By: M.
Ridwan
Tulisan ini
adalah cerita tentang sampah. Tidak terkait politik. Kalaupun saya tulis kata”pilkada”
menyertainya tidak bermaksud mengiring pembaca supaya mengkaitkan Pilkada dengan
sampah, dalam perspektif apapun. Apalagi sampai menduga-duga hubungan aneh sampah
dan pilkada.
Saya menyoroti
sampah setelah membaca berita tentang penanganannya di Teluk Jakarta. Luar
biasa banyaknya. Kawasan hutan Magrove plus sampah di pesisir ibukota ini sebuah
hal yang miris. Ibukota negara lho, banyak orang cerdas di sana.
Tentu saja, penanganan yang dilakukan oleh pasukan orange
pantas diacungi jempol. Termasuk, kebijakan pimpinan DKI yang mentargetkan
pembersihan sampah tuntas dalam seminggu juga harus diapresiasi.
Kira-kira nih,
kapan ya, kesadaran masyarakat dalam membuang sampah ini akan sempurna? Sampai
kapan masyarakat Indonesia sadar sepenuhnya untuk tidak membuang sampah
sembarangan seperti hobby banyak orang kini?.
Saya yakin,
di sekitar kita, masalah sampah pasti menghantui. Tidak hanya di Jakarta.
Lihat
saja kondisi sungai-sungai negeri ini yang semakin hari semakin kotor dan
dipenuhi sampah. Pembaca tentu masih ingat bagaimana akhirnya pemerintah
menggelontorkan dana dalam jumlah fantastis untuk membersihkan Sungai Citarum di
Jawa Barat. Itupun karena seorang bule mem-videokan kondisi sang sungai ke
seantaro dunia. Tak ayal, publik dunia pun melabeli Citarum sebagai sungai terkotor sedunia. Malu banget
dan saya yakin membuat kita harus menutup wajah. Syukurlah TNI dan pemerintah sudah turun
tangan.
Beberapa waktu
lalu, saya pernah melihat video tentang betapa bersihnya got dan sungai di
Jepang. Sanking bersihnya, ikan-ikan dengan mudah ditemukan berenang di got, karena
memang tidak ada limbah dan racun di sana. Airnya jernih dan seperti akuarium. Jangan
coba-coba membandingkan dengan got di kota-kota kita. Jangankan untuk ikan
bersenda-gurau, untuk dipakai mencuci kaki atau tangan saja, mungkin kita akan
enggan, karena kotor dan jorok. Entahlah mungkin pembaca bisa menunjukkan
kepada saya sebuah kota di negeri ini, di mana gotnya bersih dan banyak ikan. Setahu
saya tidak ada.
Bukan hanya
Jepang, di negara-negara lain, sampah itu setidaknya berhasil ditangani dengan
baik. Silahkan jalan-jalan ke Eropa, atau Amerika. Sehingga wajar kalau kita
bertanya, kapan ya, kira-kira, tumpukan sampah di tepi kali atau got itu
hilang? Kapan ya, sampah tidak lagi
menjadi hal menakutkan negeri ini? Smapai kapan sampah di laut-laut kita
hilang?
Kata nenek saya,
dulu, di Jaman Belanda, got di kota kecil
kami sangat bersih dan airnya lancar. Orang Belanda sangat peduli dengan
kebersihan got. Airnya jernih bak di akuarium, mirip dengan kondisi Jepang saat
ini. Sehingga ada pameo di masyarakat ketika itu, bahwa jika ada benda terjatuh
di got/parit, maka segera cari di hilir sungai, karena derasnya air got akan mengantarkan benda itu ke sungai dengan
segera. Jangan berharap nyamuk bisa bertelur, bukan? Pastilah telurnya akan
tersapu air. Kasihan si nyamuk. Namun kini?.
Saya hampir
menganggap hal itu itu dongeng ketika nenek menceritakannya. Saya berdalih bahwa
dulu pembangunan tidak se-pesat sekarang. Lagipula produksi sampah rumah tangga
adalah dampak langsung keberhasilan produksi. Saya membela diri dengan
mengatakan, “Nek, got memang bersih, tapi Belanda itu penjajah, lho?.
Mereka mengisap kekayaan negeri ini. Jangan terkesima dengan Belanda.” Kata saya
membela diri. Nenek hanya tersenyum dan sedikit menggeleng.
Terkait
pembangunan itu, tentu argumen saya, akan ditolak mentah-mentah oleh orang
Jepang. Mereka pasti tertawa dan mungkin berkata, “Kami juga membangun dan
memproduksi sampah kok. Rumah tangga kami juga memproduksi sampah tak
terbilang banyaknya. Cuma saja, kami punya mental bersih, serius menjaga
kebersihan dan tahu apa yang dilakukan.” Kira-kira, seperti itu ya?
Nenek saya
dulu bilang bahwa di Jaman Belanda, jalan-jalan dan got lebih bersih karena ada
aturan tegas diterapkan. Siapa yang ketahuan membuang sampah akan kena hukuman.
Kompeni sepertinya tidak mau para inlader menjadi primitif dengan kebiasaan
membuang sampah sembarangan. J
Namun kini?
Di negeri
ini, kita akan dengan mudah menemukan tumpukan sampah di pinggir jalan, kali
atau got. Uniknya, sering kita menyaksikan plang tulisan berisi makian dan nama
binatang. Bunyi kira—kira,”Siapa yang membuang sampah di sini adalah a*n*i*n*,
bla bla. Hehe, semakin banyak
plang seperti itu kok justru sampah di tempat semakin bertumpuk. Aneh ya…binatang
saja tidak suka membuang sampah.
Yang saya
jelaskan di atas baru sampah fisik, lho.
Ada jenis
sampah lain yang tak terlihat atau biasa disebut noda. Letaknya di hati. Kalangan
sufi menyebut sampah yang tak terlihat ini memiliki daya rusak yang lebih
dahsyat. Sampah seperti ini mengotori hati dan membuat pemiliknya berbau “busuk”
kendati memakai minyak wangi berbotol-botol. Contoh sampah jenis ini adalah,
sifat iri, dengki, sombong, pamer, pemarah atau putus asa. Sampah seperti ini disebut
juga penyakit hati. Sayangnya, orang kadang tak menyadari bahwa ia memiliki
sampah seperti ini di hatinya. Wong, sampah yang terlihat saja tak mudah dirasakan
ya?
Makanya, saya membuat judul di atas.
Harapannya
sih, para calon yang berlaga di Pilkada atau Pilpres sekalipun bisa aware
dengan problem sampah ini, baik sampah fisik atau sampah non fisik. Ngak
usah muluk-muluk deh dengan program muluk-muluk. Misal, akan menyerap aspirasi
masyarakat, meningkatkan ekonomi dan seabrek janji lain. Janjikan saja bahwa sungai,
got dan lingkungan akan bersih dan harum. Janjikan ketika kampanye sebuah
program masuk akal bahwa got kita akan lebih bersih dan tertata bersih melebihi
jaman Belanda dan Jepang. Dan, janjikan bahwa sampah-sampah di hati masyarakat
juga bisa hilang. Berat ya…?
Kalau ini
tidak berhasil, maka siap-siaplah kita masyarakat akan berguman”. Wah, Indonesia
sudah merdeka lebih dari 70 tahun namun kok Jaman Belanda lebih bersih ya..?.
Atau, ketika Pilkada tidak berhasil membersihkan sampah-sampah di hati masyarakat, maka itu namanya Pilkada yang menyisakan kekotoran dan sampah, bukan membersihkan, iya kan?
Atau, ketika Pilkada tidak berhasil membersihkan sampah-sampah di hati masyarakat, maka itu namanya Pilkada yang menyisakan kekotoran dan sampah, bukan membersihkan, iya kan?
Atau,
jangan-jangan pilkada memang tidak bermaksud membersihkan sampah ini? Jangan-jangan,
isu sampah memang tidak seksi dan menarik? Atau membersihkan sampah itu sulit dan memiliki konsekuensi berat, terlebih membersihkan sampah di hati?.
So, siapa yang berani menagih janji calon di Pilkada untuk membersihkan sampah di negeri ini? Baik sampah fisik maupun sampah di hati?
So, siapa yang berani menagih janji calon di Pilkada untuk membersihkan sampah di negeri ini? Baik sampah fisik maupun sampah di hati?
Wallahu
a’lam.

0 Comments