan ya, sampah tidak lagi menjadi hal menakutkan negeri ini? Smapai kapan sampah di laut-laut kita hilang?

Kata nenek saya, dulu, di Jaman Belanda, got  di kota kecil kami sangat bersih dan airnya lancar. Orang Belanda sangat peduli dengan kebersihan got. Airnya jernih bak di akuarium, mirip dengan kondisi Jepang saat ini. Sehingga ada pameo di masyarakat ketika itu, bahwa jika ada benda terjatuh di got/parit, maka segera cari di hilir sungai, karena derasnya air got  akan mengantarkan benda itu ke sungai dengan segera. Jangan berharap nyamuk bisa bertelur, bukan? Pastilah telurnya akan tersapu air. Kasihan si nyamuk. Namun kini?.

Saya hampir menganggap hal itu itu dongeng ketika nenek menceritakannya. Saya berdalih bahwa dulu pembangunan tidak se-pesat sekarang. Lagipula produksi sampah rumah tangga adalah dampak langsung keberhasilan produksi. Saya membela diri dengan mengatakan, “Nek, got memang bersih, tapi Belanda itu penjajah, lho?. Mereka mengisap kekayaan negeri ini. Jangan terkesima dengan Belanda.” Kata saya membela diri. Nenek hanya tersenyum dan sedikit menggeleng.

Terkait pembangunan itu, tentu argumen saya, akan ditolak mentah-mentah oleh orang Jepang. Mereka pasti tertawa dan mungkin berkata, “Kami juga membangun dan memproduksi sampah kok. Rumah tangga kami juga memproduksi sampah tak terbilang banyaknya. Cuma saja, kami punya mental bersih, serius menjaga kebersihan dan tahu apa yang dilakukan.” Kira-kira, seperti itu ya?
Nenek saya dulu bilang bahwa di Jaman Belanda, jalan-jalan dan got lebih bersih karena ada aturan tegas diterapkan. Siapa yang ketahuan membuang sampah akan kena hukuman. Kompeni sepertinya tidak mau para inlader menjadi primitif dengan kebiasaan membuang sampah sembarangan. J

Namun kini?
Di negeri ini, kita akan dengan mudah menemukan tumpukan sampah di pinggir jalan, kali atau got. Uniknya, sering kita menyaksikan plang tulisan berisi makian dan nama binatang. Bunyi kira—kira,”Siapa yang membuang sampah di sini adalah a*n*i*n*, bla bla.  Hehe, semakin banyak plang seperti itu kok justru sampah di tempat semakin bertumpuk. Aneh ya…binatang saja tidak suka membuang sampah.

Yang saya jelaskan di atas baru sampah fisik, lho.
Ada jenis sampah lain yang tak terlihat atau biasa disebut noda. Letaknya di hati. Kalangan sufi menyebut sampah yang tak terlihat ini memiliki daya rusak yang lebih dahsyat. Sampah seperti ini mengotori hati dan membuat pemiliknya berbau “busuk” kendati memakai minyak wangi berbotol-botol. Contoh sampah jenis ini adalah, sifat iri, dengki, sombong, pamer, pemarah atau putus asa. Sampah seperti ini disebut juga penyakit hati. Sayangnya, orang kadang tak menyadari bahwa ia memiliki sampah seperti ini di hatinya. Wong, sampah yang terlihat saja tak mudah dirasakan ya?

Makanya,  saya membuat judul di atas.
Harapannya sih, para calon yang berlaga di Pilkada atau Pilpres sekalipun bisa aware dengan problem sampah ini, baik sampah fisik atau sampah non fisik. Ngak usah muluk-muluk deh dengan program muluk-muluk. Misal, akan menyerap aspirasi masyarakat, meningkatkan ekonomi dan seabrek janji lain. Janjikan saja bahwa sungai, got dan lingkungan akan bersih dan harum. Janjikan ketika kampanye sebuah program masuk akal bahwa got kita akan lebih bersih dan tertata bersih melebihi jaman Belanda dan Jepang. Dan, janjikan bahwa sampah-sampah di hati masyarakat juga bisa hilang. Berat ya…?

Kalau ini tidak berhasil, maka siap-siaplah kita masyarakat akan berguman”. Wah, Indonesia sudah merdeka lebih dari 70 tahun namun kok Jaman Belanda lebih bersih ya..?. 

Atau, ketika Pilkada tidak berhasil membersihkan sampah-sampah di hati masyarakat, maka itu namanya Pilkada yang menyisakan kekotoran dan sampah, bukan membersihkan, iya kan?  

Atau, jangan-jangan pilkada memang tidak bermaksud membersihkan sampah ini? Jangan-jangan, isu sampah memang tidak seksi dan menarik? Atau membersihkan sampah itu sulit dan memiliki konsekuensi berat, terlebih membersihkan sampah di hati?. 

So, siapa yang berani menagih janji calon di Pilkada untuk membersihkan sampah di negeri ini? Baik sampah fisik maupun sampah di hati?
Wallahu a’lam. 





Post a Comment

0 Comments